Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

RENUNGAN: 20 JANUARI 2026

RENUNGAN: 20 JANUARI 2026

Rm Ignasisu Joko Purnomo

Markus 2:23-28

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Injil hari ini menggambarkan satu peristiwa sederhana tetapi sarat makna. Diceritakan bahwa Yesus dan murid-murid-Nya berjalan di ladang gandum pada hari Sabat. Murid-murid memetik bulir gandum untuk dimakan. Orang-orang Farisi yang melihatnya segera menegur: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Namun Yesus menanggapi dengan sebuah pernyataan yang sangat dalam: “Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat. Maka Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”  Perkataan Yesus ini bukan sekadar pembelaan terhadap murid-murid-Nya. Ia menyingkapkan kebenaran mendalam tentang maksud Allah ketika memberikan hukum Sabat. Hukum, termasuk peraturan tentang Sabat, bukanlah beban yang menindas manusia, melainkan rahmat yang membantu manusia hidup lebih dekat dengan Allah.

Dalam Kitab Kejadian, kita membaca bahwa setelah enam hari menciptakan dunia, Allah beristirahat pada hari ketujuh. Artinya, Sabat adalah tanda kasih Allah: Ia ingin manusia juga mengalami istirahat, pembaruan, dan persekutuan dengan-Nya. Sabat adalah hari untuk menghargai hidup, bukan sekadar mematuhi aturan. Namun pada zaman Yesus, semangat Sabat sering kali hilang di balik tumpukan peraturan yang kaku. Sabat berubah menjadi beban, bukan berkat. Orang-orang lebih sibuk memastikan tidak melanggar aturan daripada mengalami damai dan sukacita bersama Tuhan. Yesus datang untuk mengembalikan makna sejati Sabat, hari yang memulihkan manusia, bukan memperbudaknya. Ia berkata: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Ini berarti bahwa dialah sumber dan tujuan hukum itu sendiri. Sabat ada untuk membawa manusia kepada persekutuan dengan Tuhan, dan Yesus adalah Tuhan yang datang untuk menjumpai manusia. Maka, Sabat menemukan puncak maknanya dalam diri Kristus sendiri. Ketika kita hidup bersama Yesus, setiap hari bisa menjadi Sabat – hari perjumpaan, hari damai, hari istirahat dalam kasih Allah. Sabat bukan hanya hari Sabtu atau Minggu; Sabat sejati terjadi saat hati kita berhenti dari kesibukan dosa dan beristirahat dalam kasih Tuhan.

Saudara-saudari terkasih.

Orang-orang Farisi sebenarnya ingin membela kehormatan hukum Allah, tetapi mereka terjebak dalam kekakuan rohani – hidup rohani yang kaku, yang mengukur kesalehan dari kepatuhan lahiriah, bukan dari kasih. Hidup rohani yang kaku menilai orang lain dari aturan, bukan dari belas kasih. Ia lebih sibuk menjaga bentuk daripada menumbuhkan isi. Yesus menegur mereka – bukan karena hukum itu salah, tetapi karena mereka kehilangan semangat kasih dalam menaati hukum. Hukum tanpa kasih hanyalah batu yang dilemparkan kepada sesama. Yesus datang untuk mengajarkan bahwa kasih adalah inti dari seluruh hukum.

Saudara-saudari terkasih, sabda Yesus ini juga berbicara kepada kita zaman sekarang.

Banyak dari kita sibuk bekerja tanpa henti. Bahkan pada hari Minggu, hari yang disucikan untuk Tuhan, kita masih membawa “pekerjaan” ke dalam hati: laporan yang belum selesai, pesan di ponsel, urusan bisnis, atau kekhawatiran. Kita kehilangan Sabat hati  – waktu untuk beristirahat, bersyukur, dan menikmati kasih Allah. Padahal Tuhan memberikan Sabat agar kita berhenti sejenak, mengatur napas, memperbarui hubungan dengan-Nya dan dengan sesama. Misa hari Minggu, doa pribadi, waktu bersama keluarga – semua itu adalah tanda-tanda Sabat baru, tanda bahwa kita masih mengakui: hidup ini bukan milik pekerjaan, tapi milik Tuhan.

