“Keseimbangan Kasih”
Renungan Lubuk Hati – Jumat, 13 Maret 2026
Injil Markus 12:28b-34
Saudara dan saudari yang dikasihi dan mengasihi Kristus, dalam perikop ini, Yesus menegaskan hukum yang terutama: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Pernyataan dan penegasan iman dalam ayat tersebut membawa kita hari ini untuk belajar menjaga keseimbangan dalam beriman.
Yesus tidak memisahkan kedua perintah mengasihi Allah dan sesama. Yesus justru menempatkannya sebagai satu kesatuan. Mengasihi Allah dengan totalitas hidup berarti menyerahkan seluruh diri kita kepada-Nya. Namun, kasih itu tidak berhenti pada relasi vertikal saja; ia harus mengalir dalam relasi horizontal, yaitu kasih kepada sesama. Suatu pola yang menjadi penekanan penting dalam proses beriman yaitu dinamika hidup manusia merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan kasih yang nyata. Tanpa kasih kepada Allah, kasih kepada sesama bisa menjadi rapuh, mudah berubah karena kepentingan pribadi. Sebaliknya, tanpa kasih kepada sesama, kasih kepada Allah bisa menjadi abstrak, tidak nyata dalam tindakan sehari-hari. Keseimbangan inilah yang sebenarnya senantiasa membuat iman kita hidup. Doa dan ibadah kepada Allah menemukan wujudnya dalam pelayanan, perhatian, dan solidaritas terhadap sesama. Satu rumusan doa yang berusaha menjaga keseimbangan yaitu DOA BAPA KAMI. Yesus memberikan penekanan konkret bagaimana menjaga relasi dengan Allah dan sesama dalam keseharian hidup.
Saudaraku yang terkasih, mengasihi Tuhan dengan total berarti menempatkan Dia sebagai pusat hidup. Tetapi tanda nyata dari kasih itu terlihat ketika kita mampu menerima, menghargai, dan menolong sesama, bahkan dalam hal-hal kecil. Kasih kepada Allah dan sesama bukanlah dua hukum terpisah, melainkan dua sisi dari satu koin yang sama. Masa prapaskah ini menjadi kesempatan yang nyata untuk bercermin bagaimana selama ini aku menjaga keseimbangan kasih ini di hadapan Allah dan di tengah kehadiranku bersam yang lainnya? Mari kita semakin memaknai masa retret agung ini dengan tetap seimbang menjaga iman, harapan, dan kasih. (RD Daniel Aji Kurniawan)