Browsed by
Month: March 2014

Doa dan Renungan Jalan Salib (Kolaborasi)

Doa dan Renungan Jalan Salib (Kolaborasi)

Jalansalib

Kami akan mepersembahkan Doa dan Renungan Jalan Salib secara Kolaborasi yang akan di persembahkan oleh para Nara sumber Lubukhati (para Romo, Suster dan Frater), pada tanggal 14 Maret 2014.

Romo Antonius Galih Aryanto, PR
Romo Lusius Nimu , SSCC
Romo Aluysius Maria Ardi Handojoseno, SJ Alm
Romo FX. Sulistya Heru Prabawa, O.Carm
Romo Aloysius Didik Setiyawan CM
Frater Samuel Nasada OFM
Suster The Daughters of Carmel (DOC)

Puasa

Puasa

fasting

Bacaan I : Yesaya 58: 1-9a
Bacaan Injil : Mateus 9:14-15

“Romo, kenapa ya puasa kita kok rasanya ringan sekali, hanya Rabu Abu dan Jumat Agung plus pantang hari Jumat selama masa Pra Paskah? Saya jadi terdorong untuk nambah sendiri, puasa 40 hari juga…”

Murid-murid Yesus dulu mungkin juga kadang merasa ingin mengungkapkan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan murid-murid Yohanes dalam Injil hari ini: Kenapa kami tidak berpuasa seperti orang-orang Farisi dan murid-murid Yohanes? Benar apa yang dinyatakan Yesus: waktunya akan datang ketika Sang Mempelai diambil dari tengah-tengah mereka, mereka akan berpuasa dan kita meneruskannya pula.

Mengapa kita berpuasa? Jawaban pertama dan utama kiranya karena Yesus Sang Guru kita memberi contoh, berpuasa dan berdoa semasa hidupNya di dunia. Dia berpuasa 40 hari 40 malam dalam persiapan karya pelayanannya. Saat menyembuhkan seorang anak laki-laki yang kerasukan setan dan pada murid tak mampu mengusir setan itu, Ia berpesan: Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa (Mat 17:21). Jawaban kedua, karena tradisi: Para Rasul juga berpuasa dan berdoa dalam tugas pelayanannya (Kis 13:2-3). Dokumen Gereja dari abad pertama, Didache yang juga dikenal sebagai “Pengajaran Duabelas Rasul” memberi petunjuk pada umat: “Puasamu haruslah berbeda dengan mereka yang hipokrit. Mereka berpuasa setiap Senin dan Kamis; tetapi kamu haruslah berpuasa Rabu dan Jumat” (Didache 8:1). Orang-orang Yahudi berpuasa Senin dan Kamis, pengikut Kristus Rabu -hari saat Yesus dikhianati- dan Jumat -hari Penyaliban dan wafatNya.

Masa puasa 40 hari sebelum Paskah menemukan bentuknya pada abad ke 4, tetapi dijalani dengan cara yang beragam di tempat yang berbeda. Ada yang sepenuhnya berpantang dari segala benda hidup, sebagian hanya makan ikan, ada yang pantang telur dan segala jenis buah-buahan, ada yang hanya makan roti kering saja, sebagian berpuasa hingga “jam ke sembilan” (3pm).

Bentuk yang beragam itu, yang “diseragamkan” dalam Hukum Kanonik 1983 dalam bentuk yang kita kenal sekarang, hendak melatih dalam diri kita rasa syukur, “bahkan atas sekerat kecil roti”. Bentuk-bentuk itu menjadi juga wujud solidaritas pada orang-miskin yang serba kekurangan. Semua itu juga adalah sarana untuk melawan nafsu duniawi dan untuk membuka diri pada pembaharuan Roh Kudus.

Akhirnya, seperti pesan Yesaya, puasa yang dikehendaki Tuhan selalu punya dimensi sosial, untuk mewujudnyatakan iman dalam kasih. St Yohanes Krisostomus, pewarta ulung dari Yunani mewartakan pentingnya “berpuasa dengan hati” 1600 tahun yang lalu, dan gemanya masih menohok bahkan untuk jaman kita ini:

Apakah kamu berpuasa? Buktikan dengan amal kasih. Jika engkau melihat seseorang yang berkekurangan, berbelas kasihlah pada mereka. Jika kamu melihat teman mendapat penghargaan, jangan iri padanya. Karena puasa sejati tidak hanya soal mulut. Kamu haru berpuasa dengan matamu, telingamu, kakimu, tanganmu, dan semua anggota tubuhmu.