Yesus mengajarkan bahwa kasih lebih utama dari aturan. Maka cara kita merayakan “hari Sabat” hari ini bukan hanya dengan berhenti bekerja, tetapi dengan memberi waktu untuk cinta: waktu untuk menyapa dan menolong sesama, waktu untuk mendengarkan keluarga, waktu untuk diam dalam doa. Sabat sejati bukan sekadar tidak bekerja, tetapi menyembuhkan relasi – dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus ingin kita mengalami hari Sabat bukan sebagai beban, tetapi sebagai berkat.
Ia mengajak kita untuk menjadikan setiap hari sebagai hari Tuhan, tempat kita menemukan damai, sukacita, dan kasih. Sebab sesungguhnya Yesus sendirilah Sabat kita – tempat di mana kita dapat beristirahat dalam kasih Bapa. Semoga kita semakin mampu menemukan Sabat dalam hidup kita: bukan dalam kekakuan hukum, melainkan dalam kebebasan kasih Kristus yang menyembuhkan dan membebaskan. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Anggur Baru dan Hati yang Diperbarui

Anggur Baru dan Hati yang Diperbarui

(Markus 2:18–22)

Salam Damai dalam Kristus Tuhan

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini Tuhan Yesus menanggapi pertanyaan tentang puasa dengan mengarahkan perhatian pada kehadiran-Nya sendiri. Ia menggambarkan diri-Nya sebagai mempelai yang membawa sukacita, sehingga iman tidak boleh direduksi menjadi kewajiban kering. Puasa tetap bernilai, tetapi maknanya lahir dari relasi dengan Tuhan yang hidup. Tanpa relasi itu, praktik rohani mudah berubah menjadi formalitas dan rutinitas belaka.

Yesus memakai gambaran kain baru dan anggur baru untuk menegaskan kebaruan rahmat Allah. Kain baru tidak cocok dijahitkan pada kain lama, dan anggur baru tidak dapat ditampung oleh kantong tua. Gambaran ini mengingatkan bahwa rahmat yang hidup membutuhkan hati yang diperbarui. Masalahnya bukan pada tradisi lama, melainkan pada hati yang menolak berubah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa saja rajin beribadah namun tetap memelihara egoisme dan sikap menghakimi. Hati seperti ini menyerupai kantong tua yang kaku dan rapuh. Rahmat Tuhan tetap dicurahkan, tetapi tidak bekerja optimal karena tidak diberi ruang. Injil hari ini mengajak kita membuka diri pada pembaruan batin.

Iman Katolik memanggil kita untuk setia sekaligus siap diperbarui oleh Roh Kudus. Kesetiaan tanpa pembaruan membuat iman kehilangan daya kesaksiannya. Sebaliknya, pembaruan tanpa kesetiaan kehilangan arah. Dengan hati yang baru, hidup beriman menjadi sumber sukacita dan berkat bagi sesama.

Poin Refleksi

  • Apakah hidup iman saya masih membawa sukacita, atau hanya kewajiban?
  • Sikap lama apa yang perlu saya lepaskan agar Tuhan dapat bekerja lebih bebas dalam hidup saya?
  • Sudahkah saya memberi ruang bagi Roh Kudus untuk memperbarui cara berpikir dan bertindak saya?

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkaulah Anggur Baru yang dihadirkan Allah bagi keselamatan kami. Perbaruilah hati kami yang sering kaku dan tertutup. Jadikan kami kantong baru yang siap menampung rahmat-Mu, agar hidup kami sungguh memancarkan sukacita Injil. Amin.

