Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Minggu Biasa XIVA

Minggu Biasa XIVA

(Za 9:9-10; Rom 8:9.11-13; Mat 11:25-30)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan makna mengikuti Yesus. Untuk mengikuti-Nya kita harus sungguh-sungguh total, tanpa syarat, tanpa embel-embel lain, hanya pasrah dan setia memikul tugas dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita. Pada minggu ini kita merenungkan makna menjadi yang lemah lembut dan rendah hati. Untuk memulai permenungan, kita mengawalinya dengan satu cerita kecil. Pada suatu hari Kaisar dari Cina berjalan. Ia bertemu dengan satu keluarga yang hidup dalam persekutuan yang erat, damai dan bahagia. Ia bertanya kepada Bapak dari keluarga tersebut: “Apa resep untuk satu hidup keluarga yang bahagia”. Si Bapak tadi menunjuk kepada si Kakek. Tapi si Kakek tidak menjawab melainkan meminta secarik kertas dan alat tulis. Sesudah menulis dia menyerahkannya kepada sang Kaisar sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam dan berkata, “Inilah resepnya”. Di atas kertas itu sang Kaisar membaca sebuah kalimat ini: “Hati yang lembut dan rendah!”.
Saudara-saudariku terkasih, lembut dan rendah hati itulah yang menjadi kunci kebahagiaan dalam keluarga dan komunitas kita. Dalam Injil hari ini kita mendengar Sabda Yesus: “Belajarlah daripada-Ku, sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati!” (ay.30). Bagi kita orang Kristen, Sabda Yesus ini penting untuk dilaksanakan. Yesus menekankan dua kebajikan ini: Lemah lembut dan rendah hati.
Kedua kebajikan ini mengungkapkan diri sebagai berikut: seorang yang rendah hati: tidak menonjolkan diri, tidak pernah mengucapkan suatu pujian terhadap dirinya, malahan kalau dipuji wajahnya menjadi merah, selalu mencari tempat duduk paling belakang atau yang terakhir dan selalu merasa diri sebagai orang yang tak layak dan berdosa. Sedangkan orang yang lemah lembut atau baik hati: selalu menghiasi wajahnya dengan senyum yang ramah, tidak kasar dan senantiasa menjaga sopan-santun dalam pembicaraan.
Namun, dipihak lain, kebajikan-kebajikan ini gampang dimanipulasikan untuk dijadikan kedok atau topeng untuk menyembunyikan sesuatu yang lebih buruk dari kenyataan sesungguhnya.
Misalkan:

