Browsed by
Author: admin

Renungan: Kesederhanaan yang Membebaskan

Renungan: Kesederhanaan yang Membebaskan


Romo Agung Wahyudianto O.Carm

(Refleksi berdasarkan Matius 1:16,18-21,24a Pesta santo Yoseph, 19 maret 2025)

Di paroki tempat saya bertugas di Peru, pastor paroki kami bernama Jorge Villegas, tetapi hampir semua orang memanggilnya Padre Pepe. Nama ini terasa sangat cocok untuknya, bukan hanya karena tradisi di Peru di mana banyak José atau Jorge dipanggil “Pepe”, tetapi juga karena ia benar-benar mencerminkan semangat Santo Yosef—hidup dalam kesederhanaan yang tulus. Pakaian yang ia kenakan hampir tidak pernah berubah, seolah-olah ia hanya memiliki dua atau tiga setel yang dipakai bergantian. Kemana-mana, ia lebih memilih berjalan kaki atau naik kendaraan umum daripada mencari kenyamanan dengan kendaraan pribadi. Hidupmya jauh dari kontaminasi , tiktok dan social media lain yang akhir akhir ini juga dimintai para imam. Tidak ada kemewahan dalam hidupnya, tetapi justru dalam kesederhanaannya itu, ada sesuatu yang dalam, sesuatu yang memberi ketenangan bagi siapa pun yang bertemu dengannya.

Dalam Injil hari ini, kita melihat bagaimana Santo Yosef menghadapi kenyataan yang sulit dipahami. Maria, tunangannya, mengandung oleh Roh Kudus. Dalam kebingungan dan mungkin kegelisahan, Yosef tidak bertindak dengan tergesa-gesa. Ia tidak menuntut penjelasan lebih lanjut atau mencoba mengendalikan situasi. Sebaliknya, ia diam, mendengarkan, dan akhirnya menerima. Ia tidak memerlukan kepastian absolut untuk melangkah. Dalam keterbukaannya, ia membiarkan hidup mengalir sebagaimana mestinya.

Santo Yosef, seperti Padre Pepe, menunjukkan bahwa kebebasan sejati tidak datang dari memiliki banyak pilihan, tetapi dari kesediaan untuk menerima apa yang ada tanpa menuntut lebih. Dunia modern sering mengajarkan bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin kita merasa aman. Tetapi sering kali, justru dalam kesederhanaan, kita menemukan sesuatu yang lebih mendalam—kedamaian yang tidak tergantung pada benda atau status, tetapi pada kesadaran bahwa kita sudah cukup.

Di Peru, setiap 19 Maret, mereka yang bernama José, Josefina, atau Pepe menerima ucapan selamat, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya karena mereka memiliki nama itu. Ini mengingatkan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak perlu diperjuangkan atau dibuktikan. Seperti nama yang diberikan tanpa usaha, keberhargaan kita juga tidak tergantung pada pencapaian. Santo Yosef mengajarkan bahwa hidup tidak perlu selalu dikendalikan, karena dalam keheningan dan penerimaan, ada kebebasan yang sejati.

Mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita benar-benar menjalani hidup, atau masih sibuk mempertahankan sesuatu yang tidak perlu? Seberapa sering kita merasa harus terus membuktikan diri, padahal sesungguhnya kita sudah cukup? Yosef tidak mencari pengakuan, tidak mengejar kepastian yang sempurna, tetapi justru dalam kesederhanaannya, ia menemukan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Seperti Padre Pepe yang menjalani hari-harinya dengan ringan, tanpa banyak beban atau kepentingan pribadi, kita pun diajak untuk berjalan dalam hidup dengan lebih sederhana. Tidak berarti kita harus memiliki sedikit barang atau membatasi diri dari kenyamanan, tetapi lebih kepada sikap batin—bersedia menerima apa adanya, tanpa terus-menerus menuntut lebih. Sebab dalam kesederhanaan itulah, kita menemukan bahwa segala yang kita cari sebenarnya sudah ada di sini.

Berintegritas

Berintegritas

RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm

Mat 23:1-12

Selasa, 18 Maret 2025

Kita tentu tidak asing dengan kata “Integritas”. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin  “integer” yang artinya utuh dan lengkap. Integritas adalah sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh antara yang dikatakan dengan yang dilakukan. Integitas juga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Dengan kata lain, berintegritas berarti bertindak secara konsisten antara apa yang dikatakan dengan tingkah lakunya sesuai nilai-nilai yang dianut entah kode etik di tempat kerja, nilai masyarakat atau nilai moral pribadi. Integritas mencerminkan seseorang yang transparan, bertanggungjawab, dan objektif.

Yesus mengajar dan mengajak para murid dan siapapun untuk menjadi pribadi yang berintegitas. Pengajaran-Nya dimulai dengan peringatan penting, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu lakukanlah dan peliharalalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka” [Mat 23:2-3]. Peringatan tersebut menegaskan bawa para ahli Taurat dan orang Farisi tidak berintegritas. Sebab mereka mengajarkan tetapi tidak melaksanakan apa yang mereka ajarkan. Yesus mengecam sikap mereka yang suka menindas dan memperbudak orang lain demi keuntungan dan kepentingan mereka sendiri, ” Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.” [Mat 23:23-24]. Selanjutnya Ia meminta para murid dan mereka yang mendengarkan pengajaran-Nya agar hidup dalam semangat kasih, adil dan bersaudara, “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga” [Mat 23:8-9].

Bagi Yesus kehormatan, kebesaran seseorang tidak terletak pada kuasa atau jabatan, melainkan pada pelayanan yang tulus, yang dilandaskan pada sikap rendah hati sebagaimana difirmankan, “Siapa saja yang  terbesar di antara kamu haruslah jadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan dirinya, akan direndahkan, dan siapa saja yang merendahkan dirinya, akan ditinggikan.” [Mat 23:11-12]. Semoga kita ditemukan Allah sebagai pribadi-pribadi berintegritas, yang melayani sesama dengan tulus dan rendah hati.  

Senin Pekan II Prapaskah

Senin Pekan II Prapaskah

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm


17 Maret 2025
Dan 9: 4-10 + Mzm 79 + Luk 6: 36-38

Lectio
Pada waktu bersabdalah Yesus: ‘hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu’.

Meditatio
Yesus meminta para muridNya murah hati seperti Bapa di surga. Minimal tidak melakukan segala sesuatu, yang tidak ingin diperbuat orang lain kepada kita, para muridNya. ‘Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu’. Malahan hendaknya para murid mendahului berbuat baik. ‘Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni’. Tak jarang memang dalam hidup bersama berlaku hokum ganti rugi. Aku akan datang ke pestanya, agar nanti dia pun datang ke pesta yang hendak kuadakan. Sekali lagi kita tidak melakukan segala sesuatu, yang tidak ingin diperbuat orang lain kepada kita. Hendaknya kita tidak melakukan segala yang baik, bahkan yang jagat, guna membalas kebaikan atau kejahatan seseorang
Malahan lebih baik lagi, mendahului orang lain dalam memberi. ‘Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu’. Baiklah kalau kita latih pada masa Prapaskah ini.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau benar-benar menghendaki kami menjadi orang-orang yang berguna bagi sesama. Bantulah kami selalu agar kami berani mendahului berbuat baik kepada sesama kami. Amin.

Contemplatio
‘Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu’.

Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Translate »