Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Integritas rohani

Integritas rohani

Rabu Abu 2026

Rm Hugo Susdiyanto O.Carm

Matius 6:1-6, 16-18

Beberapa tahun lalu kita sering mendengar frasa “pakta integritas”, pernyataan atau janji tertulis yang berisi komitmen individu (pejabat/pegawai) untuk melaksanakan tugas secara jujur, transparan, akuntabel, dan profesional sesuai peraturan perundang-undangan. Kata “integritas” berasal dari kata Latin “integer” yang berarti utuh atau menyeluruh. Integritas adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan, yang tercermin melalui kesatuan utuh antara pikiran, perkataan, dan perbuatan [Jawa: ati, lathi, pakarti nyawiji].

Hari ini Yesus mengajarkan betapa pentingnya memiliki hati yang tulus hati dalam beribadah, terlebih yang menyangkut 3 hal: sedekah, berdoa, dan berpuasa. Tanpa dilandasi hati yang tulus, suci, orang bisa terjebak dalam semangat pameran dalam melaksanakan 3 hal tersebut. Sebaliknya jika dilandasi hati yang tulus fokus utama melakukan kehendak Tuhan, dan bukan mencari pujian manusia. Yesus menekankan agar perbuatan baik dilakukan secara tersembunyi, sehingga Bapa yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya.

Kata “sedekah” berasal dari kata Ibrani “tsedaqa” yang berarti keadilan, kebenaran, atau derma. Kata “tsedaqa” juga berarti membuat lurus, seimbang. Jika saya mempunyai Rp 50.000, sementara teman saya tidak punya apa-apa maka keadaannya tidak seimbang tidak lurus, njomplang. Jika saya memberika 15 ribu kepadanya keadaan berubah menuju seimbang. Jika saya memberikan kepadanya 25 ribu, keadaan menjadi lurus. Karenanya arti sejati dari sedekah, derma bukan hanya sekedar memberikan uang receh, melainkan membuat keadaan menjadi seimbang, lurus, adil, benar.

Apa itu doa, berdoa? Definisi doa yang paling sederhana adalah dari Santa Theresia dari Lisieux, “Bagiku, doa adalah ayunan hati; suatu pandangan sederhana ke surga, seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan”. Dengan kata lain, doa adalah jalinan relasi pribadi dengan Tuhan sendiri; doa tidak harus muluk-muluk, melainkan lahir dari kerendahan hati dan kepercayaan total pada belas kasih Allah. Doa merupakan sarana untuk menyatukan kegembiraan dan duka hidup kita dengan kasih Allah.

Puasa bukan tujuan melainkan sarana latihan rohani untuk mendekatkan diri pada Tuhan serta sesama. Karenanya puasa sangat dekat dengan pertobatan, sebagaimana ditegaskan nabi Yoel, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya” [Yoel 2:12-13].

Pesan Sabda

  1. Lawan dari integritas adalah munafik. Orang munafik adalah orang yang berpura-pura setia/percaya, namun hatinya tidak, serta sering mengingkari kata. Yesus membenci kemunafikan [sikap munafik]. Itulah sebabnya Ia mengingatkan para murid, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga” [Mat 6:1].
  2. Dalam warta hari ini ada satu kata penting yang dijadikan refren, ditegaskan berulang-ulang, yakni kata “tersembunyi”. Karenanya pesan penting yang ingin disampaikan dalam pembukaan masa retret agung 40 hari ini adalah ajakan untuk mencari dan menemukan Dia Yang Tersembunyi, yakni Allah Bapa. Kehadiran-Nya itu nyata, namun tidak selalu terasa jelas. Bersedekah, berdoa, dan puasa adalah sarana untuk mendekat kepada-Nya dan menemukan-Nya.
  3. Kebiasaan menerima abu di kepala [dahi] sudah dikenal sejak abad ke-8, di mana imam menandai dahi dengan abu sambil berkata, “Ingatlah, hai manusia, kamu dari debu dan akan kembali menjadi debu” [Kej 3:19] atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” [Mrk 1:15]. Mungkin ada yang bertanya yang benar Abu atau debu? Keduanya memang berbeda! Akan tetapi yang penting bukan pertama-tama barangnya, melainkan lambang dan yang diperlambangkan. Intinya simboliknya: baik abu maupun debu itu barang yang remeh, tidak bernilai. Dalam Kej 2:7 kita manusia diciptakan, dibentuk dari debu tanah yang dihembusi nafas kehidupan Tuhan. Kalau nafas kehidupan kembali ke Tuhan, maka manusia kembali menjadi debu tanah. Karenanya debu dan abu  kiranya membantu kita untuk menyadari betapa lemahnya manusia; ia dekat pada dosa (Ayub 30:19, Kej 18:27). Karenanya jangan munafik, sebaliknya mari kita menjadi peribadi yang berintegritas. Berkah Dalem.
RENUNGAN: 17 FEBRUARI 2026