  • Di balik senyum yang ramah ada sikap yang kasar dan sinis.
  • Seseorang yang selalu duduk di belakang, mungkin adalah seseorang yang suka dihormati.
  • Seseorang yang mengaku dirinya tak layak dan hina, tetapi bila hal itu dikatakan orang lain tentang dirinya, dia akan naik darah dan menjadi marah.
    Maka dasar dari sikap lembut dan rendah hati adalah sikap menerima diri dan tahu diri. Artinya: orang berani menerima sisi hidup yang gelap dan terang, bakat, kemampuan, dan kekurangannya, kelemahan dan kekuatannya. Orang membanggakan kehebatannya, tetapi tidak menutup mata terhadap kelemahan atau merasa hina karena kelemahannya. Kalau seseorang mampu menerima diri dan tahu diri, di situlah sebenarnya dia menciptakan pembaharuan untuk segala hidupnya.
    Sikap yang sama juga ditunjukkan terhadap sesama. Seseorang yang lemah lembut dan rendah hati bisa menerima orang lain apa adanya. Ia tidak segan-segan memuji dan menyanjung sesamanya. Ia juga tidak menolak kekurangan sesamanya. Sikap seperti inilah yang perlu kita pelajari dari Yesus. “Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati”, demikian Yesus mengundang kita semua.
    Yesus berani mengundang kita untuk belajar pada-Nya karena Dia adalah Guru yang mengajar lewat sikap dan tingkah laku. Terhadap kedua belas rasul-Nya, Yesus membiarkan mereka datang masing-masing dengan kelemahan dan kebaikannya. Ada Petrus yang sombong tapi pengecut, Yohanes yang sangat hati-hati, Natanael yang berbicara terbuka tanpa basa-basi, dan Yudas yang tak dapat dipercaya dan mesti selalu diperhitungkan.
    Lihat juga perlakuan-Nya terhadap Zakheus. Ia tidak menuntut Zakheus untuk mengubah dirinya, sebagai prasyarat untuk kunjungan-Nya. Yesus tidak memerintahkan Zakheus untuk mengembalikan dulu semua yang ia peroleh. Yesus lebih dahulu
    mengunjungi dia di rumahnya, “Hari ini Aku harus menjadi tamu di rumahmu”. Kunjungan tersebut jelas merupakan tanda penerimaan Yesus terhadap Zakheus, si pemungut pajak itu. Justru karena penerimaan dan pengakuan Yesus seperti itu, Zakheus terharu dan berkata: “Tuhan, saya akan mengembalikan segala yang kuperoleh secara tak wajar”.
    Perlakuan Yesus yang kurang lebih sama dapat kita temukan juga pada diri wanita yang kedapatan berzinah dan yang akan dirajam. Yesus menerima wanita itu apa adanya, sesudah itu baru Yesus memberi nasihat agar wanita tersebut meninggalkan cara hidupnya.
    Coba lihat! Yesus berjumpa dengan manusia tanpa terlebih dahulu mengajukan prasyarat! Ia langsung menerima dan mengakui mereka tanpa praduga dan prasangka.
    Kalau begitu, belajarlah dari Yesus karena Ia lemah lembut dan rendah hati. Hanya dengan memiliki hati yang lembut dan rendah masing-masing kita bisa menerima diri dan saling menerima sesama sebagaimana dia adanya utuh dengan kebaikan maupun kekurangan, dengan segala sisi terang maupun sisi gelap kehidupannya. Hanya dengan hati seperti itu kita tidak mengawali hidup bersama dengan mengajukan prasyarat, tetapi dengan menerima dan mencintai sesama sebagaimana adanya. Dalam suasana hati yang lembut dan rendah setiap orang akan saling mengubah diri menuju persekutuan yang lebih serasi untuk saling membahagiakan. Mari kita saling memberi resep ini kepada sesama: lemah lembut dan rendah hati, niscaya hidup kita akan dipenuhi dengan kebahagiaan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Manusia adalah mahkota ciptaan

Manusia adalah mahkota ciptaan

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Mat 8:28-34

Rabu 1 Juli 2026

Paus Leo XIV mengeluarkan ensiklik “Magnifica Humanitas”. Beliau mengingatlan kita bahwa Umat manusia, yang diciptakan oleh Allah dalam segala keagungannya. Dalam Tuhan kita, Yesus Kristus, kemanusiaan dalam keagungannya menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup, membuka jalan bagi kita masing-masing untuk bertumbuh menuju kepenuhan. Tentang keagungan atau keluhuran manusia tampak jelas dalam warta hari ini.

Seorang yang kerasukan setan, dikuasai roh jahat adalah orang yang kehilangan martabat. Kehadiran Yesus, Sang Putra Allah menggetarkan kuasa jahat, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” [Mat 8:29]. Dalam kepanikannya, kuasa jahat menghardik, mengintimidasi Yesus. Namun Yesus tidak gentar sedikitpun. Karena merasa terdesak, maka kuasa jahat itu berkata kepada Yesus, “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu” [Mat 8:31]. Sungguh luar biasa, rentetan kata dari setan, oleh Yesus dimentahkan hanya dengan satu kata, “pergilah”. Setan-setan itupun pergi. Kenyataan ini menegaskan bahwa kuasa Yesus sungguh luar biasa, sabda-Nya penuh daya.

