Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Memberi Lebih dari yang Diminta

Memberi Lebih dari yang Diminta

(Matius 5:38-42)

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,

Suatu hari seorang tukang ojek mengantar penumpang yang cukup merepotkan. Sepanjang perjalanan penumpang itu banyak mengeluh: jalan terlalu macet, motor terlalu pelan, bahkan sempat menyalahkan si pengemudi karena terlambat. Sesampainya di tujuan, penumpang itu turun tanpa mengucapkan terima kasih.

Teman-teman pengemudi yang melihat kejadian itu berkata, “Kalau aku jadi kamu, sudah kubalas dengan kata-kata yang pedas.”

Namun pengemudi itu hanya tersenyum dan menjawab, “Kalau saya ikut marah, berarti dia menentukan siapa saya hari ini. Saya tidak mau hidup saya dikendalikan oleh kemarahan orang lain.”

Jawaban sederhana itu menyimpan kebijaksanaan yang dalam. Ternyata kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil membalas, melainkan ketika kita tetap menjadi diri yang baik meskipun diperlakukan tidak baik.

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus menyampaikan ajaran yang sering kali terdengar tidak masuk akal: jika ditampar pipi kanan, berikan juga pipi kirimu; jika seseorang memaksa berjalan satu mil, berjalanlah dua mil; jika diminta sesuatu, berilah.

Banyak orang mengira Yesus sedang mengajarkan sikap pasif, lemah, atau membiarkan diri diinjak-injak. Padahal bukan itu maksud-Nya.

Yang menarik, Yesus tidak sedang berbicara tentang kalah atau menang. Ia sedang berbicara tentang kebebasan batin.

Biasanya ketika seseorang menyakiti kita, ia sebenarnya sedang berusaha mengendalikan reaksi kita. Ia ingin kita marah, membenci, dendam, atau membalas. Ketika kita bereaksi persis seperti yang ia harapkan, sesungguhnya kita telah kehilangan kebebasan. Hidup kita dikendalikan oleh tindakan orang lain.

Di sinilah letak kebaruan ajaran Yesus. Yesus tidak hanya meminta murid-Nya menjadi baik. Ia mengajak murid-Nya menjadi pribadi yang tidak diperbudak oleh perilaku orang lain.

Orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan masih bergerak dalam logika yang sama dengan pelaku kejahatan. Sebaliknya, orang yang tetap memilih kasih sedang menciptakan logika baru. Ia memutus rantai kebencian yang biasanya terus berputar dari satu orang ke orang lain.

Ada hal lain yang jarang disadari. Yesus tidak berkata, “Berjalanlah satu mil saja.” Ia justru berkata, “Berjalanlah dua mil.” Artinya, murid Kristus tidak hidup berdasarkan ukuran minimum. Kasih Kristen selalu melampaui kewajiban.

Banyak orang bertanya, “Apa kewajiban saya?” Sedangkan Yesus mengajak kita bertanya, “Apa lagi yang dapat saya lakukan demi kebaikan?”

Karena itu kekudusan bukan sekadar memenuhi aturan. Kekudusan adalah kemampuan memberi lebih daripada yang dituntut. Allah sendiri mengasihi manusia dengan cara demikian. Ia tidak memberi kita sekadar apa yang pantas kita terima, melainkan jauh lebih banyak daripada yang kita butuhkan.

Di salib, Yesus tidak hanya mengampuni mereka yang layak diampuni. Ia mengampuni bahkan mereka yang sedang menyalibkan-Nya.

Kasih yang seperti itulah yang diminta dari para murid-Nya.

Poin Refleksi

  1. Apakah saya masih membiarkan sikap buruk orang lain menentukan suasana hati dan tindakan saya?
  2. Dalam keluarga, komunitas, atau tempat kerja, apakah saya hanya melakukan yang wajib atau bersedia memberi lebih demi kebaikan bersama?
  3. Adakah seseorang yang saat ini sulit saya ampuni, sehingga saya masih terikat oleh luka dan kemarahan terhadapnya?

Doa Singkat

Tuhan Yesus, ajarlah kami memiliki hati yang bebas, sehingga tidak dikuasai oleh kemarahan, dendam, atau keinginan membalas. Berilah kami keberanian untuk mengasihi lebih dari yang diwajibkan dan menghadirkan damai di tengah dunia yang sering dipenuhi permusuhan. Amin.