RENUNGAN: 17 FEBRUARI 2026

Rm Ignasius Joko Purnomo

Markus 8:14-21

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Beberapa waktu lalu, ada seorang ibu yang datang berkonsultasi dengan seorang pastor. Ia bercerita bahwa hidupnya penuh kecemasan. Ia takut masa depan anak-anaknya, takut tidak cukup uang, takut suaminya kehilangan pekerjaan. Pastor itu kemudian bertanya dengan lembut: “Ibu, apakah Tuhan pernah mengecewakan ibu?” Ibu itu terdiam sejenak, lalu menjawab: “Tidak, Romo. Justru saya sudah sering mengalami bahwa Tuhan selalu menolong pada waktunya.” Pastor itu tersenyum dan berkata: “Kalau begitu, mengapa sekarang ibu seolah-olah lupa pada Dia yang setia itu?”

Saudara-saudari, kisah sederhana ini sangat dekat dengan Injil hari ini. Para murid Yesus juga sedang “lupa.” Mereka lupa membawa roti, dan ketika Yesus  memperingatkan tentang “ragi orang Farisi dan ragi Herodes,” mereka malah berpikir bahwa Yesus menegur karena mereka tidak punya roti. Yesus lalu menegur mereka dengan tegas: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum juga kamu mengerti dan tidak paham? Masihkah hatimu degil?” Yesus menegur bukan karena soal roti, tetapi karena kurangnya kepekaan iman. Para murid telah melihat sendiri bagaimana Yesus menggandakan lima roti untuk lima ribu orang, dan tujuh roti untuk empat ribu orang. Tetapi ketika mereka dihadapkan pada situasi kekurangan, mereka langsung panik, seolah-olah mukjizat itu tidak pernah terjadi. Sering kali kita pun seperti itu, bukan? Kita sudah sering mengalami campur tangan Tuhan, diselamatkan dari kesulitan, diberi rezeki saat tak disangka, diberi kekuatan saat nyaris putus asa; tetapi ketika masalah baru muncul, kita mudah gelisah lagi, takut lagi, seolah-olah Tuhan tidak lagi hadir. Hati yang tidak peka membuat kita gagal melihat karya Allah. Kita sibuk menghitung kekurangan, bukan mengingat kasih-Nya. Kita lebih fokus pada “tidak ada roti,” bukan pada “Tuhan yang duduk di perahu.”

Saudara-saudari, Yesus mengingatkan para murid tentang mukjizat penggandaan roti  bukan sekadar agar mereka kagum, tetapi agar mereka ingat. Mengingat adalah cara iman untuk hidup kembali. Dalam setiap perayaan Ekaristi, Gereja juga mengajarkan hal yang sama: kita mengenang karya penyelamatan Kristus. Dan dalam mengenang, kita tidak sekadar memutar memori, melainkan menghadirkan kembali kasih Allah yang hidup di tengah kita. Sering kali sumber kecemasan kita adalah karena kita lupa. Lupa bahwa Tuhan telah setia. Lupa bahwa doa kita pernah dijawab. Lupa bahwa dalam masa sulit, ada kekuatan yang tiba-tiba muncul; itulah rahmat Tuhan. Maka Yesus berkata seolah kepada kita hari ini: “Apakah kamu belum juga mengerti?” Ia ingin agar kita mengingat dan percaya bahwa Allah yang dulu mencukupkan, sekarang pun bekerja dengan cara yang sama.