Rm Dimas Caesario

Malang, 19 Januari 2026

Minggu Biasa II A

Minggu Biasa II A

(Yes. 49:3-6; 1Kor. 1:1-8; Yoh. 1:29-34)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, dalam Injil hari ini kita mendengar satu kalimat yang sangat singkat, sangat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman iman yang luar biasa. Yohanes Pembaptis berseru: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Ia tidak berkhotbah panjang, tidak berargumentasi, tidak menjelaskan dengan teori-teori yang rumit. Ia hanya mengajak orang untuk melihat.
Seruan ini mengandaikan satu hal penting: iman pertama-tama bukan soal pengetahuan, melainkan soal pandangan hati. Ada banyak orang yang tahu tentang Yesus, tetapi tidak sungguh melihat Dia. Ada pula yang rajin ke gereja, tetapi belum pernah sungguh memandang Yesus dengan hati yang terbuka.
Bayangkan seseorang yang berdiri di depan mata air. Ia bisa membaca papan petunjuk tentang mata air itu, mendengar cerita orang tentang kesegarannya, bahkan memotretnya. Namun selama ia tidak menunduk dan meminum air itu, dahaganya tetap tidak terpuaskan. Demikian pula iman kita. Yohanes Pembaptis mengajak kita bukan sekadar tahu tentang Yesus, melainkan memandang dan mengalami Dia.
Mengapa Yesus disebut Anak Domba? Dalam hidup sehari-hari, anak domba adalah lambang kelembutan, ketidakberdayaan, dan kepercayaan penuh. Anak domba tidak melawan, tidak menyerang, tidak memamerkan kekuatan. Ia hidup dengan berserah.
Yesus hadir di tengah dunia dengan cara seperti itu. Ia tidak datang dengan teriakan ancaman, melainkan dengan kelembutan kasih. Ia tidak mendobrak hati manusia, melainkan mengetuk perlahan. Ia tidak menguasai, tetapi merangkul. Dan justru di sanalah terletak kekuatan-Nya.
Sering kali kita mengira bahwa untuk bertahan hidup, kita harus keras. Untuk dihormati, kita harus tegas dan menekan. Untuk dianggap penting, kita harus menonjolkan diri. Namun Yesus menunjukkan jalan yang lain: jalan kelembutan, jalan pengorbanan, jalan kasih yang diam tetapi setia.
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menggambarkan panggilan hamba Tuhan yang tidak mudah. Ia merasa kecil, bahkan seolah-olah usahanya sia-sia. Namun Tuhan meneguhkan dia: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa.” Terang itu bukan untuk memamerkan diri, melainkan untuk menuntun orang lain agar tidak tersesat.
Terang yang sejati tidak menyilaukan, tetapi memberi arah. Seperti lampu kecil di malam hari yang cukup untuk menuntun langkah tanpa melukai mata, demikianlah cara Tuhan bekerja dalam hidup kita. Ia tidak selalu mengubah segalanya secara dramatis, tetapi setia menerangi langkah demi langkah.
Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus mengingatkan bahwa hidup seorang kristiani adalah panggilan untuk setia. Namun kesetiaan itu bukan beban yang harus dipikul sendirian. Kesetiaan lahir dari keyakinan bahwa Tuhan sendiri setia mendampingi kita sampai akhir.
Kadang kita lelah menjadi baik. Lelah mengampuni. Lelah setia. Lelah berjuang dalam kesunyian tanpa pujian. Dalam kelelahan seperti itu, kita diingatkan bahwa kekuatan kita bukan berasal dari diri kita sendiri, melainkan dari Kristus yang setia, bahkan ketika kita goyah.
Saudara-saudariku terkasih, banyak kegelisahan dalam hidup kita berakar pada satu hal: keinginan untuk diakui, dimengerti, dan dihargai. Ketika hal itu tidak kita peroleh, hati kita mudah terluka. Kita merasa tidak berarti. Kita merasa gagal.
Hari ini kita diundang untuk kembali memandang Yesus, Anak Domba Allah. Dengan memandang Dia, kita belajar bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan oleh penilaian orang lain, melainkan oleh kasih Allah yang setia. Kita berharga bukan karena prestasi kita, tetapi karena kita dikasihi.
Memandang Yesus juga mengubah cara kita memandang sesama. Kita dipanggil untuk menjadi lebih lembut, lebih sabar, lebih mau memahami. Dunia tidak selalu membutuhkan orang yang paling kuat, tetapi orang yang paling setia mengasihi.
Akhirnya, seperti Yohanes Pembaptis, kita pun diutus untuk menunjuk kepada Yesus. Bukan dengan kata-kata yang hebat, tetapi dengan hidup yang jujur, rendah hati, dan penuh kasih. Ketika orang melihat kedamaian dalam cara kita bersikap, ketulusan dalam pelayanan kita, kesabaran dalam penderitaan kita, mereka pun akan diajak untuk bertanya: siapakah sumber hidupmu? Kiranya seruan itu terus bergema dalam hati kita: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Seruan yang menenangkan, meneguhkan, dan menuntun kita pulang ke hati Tuhan. Tuhan memberkati kit semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa I

Sabtu Pekan Biasa I

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
17 Januari 2025
1Sam 9: 1-7 + Mzm 21 + Mrk 2: 13-17

