Minggu Paskah

Minggu Paskah


(Kis. 10:34a.37-43; Kol. 3:1-4; Yoh.20: 1-9)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, Selamat Hari Raya Paskah! Dalam keheningan malam yang telah kita lalui, Gereja mengajak kita berjaga, menantikan terang yang mengalahkan gelap. Dan pagi ini, kita berdiri dalam terang itu, yakni terang kebangkitan. Namun, terang ini tidak selalu langsung menghapus segala kegelisahan dalam hati kita. Di dalam diri kita, masih ada satu hal yang sering mengikat langkah kita untuk menjadi saksi kebangkitan Kristus, yaitu rasa takut. Takut akan masa depan yang tidak pasti, takut ditolak, takut gagal, bahkan takut untuk berharap kembali setelah pernah terluka. Rasa takut itu seperti kabut tipis di pagi hari: tidak terlihat begitu pekat, tetapi cukup untuk mengaburkan pandangan kita, membuat kita ragu melangkah.
Kita semua pernah mengalami ketakutan itu. Ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan, ketika relasi yang kita bangun justru melukai, ketika usaha yang kita lakukan tidak membuahkan hasil, hati kita perlahan menjadi ciut. Kita ingin hidup yang damai, dicintai, dan dihargai, tetapi sering kali ketakutan membuat kita menutup diri. Kita menjadi seperti seseorang yang berdiri di tepi pintu yang sebenarnya terbuka, tetapi tidak berani melangkah keluar karena takut akan apa yang ada di luar sana. Padahal, justru di luar sanalah kehidupan menanti.
Dalam Injil hari ini, kita mendengar kisah Maria Magdalena yang datang ke makam Yesus. Ia datang dengan hati yang penuh duka, dengan cinta yang setia, tetapi juga dengan kebingungan. Kubur yang kosong bukanlah kabar sukacita baginya pada awalnya, melainkan tanda tanya besar. Petrus dan murid yang dikasihi Yesus pun berlari ke kubur itu. Mereka melihat, tetapi belum sepenuhnya mengerti. Ini sangat manusiawi. Kebangkitan tidak langsung dipahami; ia dialami perlahan-lahan, melalui perjalanan hati yang berani membuka diri terhadap misteri Allah.
Saudara-saudariku tekasih, di sinilah kita menemukan relevansi Paskah dalam hidup kita. Kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa masa lalu, melainkan kenyataan yang terus hidup dan bekerja dalam pengalaman kita hari ini. Mungkin kita tidak melihat kubur kosong secara fisik, tetapi kita mengalami “kubur-kubur” dalam hidup kita: kegagalan, dosa, luka batin, kehilangan. Namun, justru di sanalah Tuhan bekerja. Seperti benih yang harus jatuh ke tanah dan mati sebelum bertumbuh, demikian pula hidup kita. Apa yang tampak sebagai akhir, sering kali justru menjadi awal yang baru dalam terang Allah.
Paskah mengajak kita untuk berani percaya bahwa Tuhan telah lebih dahulu berjalan di depan kita. Bahwa di balik setiap ketakutan, ada kehidupan baru yang sedang disiapkan. Iman akan kebangkitan bukan sekadar mengingat bahwa Yesus bangkit, tetapi berani berkata dalam hati, “Tuhan juga sedang membangkitkan aku.
Membebaskan aku dari luka lama, mengangkat aku dari kejatuhan, dan menuntun aku untuk hidup dengan cara yang baru”.
Karena itu, pengalaman Paskah adalah pengalaman yang sangat pribadi. Kita masing-masing memiliki kisah perjumpaan dengan Kristus yang bangkit. Mungkin dalam doa yang sederhana, dalam air mata yang diam-diam kita jatuhkan, dalam pengampunan yang kita berikan atau kita terima, dalam kekuatan untuk bangkit kembali setelah jatuh. Di situlah Kristus hadir. Di situlah Ia menyapa kita, seperti Ia menyapa Maria Magdalena dengan lembut, dengan penuh kasih, memanggil kita kembali kepada hidup.
Saudara-saudariku terkasih, Paskah bukan hanya tentang memahami, tetapi tentang mengalami. Bukan hanya tentang percaya, tetapi tentang berjalan. Kita mungkin belum sepenuhnya mengerti, seperti para murid pada pagi itu, tetapi kita diajak untuk tetap melangkah, tetap percaya, tetap berharap. Sebab terang kebangkitan tidak pernah padam. Ia selalu menemukan jalan untuk masuk ke dalam hati yang mau terbuka.
Maka, pada hari yang penuh rahmat ini, marilah kita membawa segala ketakutan kita kepada Tuhan. Biarlah terang kebangkitan-Nya menembus setiap sudut gelap dalam hidup kita. Dan semoga kita pun berani menjadi saksi-saksi-Ny, bukan dengan kata-kata yang besar, tetapi melalui hidup yang penuh harapan, penuh kasih, dan penuh damai. Sebab Kristus telah bangkit, dan bersama Dia, kita pun dipanggil untuk bangkit dan hidup baru. Tuhan memeberkati kita semua. Amin.

Comments are closed.
Translate »