Kuasa Yesus yang luar biasa ini justru menjadi sumber penolakkan-Nya. Orang Gerada sudah disibukkan dengan dua orang yang kerasukan setan. Dua orang yang kerasukan setan sembuh, datang lagi orang yang lebih hebat. Jika orang ini dibiarkan, maka makin hebat kerugian material mereka. Maka mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Untuk kesekian kalinya, Yesus tidak dimengerti. Inti warta hari ini, Yesus ingin mengembalikan martabat manusia yang telah dikuasai setan, dikuasai dosa. Manusia diciptakan segambar dengan Allah, sebagaimana difirmankan, “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” [Kej 1:27]. Allah memahkotai manusia dengan kemualiaan dan hormat, “Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” [Mzm 8:6]. Semoga kita semakin menyadari martabat kita di hadapan Allah, dan mau bekerjasama dengan kuasa-Nya membangun dunia yang lebih adil dan damai.

RENUNGAN: 30 JUNI 2026

RENUNGAN: 30 JUNI 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Matius 8:23-27

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Setiap pernah mengalami badai dalam hidup. Ada badai penyakit, kesulitan ekonomi, konflik dalam keluarga, kehilangan orang yang kita cintai, kegagalan dalam pekerjaan, atau kecemasan akan masa depan. Semua itu dapat mengguncang hati kita seperti ombak yang mengguncang perahu para murid.

Dalam Injil hari ini, kita mendengar bahwa para murid sedang berada dalam sebuah perahu bersama Yesus. Tiba-tiba datang angin ribut yang sangat dahsyat sehingga perahu hampir tenggelam. Menariknya, Yesus justru sedang tidur. Para murid panik. Mereka membangunkan Yesus sambil berseru, “Tuhan, tolonglah, kita binasa!” Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa badai kehidupan adalah bagian dari perjalanan iman. Mengikuti Kristus bukan berarti hidup akan selalu tenang. Para murid sedang bersama Yesus, bahkan Yesus ada di dalam perahu mereka, tetapi badai tetap datang. Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa menjadi orang beriman tidak membuat kita kebal terhadap penderitaan.

Kadang-kadang kita berpikir, “Saya sudah rajin berdoa, sudah mengikuti Misa, mengapa masalah terus datang?” Injil hari ini menjawab pertanyaan itu. Kesulitan bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Justru dalam saat-saat seperti itulah iman kita dimurnikan. Seperti emas dimurnikan dalam api, demikian pula iman kita bertumbuh ketika diuji. Di sinilah kita belajar bahwa iman berarti tetap percaya meskipun kita belum melihat jalan keluar. Iman bukanlah keyakinan bahwa hidup akan selalu mudah. Iman adalah keberanian untuk tetap berkata, “Tuhan, aku percaya kepada-Mu,” sekalipun situasi belum berubah. Sering kali kita baru merasa tenang jika masalah sudah selesai. Tetapi Yesus mengajak kita memiliki ketenangan bahkan sebelum badai reda, karena kita tahu siapa yang ada di dalam perahu kita. Yang menyelamatkan para murid bukanlah kehebatan mereka mendayung, melainkan kehadiran Yesus sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin doa-doa kita terasa belum dijawab. Mungkin kita sudah lama memohon kesembuhan, pekerjaan, atau perdamaian dalam keluarga, tetapi belum melihat hasilnya. Pada saat itulah iman diuji. Apakah kita hanya percaya ketika doa dikabulkan, atau kita tetap percaya karena Tuhan mengetahui apa yang terbaik bagi kita?