Lectio
Suatu hari Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Meditatio
Yesus adalah seorang yang baik. Dia seorang Guru. Sebab orang banyak datang kepada-Nya, dan Ia mengajar mereka. Namun, mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? Inilah yang dipersoalkan oleh ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi. Bukankah sebagai seorang Guru, Dia harus memberi teladan yang baik? Bukankah Dia harus bergaul dengan orang-orang yang baik dan berpendidikan?
Apakah Yesus tidak memberi teladan baik? Yesus membuka konsep baru bagi setiap orang, yakni tugas perutusanNya. Yesus berkata kepada mereka: ‘bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa’. Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.
Kita pun harus berani menerima wacana dan konsep baru dalam pergaulan kita dengan sesama. Kita pun harus berani menerima wacana baru yang membuka doa-doa liturgis, agar semakin menyapa setiap orang yang hadir dalam perayaan liturgi. Liturgi hendaknya membuat setiap orang menikmati hidup yang selalu baru.

Oratio
Ya Yesus Kristus, Engkau datang hendak mencari anak-anak manusia yang hilang dan tersesat. Engkau mencari manusia, karena Engkau menghendaki semua orang beroleh selamat. Semoga kamipun menikmati janjiMu yang menyelamatkan itu. Amin.

Contemplatio
‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa’.

“IMAN YANG KREATIF DAN SOLUTIF”

“IMAN YANG KREATIF DAN SOLUTIF”

Jumat, 16 Januari 2026

Markus 2:1-12

          Saudara dan Saudari yang mengasihi dan dikasihi oleh Kristus. Iman memang ada perkara yang sangat personal, amat privasi, dan relasi intim setiap pribadi dengan Allah yang diyakininya. Namun, iman yang personal ini tidak dapat dilepaskan dan dipisahkan dengan kehadiran setiap diri di tengah keluarga, komunitas, lingkungan, kelompok, atau masyarakat secara umum. Setiap orang yang mengaku beriman akan selalu ada dan bersama dengan yang lainnya. Maka menjadi satu kebenaran dan kenyataan dalam hidup ini bahwa iman yang sangat personal ini akan tumbuh berkembang, semakin dewasa, dan terus dimurnikan dalam lingkup yang komunal di tengah keluarga, komunitas, dan kelompok di mana setiap harinya kita menjalankan rutinitas hidup.

          Kisah dalam Injil hari ini sungguh menarik untuk menjadi permenungan dalam hidup kita hari ini. Perhatian kita bukan hanya pada iman dan keyakinan si penderita, tetapi juga iman dan keyakinan rekan-rekannya yang membawa si sakit kepada Yesus. Cara dan upaya yang dilakukan sungguh luar baisa. Mereka tidak menyerah saat melihat kesulitan dan tantangan, tetapi justru menggunakan daya anugerah akal budi dan nurani menemukan cara atau solusi yang menyelamatkan.

          Pengalaman yang tersurat dan tersirat dalam Injil hari ini memberikan satu peneguhan iman bahwa iman yang hidup akan menuntun setiap pribadi menemukan jalan kreatif mengatasi dan mengantisipasi aneka hambatan yang ada. Iman melahirkan keberanian untuk membongkar bukan hanya atap rumah, tetapi membongkar atap keraguan dan ketakutan kita. Keraguan dan ketakutan untuk mengupayakan alternatif solusi daripada sekadar bersikap pasrah, menyerah, dan berdiam diri.

          Pengalaman iman personal yang dihadirkan dalam konteks komunal (bersama) akan melahirkan kekuatan solidaritas persaudaraan dan rasa kekeluargaan. Kita perlu berani untuk menyadari dan mengakui bahwa kita butuh sesama, butuh orang lain, butuh lingkungan dan alam ini agar bisa merasakan Allah yang hadir menyertai hidup kita. Inilah gambaran Gereja yang hadir dalam peziarahan manusia. Keselamatan diupayakan secara bersama-sama agar sukacita boleh dirasakan oleh semakin banyak orang. Menjadi suatu pertanyaan reflektif kecil bagi saya dan Anda sekalian “Apakah selama ini kehadiran orang-orang terdekat dalam keluarga menjadi penghambat atau pendukung untuk kita bisa semakin mengenal dan merasakan Allah yang hadir dan menyelematkan?”

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

Translate »