Saudara-saudari terkasih,

mata jasmani hanya melihat roti yang kurang, mata iman melihat Tuhan yang mampu mencukupkan segala sesuatu. Mata jasmani melihat masalah besar, mata iman melihat peluang bagi Allah untuk menunjukkan kasih dan kuasa-Nya. Iman mengubah cara kita memandang hidup. Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena kita tahu siapa yang berjalan bersama kita. Yesus yang ada di perahu bersama para murid juga ada dalam “perahu” kehidupan kita di tengah badai, di tengah kekurangan, di tengah rasa takut. Kita sering sibuk menghitung berapa roti yang kita punya, tetapi lupa bahwa Roti Hidup itu sendiri ada bersama kita.

Saudara-saudari,
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk belajar mengingat dan melihat dengan iman. Setiap kali kita mengingat karya Tuhan, iman kita diperbarui. Setiap kali kita mengenang kesetiaan-Nya, hati kita menjadi damai. Dan setiap kali kita memandang dengan mata iman, kita menemukan kekuatan untuk melangkah dalam situasi apa pun. Mari kita mohon rahmat Tuhan, agar hati kita tidak menjadi keras oleh kekhawatiran dunia, tetapi menjadi lembut dan peka akan tanda-tanda kasih Allah. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk selalu mengingat bahwa Tuhan yang telah setia di masa lalu, adalah Tuhan yang tetap bekerja hari ini dan selamanya.

Iman yang Tidak Menuntut Tanda

Iman yang Tidak Menuntut Tanda

(Markus 8:11-13)

Salam Damai dalam Kristus Tuhan.

Saudara-saudari terkasih,

Seringkali orang berkata, “Saya akan percaya kalau ada buktinya.” Ia terus meminta tanda, jaminan, dan kepastian, namun ketika satu tanda diberikan, muncul tuntutan baru. Akhirnya, yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan pembenaran atas keraguannya sendiri. Sikap seperti ini terasa dekat dengan situasi dalam Injil hari ini.

Dalam Injil hari ini, orang-orang Farisi datang kepada Yesus dan menuntut suatu tanda dari surga. Permintaan itu bukan lahir dari iman, melainkan dari sikap mencobai dan menantang. Yesus menghela napas dengan sangat dalam, tanda keprihatinan-Nya terhadap hati yang tertutup. Ia menolak memberikan tanda, bukan karena tidak mampu, tetapi karena iman sejati tidak dibangun atas tuntutan.

Yesus telah menghadirkan banyak tanda melalui karya kasih, penyembuhan, dan pewartaan Kerajaan Allah. Namun hati yang keras tidak akan pernah puas, betapapun banyak tanda diberikan. Dalam iman Katolik, percaya berarti membuka diri pada Allah yang telah lebih dahulu menyatakan diri-Nya. Iman bukan hasil paksaan logika, melainkan jawaban bebas atas kasih Allah.

Injil ini mengajak kita bercermin pada sikap kita sendiri. Berapa sering kita baru mau percaya jika doa langsung dikabulkan atau hidup terasa mudah. Yesus mengundang kita bertumbuh dari iman yang menuntut menjadi iman yang berserah. Di sanalah relasi sejati dengan Tuhan menemukan kedalamannya.

Poin Refleksi

  • Apakah iman saya masih sering menuntut tanda dari Tuhan?
  • Bagaimana saya menanggapi kasih Allah yang sudah nyata dalam hidup saya?
  • Apakah saya berani percaya meski belum sepenuhnya mengerti?

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ampuni kami yang sering menuntut bukti sebelum percaya. Lembutkan hati kami agar mampu melihat karya kasih-Mu dalam hidup sehari-hari. Kuatkan iman kami untuk berserah sepenuhnya kepada-Mu. Amin.