Saudara-saudari,

Injil hari ini mengingatkan kita bahwa menjadi murid Kristus berarti belajar mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Menjadi murid bukan sekadar mengenal ajaran Yesus atau hadir dalam perayaan Ekaristi. Menjadi murid berarti menyerahkan hidup kita kepada-Nya setiap hari. Penyerahan diri itu bukan sikap pasif. Kita tetap bekerja, berusaha, mencari solusi, dan bertanggung jawab atas tugas-tugas kita. Tetapi kita melakukannya dengan keyakinan bahwa Tuhan berjalan bersama kita. Kita mengandalkan rahmat-Nya lebih daripada kekuatan kita sendiri. Ketika kita mempercayakan hidup kepada Kristus, badai mungkin tidak langsung berhenti. Namun hati kita akan menjadi lebih kuat. Kita belajar melihat bahwa setiap kesulitan dapat menjadi kesempatan untuk semakin dekat dengan Tuhan, semakin rendah hati, dan semakin mengasihi sesama. Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri: badai apa yang sedang saya hadapi saat ini? Apakah saya lebih banyak dikuasai rasa takut, atau saya sungguh percaya bahwa Yesus ada bersama saya? Semoga setiap kali kita menghadapi badai kehidupan, kita tidak hanya berseru, “Tuhan, tolonglah aku,” tetapi juga mampu berkata dengan penuh keyakinan, “Tuhan, aku percaya. Sekalipun ombak besar menerpa hidupku, aku tahu Engkau tidak pernah meninggalkanku.”

Saudara-saudari terkasih.

Mar kita memohon rahmat agar hati kita semakin teguh dalam iman, sehingga dalam setiap badai kehidupan kita tetap setia mengikuti Kristus. Sebab bersama Dia, tidak ada badai yang lebih besar daripada kasih dan kuasa-Nya.