RD. Yusuf Dimas Caesario

Minggu Biasa XIA

Minggu Biasa XIA


(Kel 19:2-6a; Rom 5:6-11; Mat 9:36-10:8)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita melihat seorang anak kecil yang tersesat di keramaian? Wajahnya kebingungan, matanya mencari-cari seseorang yang bisa menolongnya, sementara orang-orang berlalu-lalang tanpa memperhatikannya. Gambaran itu kiranya membantu kita memahami perasaan Yesus dalam Injil hari ini. Ketika melihat orang banyak, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, sebab mereka “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Mereka hidup, tetapi kehilangan arah. Mereka berjalan, tetapi tidak tahu ke mana harus melangkah. Mereka berada di tengah banyak orang, tetapi merasa sendirian.
Belas kasih Allah yang kita lihat dalam diri Yesus sesungguhnya sudah tampak sejak Perjanjian Lama. Dalam bacaan pertama, Allah memanggil bangsa Israel di Gunung Sinai dan berkata bahwa mereka akan menjadi “harta kesayangan”, “kerajaan imam”, dan “bangsa yang kudus”. Allah tidak memilih Israel karena mereka bangsa terbesar atau terkuat, melainkan karena kasih-Nya. Mereka dipanggil bukan untuk menikmati pilihan itu bagi diri sendiri, tetapi untuk menjadi tanda kehadiran Allah bagi bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, sejak awal Allah selalu memanggil suatu umat agar menjadi saluran kasih-Nya bagi sesama.
Panggilan yang sama diteruskan oleh Yesus dalam Injil. Ia memanggil dua belas rasul dari berbagai latar belakang, ada nelayan sederhana, ada pemungut cukai yang dipandang rendah, ada pribadi-pribadi dengan karakter yang berbeda-beda. Pilihan Yesus ini mengandung pesan yang sangat indah, dimana Allah tidak menunggu seseorang menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum dipanggil. Justru melalui orang-orang biasa, Allah melakukan karya-karya yang luar biasa. Karena itu, jangan pernah merasa terlalu kecil, terlalu lemah, atau terlalu tidak pantas untuk melayani Tuhan. Yang dicari Tuhan pertama-tama bukanlah kemampuan kita, melainkan kesediaan hati kita.
Lalu dari mana kekuatan untuk menjalankan panggilan itu? Di sinilah bacaan kedua memberi jawabannya. Santo Paulus mengingatkan bahwa Kristus telah mengasihi kita ketika kita masih lemah dan berdosa. Ia menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan kita. Artinya, dasar dari setiap perutusan bukanlah kehebatan manusia, melainkan kasih Kristus yang lebih dahulu menyelamatkan kita. Orang yang sungguh menyadari dirinya telah dikasihi akan lebih mudah mengasihi. Orang yang pernah merasakan pengampunan Tuhan akan lebih mudah mengampuni. Orang yang pernah diteguhkan oleh Tuhan akan terdorong untuk meneguhkan sesamanya.
Karena itu, tugas perutusan tidak selalu berarti berkhotbah di mimbar atau melakukan hal-hal besar. Sering kali perutusan dimulai dari hal-hal sederhana yang lahir dari belas kasih: menjadi pendengar bagi mereka yang sedang terluka, menghibur mereka yang kehilangan harapan, mendamaikan anggota keluarga yang bertengkar,
membantu mereka yang sedang kesulitan, atau sekadar menyapa seseorang yang merasa dilupakan. Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang hidup seperti domba tanpa gembala, mereka yang cemas akan masa depan, orang tua yang khawatir memikirkan pendidikan anak-anaknya, kaum muda yang kehilangan arah hidup, mereka yang terluka oleh konflik keluarga, atau mereka yang merasa tidak lagi dicintai. Kehadiran kita yang penuh perhatian bisa menjadi tanda bahwa Allah belum meninggalkan mereka.
Memang, tidak jarang ketika berusaha melakukan kebaikan, kita mengalami penolakan. Ada yang menertawakan, ada yang salah paham, bahkan ada yang membalas kebaikan dengan sikap yang tidak menyenangkan. Namun, Santo Paulus mengingatkan bahwa kita telah diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus. Karena itu, jangan biarkan penolakan memadamkan semangat pelayanan kita. Yesus sendiri mengalami penolakan, tetapi Ia tidak berhenti mengasihi. Ia tetap berjalan, tetap menyembuhkan, tetap mengajar, dan tetap menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan dunia.
Saudara-saudariku terkasih, setiap kali kita melihat penderitaan, kebingungan, dan kesepian di sekitar kita, jangan hanya bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi?” Mungkin Tuhan justru sedang bertanya kepada kita, “Maukah engkau menjadi jawaban-Ku bagi mereka?” Sebab melalui tangan kita, Tuhan ingin menolong. Melalui kata-kata kita, Tuhan ingin menghibur. Melalui hati kita, Tuhan ingin menghadirkan belas kasih-Nya.
Semoga dalam Ekaristi ini kita semakin menyadari bahwa kita adalah umat pilihan Allah, yang telah dikasihi dan diselamatkan oleh Kristus, serta diutus untuk menjadi pembawa harapan bagi dunia. Dan semoga ketika orang lain berjumpa dengan kita, mereka dapat merasakan sedikit dari belas kasih Yesus yang sama, yang dahulu menggerakkan hati-Nya ketika melihat domba-domba yang terlantar. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Peringatan Hati Maria yang tak bernoda