Kamu berpuasa dengan tanganmu dengan menjaga kemurnian mereka dari melakukan ketamakan. Kamu berpuasa dengan kakimu dengan tidak pergi menonton pertunjukan yang terlarang. Kamu berpuasa dengan matamu dengan menahan diri untuk tidak melihat gambar-gambar yang tak senonoh. Bodoh sekali tidak makan daging dan makanan lain karena puasa tetapi memberi makan matamu dengan hal-hal terlarang.

Kamu juga harus berpuasa dengan telingamu. Jangan mendengarkan mereka yang berbicara kejelekan atau memfitnah orang lain… khususnya menyangkut rumor, gossip, yang dibicarakan untuk melukai orang lain.

Selain berpuasa dengan mulutmu untuk tidak makan makanan tertentu, mulutmu juga harus berpuasa dari bahasa yang kasar atau dari dusta terhadap orang lain. Apa bagusnya jika kamu tidak makan daging tetapi engkau menggigit dan melahap sesamamu?

Pilihan

Pilihan

Bacaan I      : Ulangan 30:15-20
Bacaan Injil : Lukas 9:22-25

Masih ingat lagu jadul Madu dan Racun yang aslinya dilantunkan Arie Wibowo dan group Bill & Brod tahun 1985? Lagu konyol itu meledak mungkin karena nadanya yang ringan menggoyang ditambah syair yang sok puitis tapi sekaligus populis, terasa dekat dan akrab di telinga dan di hati. Mungkin karena kita suka misteri, kita juga “turut berdebar-debar” menebak apa yang akan diberikan oleh Sang Gadis manja nan cantik dan manis (herannya lagu ini juga disukai kaum hawa… mungkin alih-alih merasakan berdebar-debar, senang membayangkan membuat para pria penasaran). Mungkin juga karena lagu ini menyentuh salah satu kenyataan hidup yang mendasar: Hidup adalah serangkaian pilihan.

Memasuki masa prapaskah kita diingatkan akan anugerah terbesar Allah bagi kita manusia: kebebasan untuk memilih. Kita mengingat kembali kejatuhan-kejatuhan kita karena salah pilih, termasuk “template” kisah kejatuhan Adam dan Hawa. Kita mengingat kembali bahwa setiap pilihan ada konsekuensinya, seperti lokomotif kereta api yang akan menyeret gerbong-gerbong lainnya. Kita ingat bagaimana kita memilih meninggalkan tanah air menuju “tanah terjanji” kita masing-masing. Kita mengingat penyertaanNya dalam jatuh bangun perjuangan kita. Kita mengingat pemberontakan2 kita tapi juga kuasa kasih dan pengampunanNya yang membawa kita kembali ke “rahim”Nya. Kita mengingat pilihan-pilihan tepat dengan segala resikonya yang membawa pada damai dan sukacita yang berlimpah. Kita mengingat bahwa pada akhirnya, kita mau memilih kehidupan, yang kita rayakan dalam puncak perayaan iman Kristiani sepanjang tahun: Paskah.

Tidak seperti Sang Gadis-nya Arie Wibowo yang menyembunyikan madu dan racun serta memilihkan salah satunya untuk sang pria, Allah membentangkan secara terbuka di hadapan Musa dan kita semua: di satu sisi berkat dan kehidupan, di sisi lain kutuk dan kematian. Kita tahu Allah ingin kita memilih kehidupan, tetapi kita diberinya kebebasan mengambil apa yang kita mau. Kalau kita mau pilih kehidupan, kita harus menjawab ya pada undangan Yesus: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Memilih Yesus berarti berani berpuasa-bermati raga dan mendisiplinkan jiwa, meninggalkan kelekatan-kelekatan yang menjauhkan dari sesama dan Tuhan, berani menanggung susah payah bahkan penderitaan demi kesejahteraan sesama termasuk lewat beramal kasih, dan berani meluangkan waktu untuk diam mengikut Dia dekat-dekat lewat dan dalam kekhusyukan doa.

Hari ini, kalau kita dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup, mari kita pertanyakan: apakah ada madu dan racun dibaliknya, ada berkat dan kutuk, ada kehidupan dan kematian? Jika ya, semoga dengan rahmat Allah, kita sanggup konsisten memilih:  kehidupan.

 

Translate »