Kalpataru
Bacaan 1 : 1Petrus 1:10-16
Bacaan Injil : Markus 10:28-31
Pernah mendengar kata Kalpataru? Mungkin yang terbayang adalah para pejuang kelestarian lingkungan hidup, karena demikianlah kata itu disematkan sebagai nama penghargaan pada mereka oleh pemerintah Indonesia. Kata ini pada awal mulanya merujuk pada mitologi Hindu tentang pohon kehidupan yang mengabulkan segala permintaan manusia. Persoalannya, manusia sering mengajukan permintaan yang salah.
Dalam salah satu perumpamaan oleh Ramakrishna, diceritakan sekelompok anak meminta permen dan mainan pada sang Kalpataru. Mereka mendapatkan yang mereka inginkan, tetapi juga gigi mereka jadi rusak dan mereka juga akhirnya bosan dengan mainan mereka. Mereka minta lebih banyak mainan dan permen, berpikir bahwa itu akan membuat mereka bahagia, tetapi tidak juga. Saat mereka bertumbuh dewasa, mereka minta hal lain: kekayaan, ketenaran dan kekuasaan. Keinginan mereka terkabul. Tapi tak lama kemudian mereka menyadari, saat kekayaan bertambah-tambah, datang juga kecemasan, saat ketenaran melambung, kritik dan iri hati muncul, saat kekuasaan bertambah berlipat pula jumlah para musuh. Akhirnya saat mereka menjadi renta dan letih, mereka meminta kematian. Keinginan mereka terkabul. Persoalannya, mereka lahir kembali di bawah pohon yang sama dan karenanya nasib mereka terulang kembali.
Dalam tradisi Hindu, kisah ini merupakan salah satu penggambaran karma. Pemecahan masalahnya: melatih dan memurnikan diri agar lepas bebas dari kerinduan-kerinduan duniawi dan membangun pengharapan yang benar berpusat pada kebaikan orang lain. Sebagai orang Kristiani, kita tidak mempercayai karma. Kita juga tidak percaya bahwa kita bisa menyelenggarakan keselamatan sendiri tanpa campur tangan ilahi dalam diri Kristus. Namun kiranya tetap ada kebijaksanaan universal yang kita bisa pelajari sejalan dengan ajaran Kristus: cari dahulu kebenaran dan kebaikan (cf kerajaan Allah), maka yang lain akan ditambahkan berlipat ganda.
Pikiran kita bukanlah sebuah Kalpataru yang 100% akan menentukan nasib kita. Tetapi benar, Tuhan menggunakan apa yang kita punya termasuk budi kita, untuk membawa kita pada keselamatan dan kebahagiaan sejati. Kalau kita melatih budi kita untuk berpikir yang bersih, benar dan mulia, kiranya kita akan lebih tersedia untuk mendengar dan melaksanakan SabdaNya secara lebih sungguh. Melalui St Petrus dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajar kita untuk percaya akan Penyelenggaraan Ilahi yang menjamin kecukupan dan kebahagian kita, sejauh kita sungguh memberikan diri padaNya. Melalui Petrus pula, dalam bacaan pertama hari ini, Tuhan memberi arah perjalanan, arah pengharapan, arah permintaan yang benar: mohonlah kekudusan, sebagaimana Dia yang memanggil kita kudus adanya. Maka kamu akan benar-benar hidup.