Peringatan Hati Maria yang tak bernoda

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
13 Juni 2026
Yes 61: 9-11 + Mzm + Luk 2: 41-51

Lectio
Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Meditatio
Hanya dalam hati yang suci dan saleh, seseorang mampu menyimpan semua perkara hidup, dan itulah yang dilakukan Maria. Mendung tak selalu hujan, dan bahkan sering susu dibalas tuba. Yosef dan Maria mencari dan mencari sang Buah hati. Mereka bahkan selama tiga hari berlarian ke sana kemari. ‘Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Ayah-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau’, kata-kata Maria yang mungkin disertai nada kejengkelan, karena capek. Bukan permintaan maaf yang terdengar, tetapi kata-kata insani yang pahit malah didengarnya. ‘Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?’, sahut Yesus tanpa beban. Kata-kata Tuhan yang kurang begitu halus menjawab kata-kata seorang ibuku. Setelah meredakan gelombang danau dan angin rebut, Yesus masih sempat berkata-kata mengapa kalian kurang percaya.
Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Berbicara dengan Tuhan Yesus seringkali seperti berbicara dengan orang pandai, yang mana kata-kataNya sulit kita mengerti maksudNya. Namun sebagai orang-orang yang membutuhkan Dia, amat baiklah kalau kita mendengarkan kehendakNya dan mentaatiNya, sebagaimana dicontohkan Maria sendiri yang mempunyai hati yang suci itu aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau selalu menyampaikan sabdaMu kepada kami. Sucikanlah dan kuduskanlah hati kami, agar mampu menyimpan sabdaMu dan merenungkanNya.
Ya Maria, doakanlah kami, agar berani membiarkan diri dikuduskan oleh Puteramu, Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.

Contemplatio
Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.

Kasih adalah jiwa hukum

Kasih adalah jiwa hukum

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Matius 5:17-19

Rabu, 10 Juni 2026

Dari sekian hukum yang ada di dunia ini, hukum Taurat kiranya merupakan hukum yang cukup lengkap. Hukum Taurat terdiri dari 613 mitzvot, dan terbagai dalam dua bagian: 365 berupa perintah negatif [mitzvot lo taaseh] atau yang dilarang, sedangkan 248 berupa perintah positif [mitzvot ase] atau yang diperintahkan untuk dilalukan.  Jika sudah lengkap mengapa dikatakan bahwa Yesus datang untuk menggenapi? Hal apa lagi yang kurang dan harus digenapi?

