Berintegritas
RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm
Mat 23:1-12
Selasa, 18 Maret 2025
Kita tentu tidak asing dengan kata “Integritas”. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin “integer” yang artinya utuh dan lengkap. Integritas adalah sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh antara yang dikatakan dengan yang dilakukan. Integitas juga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Dengan kata lain, berintegritas berarti bertindak secara konsisten antara apa yang dikatakan dengan tingkah lakunya sesuai nilai-nilai yang dianut entah kode etik di tempat kerja, nilai masyarakat atau nilai moral pribadi. Integritas mencerminkan seseorang yang transparan, bertanggungjawab, dan objektif.
Yesus mengajar dan mengajak para murid dan siapapun untuk menjadi pribadi yang berintegitas. Pengajaran-Nya dimulai dengan peringatan penting, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu lakukanlah dan peliharalalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka” [Mat 23:2-3]. Peringatan tersebut menegaskan bawa para ahli Taurat dan orang Farisi tidak berintegritas. Sebab mereka mengajarkan tetapi tidak melaksanakan apa yang mereka ajarkan. Yesus mengecam sikap mereka yang suka menindas dan memperbudak orang lain demi keuntungan dan kepentingan mereka sendiri, ” Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.” [Mat 23:23-24]. Selanjutnya Ia meminta para murid dan mereka yang mendengarkan pengajaran-Nya agar hidup dalam semangat kasih, adil dan bersaudara, “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga” [Mat 23:8-9].
Bagi Yesus kehormatan, kebesaran seseorang tidak terletak pada kuasa atau jabatan, melainkan pada pelayanan yang tulus, yang dilandaskan pada sikap rendah hati sebagaimana difirmankan, “Siapa saja yang terbesar di antara kamu haruslah jadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan dirinya, akan direndahkan, dan siapa saja yang merendahkan dirinya, akan ditinggikan.” [Mat 23:11-12]. Semoga kita ditemukan Allah sebagai pribadi-pribadi berintegritas, yang melayani sesama dengan tulus dan rendah hati.