Rm Dimas Caesario

Malang, 16 Februari 2026

Minggu Biasa VI A

Minggu Biasa VI A


(Sir. 15:15-20; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan panggilan untuk menjadi garam dan terang dunia. Garam yang memberi rasa, terang yang menuntun langkah. Hari ini Sabda Tuhan membawa kita lebih dalam lagi: bagaimana agar terang itu sungguh bercahaya? Jawabannya ada pada hukum Tuhan, bukan sekadar hukum yang tertulis, tetapi hukum yang hidup di dalam hati.
Dalam bacaan pertama dari Kitab Kitab Sirakh, kita mendengar sebuah pernyataan yang sangat tegas dan indah: “Jika engkau mau, engkau dapat menuruti perintah; setia adalah pilihanmu.” Tuhan menaruh di hadapan kita api dan air, hidup dan mati. Kita diberi kebebasan untuk memilih. Tuhan tidak memaksa. Ia mempercayakan kepada kita hati dan kehendak untuk menentukan arah hidup.
Betapa lembut cara Tuhan mendidik manusia. Ia tidak memperlakukan kita seperti robot yang diprogram untuk taat, tetapi seperti anak yang diajak memahami makna kebaikan. Di sinilah letak keindahan hukum Tuhan: hukum bukan beban, melainkan penuntun menuju kehidupan.
Saudara-saudariku terkasih, dalam Injil minggu ini, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi; Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Yesus tidak membatalkan hukum Musa. Ia justru membawanya kepada kepenuhannya. Jika dahulu dikatakan, “Jangan membunuh,” kini Yesus melangkah lebih jauh: jangan marah yang mematikan kasih. Jika dahulu dikatakan, “Jangan berzinah,” kini Yesus menembus sampai ke dalam hati: jangan memandang dengan nafsu yang merendahkan martabat. Jika dahulu ada aturan tentang sumpah, kini Yesus berkata, “jika ya, hendaklah kamu katakan ya: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak”. Artinya, hukum Kerajaan Allah bukan hanya soal tindakan lahiriah, tetapi soal kedalaman batin. Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi siapa kita di dalam hati.
Ketika kita tinggal di negara lain, kita harus belajar menyesuaikan diri dengan bahasa yang berbeda, budaya yang berbeda, makanan yang berbeda, bahkan cuaca yang sangat kontras. Pada awalnya terasa berat. Kulit mungkin kulit mengelupas karena musim dingin, bibir pecah-pecah, lidah sulit menerima makanan yang hambar. Namun perlahan, tubuh belajar menyesuaikan diri. Ada proses dari luar ke dalam. Demikian pula hidup beriman. Pada awalnya hukum Tuhan mungkin terasa berat. Mengampuni ketika hati terluka tidaklah mudah. Berdamai ketika harga diri tersinggung terasa sulit. Mengendalikan amarah ketika diperlakukan tidak adil bukan perkara ringan. Tetapi bila
hati kita sungguh ingin hidup dalam Tuhan, perlahan-lahan batin kita akan dibentuk. Dari ketaatan yang terasa dipaksakan, menjadi kesadaran yang lahir dari cinta.
Saudara-saudariku terkasih, Yesus menuntut kebenaran yang “melebihi” kebenaran orang Farisi. Apa artinya? Bukan lebih banyak aturan, tetapi lebih dalam kasih. Orang Farisi berhenti pada huruf hukum, sementara Yesus mengajak kita masuk ke roh hukum.
Mungkin kita tidak membunuh, tetapi apakah kita menyakiti dengan kata-kata? Mungkin kita tidak berzinah, tetapi apakah kita menjaga kesucian pikiran dan pandangan? Mungkin kita tidak bersumpah palsu, tetapi apakah kita sungguh jujur dalam keseharian?
Kadang kita merasa sudah cukup karena tidak melakukan dosa besar. Tetapi Yesus mengundang kita melampaui batas minimal. Ia mengajak kita menjadi pribadi yang hatinya bersih, relasinya jujur, dan tindakannya penuh belas kasih. Di sinilah bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus menjadi sangat relevan. Paulus berkata bahwa hikmat Allah bukanlah hikmat dunia. Hikmat Allah tersembunyi, tetapi dinyatakan kepada mereka yang mengasihi-Nya. Hukum Kristus hanya dapat dipahami oleh hati yang dibimbing Roh Kudus. Tanpa Roh, hukum terasa seperti beban. Dengan Roh, hukum menjadi jalan kebebasan.
Saudara-saudariku terkasih, Yesus memberi contoh yang sangat konkret: sebelum mempersembahkan korban di altar, berdamailah terlebih dahulu dengan saudaramu. Bayangkan seseorang datang ke gereja dengan pakaian rapi, membawa persembahan terbaik, tetapi di dalam hatinya masih menyimpan dendam terhadap saudaranya sendiri. Secara lahiriah ia taat, tetapi secara batin ia terpecah.
Yesus ingin menyatukan kembali hati dan tindakan. Ibadah tidak bisa dipisahkan dari relasi. Doa tidak boleh bertentangan dengan sikap hidup. Hari ini kita pun diajak bertanya dengan jujur: Apakah saya sungguh hidup dalam hukum kasih di rumah? Bagaimana saya berbicara kepada pasangan, kepada anak, kepada orang tua? Apakah kata-kata saya membangun atau melukai? Apakah saya memilih dialog atau langsung mencari pembenaran diri?
Logika dunia sering berkata, “kalau perlu, bawa ke pengacara.” Logika Kerajaan Allah berkata, “datanglah, mari kita berbicara.” Bukan berarti hukum sipil tidak penting. Tetapi sebelum melangkah ke jalur konfrontasi, Kristus mengundang kita pada rekonsiliasi. Sebab hukum yang paling tinggi adalah kasih.
Saudara-saudariku terkasih, dalam Kitab Sirakh ditegaskan bahwa hidup dan mati diletakkan di hadapan kita. Dan Yesus dalam Injil menegaskan bahwa hukum mencapai kepenuhannya dalam kasih. Paulus menambahkan: hikmat itu hanya dimengerti oleh
mereka yang membuka diri pada Roh. Maka pertanyaannya sederhana namun mendalam: hukum mana yang mengatur hidup kita? Hukum minimal yang sekadar “asal tidak salah”? Ataukah hukum Kristus yang mengubah hati?
Semoga setiap kali kita datang ke altar Tuhan, kita tidak hanya membawa persembahan roti dan anggur, tetapi juga hati yang mau dibentuk. Semoga dalam keluarga, kita belajar mengendalikan amarah. Dalam pekerjaan, kita belajar jujur. Dalam komunitas, kita belajar berdamai. Jika kita memilih hukum Kristus, mungkin hidup tidak selalu mudah, tetapi hati kita akan damai. Dan di situlah terang kita bercahaya. Semoga Roh Kudus menolong kita untuk tidak berhenti pada huruf hukum, tetapi masuk ke dalam kedalaman kasih. Agar hidup kita sungguh menjadi Injil yang terbaca oleh dunia. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa V

