Abu

Bacaan I : Yoel 2:12-18
Bacaan II : 2 Korintus 5:20-6:2
Bacaan Injil : Matius 6:1-6, 16:18
Tim adalah seorang manajer restoran di Amerika. Suatu hari dia menerima pekerja baru, seorang imigran baru saja pindah ke US dengan penguasaan bahasa Inggris dan budaya baru yang agak terbatas. Tim menjelaskan peraturan liburan, cuti sakit, asuransi kesehatan. Kemudian dia juga menjelaskan tentang asuransi jiwa. Dia terangkan bawa jika Sang Karyawan meninggal, keluarganya akan mendapatkan $23.000.
Dengan wajah terkejut dan pucat, Sang Karyawan menyahut: “No, no, Tim!”
Tim pikir, dia tidak cukup terang dalam penjelasannya, maka diulanginya lagi, “Look, if you die, your family will get $25.000”.
Lagi, Sang Karyawan dengan wajah keruh menolak, “No. I don’t want it”
“Why not?” tanya Tim keheranan. “If you die, this will be good for your family.”
“But Tim,” seru Sang Karyawan, “I don’t want to die!!!”
Hari ini, saat abu ditorehkan di dahi kita, kita mendengar Sabda Tuhan dibisikkan “Ingatlah, manusia berasal dari abu dan akan kembali kepada abu” (cf. Kejadian 3:19. Versi alternative menekankan pada pertobatan: Bertobatlah dan percayalah pada Injil). Abu membawa kesadaran nafas kehidupan yang dihembuskan Allah dalam raga kita sewaktu-waktu akan dicabut. Abu mengajak kita mengakui kerapuhan kita, yang hadir serupa debu saja di jagad raya dan di dalam untaian sejarah panjang alam ciptaan yang tak terbayang ujung pangkalnya. Abu, saudara-saudaraku, selain mengajak kita mengosongkan dan merendahkan diri rebah sampai ke tanah, juga menyatakan luar biasanya kuasa kasih Ilahi yang memberi arti pada setitik Adam yang enggan untuk mati (adamah=tanah, sebagaimana ‘human’ punya akar kata sama dengan ‘humus’).
Pada dasarnya kita semua menolak untuk mati. Bahkan para martir dan pelaku jihad, juga orang-orang beriman kuat yang menyatakan siap atau bahkan merindukan sewaktu-waktu dipanggil Tuhan, menyediakan diri memeluk kematian karena keyakinan adanya hidup yang berkelanjutan bahkan lebih mulia. Persoalannya, kemuliaan yang diajarkan Tuhan untuk kita dambakan, bukanlah jenis kemuliaan dan kenikmatan untuk diri sendiri. Dalam hidup sehari-hari pun kita sering mengalami, kebahagiaan akan berlipat-lipat ganda jika muncul dari kesejahteraan yang dinikmati dan dirayakan bersama. Dan uniknya, kesadaran akan kematian tak jarang membuat kita lebih menghargai kehidupan, dan karenanya mengusahakan hidup yang lebih hidup dengan lebih memberi perhatian, lebih keluar dari diri sendiri, lebih berani mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain.
Hari ini, pandanglah wajah setiap saudara kita yang menerima abu bersama kita. Di hadapan Tuhan, kita semua sama debunya sekaligus sama mulianya. Di hadapan Tuhan, kita semua dipanggil mengikuti jalanNya, jalan kebenaran kebaikan dan keindahan, iman harapan dan kasih. Ke hadapan Tuhan, kita semua akan dipanggil kembali. Kita syukuri kita masih punya waktu merayakan kehidupan bersama orang-orang yang kita cintai, dan masih punya waktu untuk memberikan sebagian harta, bakat kemampuan, perhatian dan cinta kasih, pada mereka yang membutuhkan. Waktu ini, lebih dari waktu-waktu lain, adalah waktunya untuk berdoa (pada Tuhan), berpuasa (melatih pengendalian diri sendiri), dan beramal kasih (pada sesama). Selamat memasuki masa pra-paskah!
Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah
supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk,
supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah,
dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
(Yesaya 58:6-7)