Minggu Biasa XIIIA

Minggu Biasa XIIIA


(2Raj. 4:8-11.14-16a; Rom. 6:3-4.8-11; Mat. 10: 37-42)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, ada sebuah cerita yang mungkin membuat kita tersenyum. Suatu hari seorang tamu datang ke sebuah rumah dan mengetuk pintu sambil berkata, “Permisi…” Dari dalam rumah terdengar suara, “Siapa?” Tamu itu menjawab, “Saya.” Lalu terdengar lagi, “Maaf, orang rumah sedang tidak ada.” Padahal suara yang menjawab itu terdengar sangat jelas. Rupanya orang itu sebenarnya ada di rumah, hanya saja ia sedang malas menerima tamu. Kadang-kadang kita juga bersikap seperti itu kepada Tuhan. Bukan karena Tuhan tidak mengetuk pintu hati kita, melainkan karena kita sedang sibuk dengan urusan sendiri. Kita berkata, “Nanti dulu, Tuhan. Saya sedang sibuk mengejar pekerjaan, mengejar uang, mengejar kenyamanan.” Akibatnya, pintu hati perlahan-lahan tertutup. Hari ini Sabda Tuhan mengajak kita membuka kembali pintu hati itu.
Bacaan pertama menghadirkan sosok seorang perempuan Sunem. Ia bukan nabi, bukan imam, bukan tokoh besar. Ia hanyalah seorang perempuan sederhana yang memiliki satu kelebihan: hatinya terbuka. Ketika melihat Nabi Elisa sering melewati daerahnya, ia tidak berpikir panjang. Ia menyediakan makanan, tempat beristirahat, bahkan membangun sebuah kamar kecil agar sang nabi merasa nyaman. Yang menarik, perempuan itu tidak pernah berkata, “Kalau saya menolong Nabi Elisa, nanti saya dapat apa?” Ia hanya memberi. Dan justru karena ketulusannya itu, Allah menghadiahkan sesuatu yang selama ini mustahil baginya, yaitu seorang anak. Berkat Allah datang bukan karena ia menghitung-hitung jasa, melainkan karena ia lebih dahulu membuka pintu kasih.
Saudara-saudariku terkasih, Injil hari ini sebenarnya berbicara tentang hal yang sama. Yesus berkata, “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.” Kalimat ini luar biasa indah. Artinya, Kristus sering datang kepada kita dengan wajah yang tidak kita duga. Kadang Ia datang melalui seorang imam yang mengunjungi umat. Kadang melalui tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Kadang melalui seorang anak yang membutuhkan perhatian. Kadang melalui orang tua yang membutuhkan waktu kita. Bahkan bisa jadi Tuhan datang melalui seseorang yang selama ini justru paling sulit kita terima. Persoalannya bukan apakah Tuhan datang, melainkan apakah hati kita masih terbuka.
Karena itu Yesus melanjutkan sabda-Nya yang sering kali membuat kita terkejut, “Barangsiapa mengasihi ayah atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Yesus sama sekali tidak mengajarkan kita untuk mengurangi kasih kepada keluarga. Yang ingin Dia ajarkan adalah bahwa Tuhan harus menjadi pusat dari segala kasih. Kalau Tuhan berada di tempat pertama, seorang bapak akan menjadi suami yang lebih baik, seorang istri akan menjadi lebih sabar, orang tua akan lebih bijaksana, anak akan
lebih hormat, dan menjadintetangga yang lebih peduli. Tetapi kalau Tuhan disingkirkan dari pusat kehidupan, kasih kita perlahan berubah menjadi kasih yang penuh syarat: aku mengasihi kalau dihargai, aku membantu kalau diuntungkan, aku memberi kalau ada balasannya. Itulah sebabnya Yesus mengajak kita mengikuti-Nya dengan sepenuh hati, bukan setengah-setengah.
Lalu, bagaimana kita mampu hidup seperti itu? Jawabannya diberikan Santo Paulus dalam bacaan kedua. Dia berkata bahwa kita telah dibaptis dalam kematian Kristus supaya kita hidup sebagai manusia baru. Artinya, sejak dibaptis kita tidak lagi hidup hanya untuk diri sendiri. Bayangkan sebuah telepon genggam. Kalau baterainya habis, secanggih apa pun telepon itu tetap tidak bisa digunakan. Kameranya bagus, memorinya besar, aplikasinya lengkap, tetapi tetap mati karena tidak ada daya. Begitu pula hidup kita. Kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri, lama-kelamaan kita akan kehabisan “baterai”. Kita mudah marah, mudah kecewa, mudah putus asa, bahkan mudah kehilangan sukacita. Tetapi baptisan membuat kita tersambung dengan sumber kehidupan, yaitu Kristus sendiri. Kristuslah yang mengisi kembali “daya rohani” kita sehingga kita mampu mengampuni ketika disakiti, tetap setia ketika lelah, tetap tersenyum ketika menghadapi kesulitan, dan tetap mau berbagi ketika orang lain memilih menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri.
Saudara-saudariku terkasih, sebagai orang yang telah dibaptis, kita menerima tiga tugas Kristus. Sebagai imam, nabi dan raja. Sebagai imam, kita dipanggil untuk menguduskan hidup melalui doa, Ekaristi, dan hidup yang dekat dengan Tuhan. Sebagai nabi, kita mewartakan Injil bukan pertama-tama dengan mulut, tetapi melalui hidup yang jujur, rendah hati, dan penuh kasih. Sebagai raja, kita belajar mengalahkan raja yang paling sulit dikalahkan, yaitu ego kita sendiri. Kalau ego sudah dikalahkan, barulah Kristus benar-benar menjadi Raja dalam hati kita.
Di akhir Injil, Yesus memberikan kalimat yang sangat sederhana, “Barangsiapa memberi secangkir air sejuk kepada seorang yang kecil, ia tidak akan kehilangan upahnya.” Mengapa Yesus hanya berbicara tentang secangkir air? Karena Yesus ingin mengajarkan bahwa kasih tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan uang yang banyak, melainkan perhatian. Bukan hadiah yang mahal, melainkan waktu. Bukan nasihat yang panjang, melainkan kesediaan untuk mendengarkan. Ada orang yang setiap hari makan enak, tetapi tidak pernah mendengar seorang pun berkata, “Apa kabar? Semoga hari ini Tuhan menguatkanmu.” Kalimat sederhana itu kadang lebih menyegarkan daripada segelas air dingin.
Saudara-saudariku terkasih, dunia saat ini tidak kekurangan orang pintar. Dunia justru sedang kekurangan orang yang mau membuka pintu hatinya. Perempuan Sunem membuka pintu rumahnya bagi Nabi Elisa. Yesus mengajak kita membuka pintu hati bagi Kristus. Dan Santo Paulus mengingatkan bahwa semua itu mungkin terjadi karena kita telah menjadi manusia baru melalui baptisan. Maka sepulang dari gereja hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: siapa yang minggu ini perlu saya sambut? Mungkin anggota keluarga yang selama ini saya abaikan. Mungkin
tetangga yang sedang sakit. Mungkin orang tua yang merindukan perhatian. Mungkin seseorang yang sedang menunggu pengampunan saya. Atau mungkin Tuhan sendiri yang sudah lama mengetuk pintu hati saya.
Semoga ketika Kristus datang melalui sesama, Ia tidak mendengar jawaban seperti dalam cerita tadi, “Maaf, orang rumah sedang tidak ada.” Sebaliknya, semoga Ia mendengar jawaban yang penuh iman, “Masuklah, Tuhan. Hatiku terbuka bagi-Mu. Tinggallah bersama aku, dan ajarlah aku menjadi pembawa kasih bagi sesama.” Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Iman vs tradisi