Sabtu Pekan Biasa V

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
14 Februari 2026
1Raj 12: 26-32 + Mzm 106 + Mrk 8: 1-10

Lectio
Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Meditatio
Dari tujuh roti berapa roti yang diberikan para murid untuk dibagikan? 7 x A = (4.000 x B) + 70. Inilah prakiraan rumusan pergandaan roti yang dikerjakan Yesus. A menyatakan dari ketujuh roti hendak dikalikan berapa, sehingga memenuhi kebutuhan semua orang yang hadir pada saat itu. B menyatakan rata-rata berapa orang mampu makan roti yang disajikan itu. Mereka orang-orang yang lapar. Mungkin cukup hanya satu biji, bahkan ada yang hanya separuh saja. 70 adalah 7 bakul sisa roti yang memang harus ditambahkan dalam jumlah pergandaan ketujuh roti itu.
Namun yang jelas ‘Ia menjadikan segala-galanya baik’, kalau kemarin yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata’, hari ini yang lapar dijadikanNya kenyang. Demikian juga, karena belaskasihNya air dijadikanNya anggur, yang mati dihidupkan, yang berdosa si pejahat itu dijadikan penghuni surga, dan kita yang dahulu jauh dijadikanNya dekat dan beroleh selamat. Kiranya semua peristiwa itu menjadikan kita semakin percaya dan mengandalkan Dia dalm keseharian hidup kita.

Oratio
Ya Yesus Kristus, Engkau menjadikan segala-galanya baik adanya. Semoga karena kebaikan dan kasihMu itu, kami semakin berani mendekatkan diri hanya kepadaMu; dan kami pun siap berbagi kasih kepada sesame kami. Amin.

Contemplatio
‘Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh’.

Translate »