Kita semua tentu paham bahwa isi Kitab Suci memiliki otoritas mutlak dan kekal. Ungkapan “satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan” [Mat 5:18] menunjukkan bahwa setiap firman Tuhan sangat penting dan tidak akan kehilangan kuasanya sampai rencana Allah tergenapi sepenuhnya. Oleh karena itu, dengan ungkapan “menggenapi” berarti Yesus menambah jumlahnya, melainkan membawa Hukum Taurat dan kitab para nabi kepada arti, tujuan sejati hukum Taurat diturunkan kepada manusia melalui Musa. Sebab dalam perjalanan waktu, sekurang-kurangnya pada jaman Yesus, hukum Taurat hanya diajarkan oleh para ahli Taurat, tetapi tidak dilaksanakan oleh mereka, sebagaimana difirmankan, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu lakukanlah dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” [Mat 23:2-3]. Bagi Yesus yang terpenting bukan soal menjaga kemurnian ajaran Taurat, melainkan bagaimana Taurat ini dilaksanakan dan dihayati dalam hidup setiap hari dalam semangat kasih. Taurat akan bermakna ketika perilaku dan sikap hidup benar-benar dijiwai oleh semangat saling mengasihi. Sebab kebenaran tanpa kasih akan melahirkan anarkhisme, sebaliknya kasih tanpa kebenaran hanyalah sentimentil belaka. Ketika kasih menjadi jiwa hukum, maka Taurat menjadi inspirasi yang menuntun orang kepada kebaikan, menjadi sumber moral dalam bertindak dan melakukan segala sesuatu dalam hidup dan kehidupannya. Orang yang melaksanakn hukum Taurat berlndaskan kasih, menurut Yesus, akan menduduki tempat tertinggi dalam Kerajaan Surga.

KItab Suci adalah Sabda Allah, pelita dalam hidup beriman kita. Karenanya sungguh sangat disayakankan, jika ayat Kitab Suci hanya digunakan untuk membenarkan perilaku menyimpang. Karenanya, mari kita berupaya bukan hanya sebagai pendengar atau pembaca firman, melainkan sebagai pelaku, pelaksana Firman [Yak 1:22]. Sabda Allah yang kita baca atau dengarkan, kita resapkan dalam hati sehingga menjiwai seluruh pola hidup beriman dan sosial kita.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus A