Iman vs tradisi

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis

Lukas 1:57-66.80

Rabu, 24 Juni 2026

“Tidak ada yang mustahil bagi Allah”. Kebenaran ini tampak dalam diri Maria, seorang gadis Nasaret, mengandung tanpa peran serta laki-laki. Selain itu juga terbukti dalam diri Elisabet yang mandul dan lanjut usia, tetapi mengandung seorang anak di hari tuanya. Peristiwa ini mengubah aib menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga dan sanak saudaran dan juga tetangga [Luk 1:58].

Campur tangan Allah semakin menguatkan iman Elisabet dan juga Zakharia, sehingga merekapun berani keluar dari adat-istiadat dan mempercayakan diri kepada kehendak Allah. Hal ini tampak dalam pemberian nama anaknya yang di lahirkan di masa tua mereka. Ketika sanak saudara mau memberikan nama Zakharia sesuai dengan tradisi saat itu, Elisabet berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” [Luk 1:60]. sungguh menarik, sebab meski tanpa janjian sebelumnya, ternyata Zakharia memiliki pendapat yang sama dengan istrinya, “Namanya adalah Yohanes.” [Luk 1:63]. “Yohanes, Yehohanan”, artinya “Allah itu pengasih” atau “Tuhan yang murah hati”.

Iman dan sikap taat akan Allah berbuah manis bagi Zakharia, mulut terbuka dan ikatan lidahnya terlepas. Ia kembali dapat berbicara setelah sembilan bulan bisu akibat sikap ragu-ragu terhadap karya Allah. Akan tetapi kebisuan Zakharia bisa jadi juga sebagai kesempatan indah untuk menemani istrinya yang sedang mengandung dalam keheningan, tanpa bicara.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Zakharia dan Elisabet adalah pribadi-pribadi yang percaya akan campur tangan Allah.  Ketika orang banyak bertanya-tanya dan bahkan ragu akan menjadi apakah anak ini nanti, orangtuanya sama sekali tidak ragu-ragu. Untuk itu mereka setia mengasuh Yohanes dengan penuh cinta. Yahanes bertumbuh menjadi pribadi yang kuat sehingga bertahan untuk hidup dipadang gurun. Roh Kudus memampukan Yohanes untuk berkata-kata tentang kebenaran, pertobatan dan warta Kerajaan Allah.

Beranikah kita keluar dari tradisi, untuk beriman, mempercayakan diri sepenuhnya kepada kemahakuasaan Allah seperti Zakharian dan Elisabet? Semoga!

Translate »