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus A


(Ul. 8:2-3.14b-16a; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58)
Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, setelah minggu lalu kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, hari ini Gereja mengajak kita masuk lebih jauh ke dalam misteri kasih Allah melalui Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Jika Hari Raya Tritunggal memperlihatkan kepada kita siapa Allah itu, maka Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus memperlihatkan bagaimana Allah mengasihi kita. Kasih itu bukan sekadar kata-kata, bukan hanya nasihat atau ajaran, melainkan pemberian diri secara total. Allah memberikan diri-Nya sendiri sebagai santapan bagi manusia.
Untuk memahami misteri ini, bayangkanlah seorang ibu yang dengan penuh kasih menyiapkan makanan bagi anak-anaknya. Ia tidak sekadar menyuguhkan makanan. Di balik setiap masakan terdapat perhatian, waktu, tenaga, bahkan cinta yang dicurahkannya. Karena itu ketika anak-anak makan dengan lahap, hati sang ibu dipenuhi sukacita. Melalui makanan itu ia sebenarnya sedang memberikan dirinya sendiri. Demikian pula ketika kita mengundang sahabat atau keluarga untuk makan bersama. Yang kita tawarkan bukan hanya hidangan, melainkan persahabatan, keakraban, dan kasih yang ingin kita bagikan.
Inilah yang dilakukan Yesus kepada kita. Dalam Injil hari ini Yesus tidak hanya berkata, “Aku mengasihimu.” Ia melangkah jauh lebih dalam dengan mengatakan, “Akulah roti hidup yang turun dari surga.” Bahkan Ia menambahkan, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia.” Melalui Ekaristi, Yesus tidak hanya memberi sesuatu kepada kita. Ia memberikan diri-Nya sendiri. Ia menjadi santapan bagi jiwa yang lapar, kekuatan bagi yang lemah, penghiburan bagi yang terluka, dan harapan bagi mereka yang hampir menyerah.
Saudara-saudariku terkasih, bacaan pertama dari Kitab Ulangan membantu kita memahami makna pemberian diri Allah itu. Musa mengingatkan bangsa Israel tentang perjalanan mereka di padang gurun. Selama empat puluh tahun mereka mengalami lapar, kehausan, ketidakpastian, dan berbagai kesulitan. Namun justru di tengah situasi itu Allah memberi mereka manna dari surga. Manna menjadi tanda bahwa hidup manusia tidak hanya bergantung pada makanan jasmani, melainkan pada sabda dan penyelenggaraan Allah. Manna menopang hidup bangsa Israel untuk sementara waktu. Namun manna hanyalah bayangan dari anugerah yang jauh lebih besar yang akan diberikan Allah kelak.
Dalam Injil, Yesus menyatakan bahwa Dialah manna yang sejati. Manna di padang gurun hanya mempertahankan kehidupan jasmani untuk sementara. Orang-orang yang memakannya akhirnya tetap meninggal. Tetapi roti yang diberikan Yesus adalah Tubuh-Nya sendiri yang membawa kehidupan kekal. Karena itu Ekaristi bukan sekadar simbol atau kenangan akan Yesus. Ekaristi adalah kehadiran Yesus yang hidup, yang terus menyertai umat-Nya sepanjang zaman.
Di sinilah kita memahami mengapa Gereja begitu menghargai Perayaan Ekaristi. Setiap kali kita mengikuti Misa Kudus, kita sebenarnya sedang datang kepada sumber kehidupan. Kita datang seperti seorang musafir yang kelelahan menempuh perjalanan panjang. Dunia sering membuat hati kita letih. Perselisihan dalam keluarga, tekanan pekerjaan, sakit penyakit, kegagalan, kekecewaan, dan dosa-dosa yang kita alami sering menguras kekuatan batin kita. Karena itulah Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya dan menerima santapan ilahi yang memulihkan jiwa. Tanpa Dia, hati manusia mudah menjadi kering seperti tanah yang lama tidak diguyur hujan. Namun bersama Dia, hidup kita kembali memperoleh kesegaran dan daya untuk melangkah.
Hari ini secara khusus kita juga bersukacita bersama anak-anak yang menerima Komuni Pertama. Kerinduan yang selama ini mereka rasakan akhirnya dipenuhi. Mereka akan menerima Yesus untuk pertama kalinya dalam Sakramen Ekaristi. Namun sesungguhnya kerinduan itu tidak boleh berhenti pada hari ini saja. Kerinduan yang sama harus tetap hidup dalam hati kita semua. Sebab iman yang dewasa bukanlah iman yang merasa cukup dengan Tuhan, melainkan iman yang selalu merindukan Tuhan lebih dalam lagi.
Saudara-saudariku terkasih, bacaan kedua memberikan satu dimensi yang sangat penting. Santo Paulus berkata, “Karena roti itu satu, maka kita sekalipun banyak merupakan satu tubuh.” Ekaristi tidak hanya menyatukan kita dengan Kristus, tetapi juga menyatukan kita satu sama lain. Kita menerima Tubuh Kristus agar kita sendiri menjadi Tubuh Kristus di tengah dunia.
Inilah tantangan terbesar hidup Ekaristi. Tidak cukup kita datang ke gereja dan menerima Komuni, tetapi sesudah itu kita tetap menyimpan kebencian, iri hati, dendam, atau sikap merendahkan orang lain. Jika kita menyambut Kristus yang sama, maka kita dipanggil untuk melihat sesama dengan mata Kristus. Orang yang sungguh hidup dari Ekaristi akan semakin mudah mengampuni, semakin peduli terhadap yang lemah, semakin rendah hati, dan semakin mampu menciptakan persatuan.
Ekaristi adalah sakramen persatuan. Di altar tidak ada lagi perbedaan status, kekayaan, jabatan, suku, atau latar belakang. Semua datang sebagai anak-anak Allah yang lapar akan kasih-Nya. Karena itu, semakin sering kita menerima Tubuh Kristus, seharusnya semakin berkurang pula egoisme kita. Hati kita dibentuk menjadi hati yang mampu menerima, menghargai, dan mengasihi sesama.
Saudara-saudariku terkasih, setiap kali imam mengangkat hosti dan berkata, “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu,” Yesus sebenarnya sedang berkata kepada masing-masing dari kita, “inilah Aku untukmu. Aku tidak menahan apa pun. Aku memberikan diri-Ku seluruhnya bagimu.” Kasih seperti inilah yang kita rayakan hari ini. Kasih yang tidak menghitung untung-rugi. Kasih yang tidak bersyarat. Kasih yang rela berkorban sampai tuntas.
Semoga setiap kali kita mengikuti Ekaristi dan menyambut Komuni Kudus, kerinduan kita akan Kristus semakin bertumbuh. Semoga Tubuh dan Darah Kristus yang kita terima mengubah hati kita menjadi lebih penuh kasih, lebih sabar, lebih setia,
dan lebih mampu membangun persaudaraan. Dengan demikian, Kristus yang kita sambut di altar sungguh hidup dan berkarya melalui hidup kita sehari-hari. Dan pada akhirnya, setiap orang yang berjumpa dengan kita dapat merasakan bahwa Kristus tinggal dalam diri kita, dan kita tinggal dalam Dia. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »