Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam C

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam C


(2Sam. 5:1-3; Kol. 2:12-20; Luk.23:35-43)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, hari ini Gereja menutup Tahun Liturgi dengan merayakan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, sebuah pesta yang mengajak kita memandang Yesus bukan hanya sebagai Guru dan Sahabat, tetapi juga sebagai Raja seluruh ciptaan. Perayaan ini dirayakan bersamaan dengan Hari Orang Muda Sedunia, seolah Gereja ingin menegaskan bahwa Kristus, Raja kita, hadir bukan untuk menjauhkan diri, melainkan untuk menyapa setiap orang, termasuk mereka yang muda dengan kasih yang memulihkan.
Ketika kita mendengar kata raja, pikiran kita spontan terarah pada gambaran duniawi: mahkota emas, takhta megah, istana yang penuh gemerlap, prajurit yang gagah, dan segala kenyamanan yang mengelilinginya. Banyak orang, baik disadari maupun tidak, ingin menjadi “raja”, walau sekadar raja sehari atau raja gadungan dalam keluarga, komunitas, atau tempat kerja. Raja yang dimaksud sering kali adalah sosok yang galak, mudah memerintah, ingin dihormati, dan merasa perlu diistimewakan. Namun gambaran seperti itulah yang justru membuat kita semakin sadar bahwa kerajaan dunia sering bertumpu pada kuasa, kehormatan, dan penampilan.
Sangat berbeda dengan Yesus. Kerajaan-Nya tidak beralas emas, melainkan bersandar pada kasih. Mahkota-Nya bukan permata, melainkan duri. Takhta-Nya bukan kursi berlapis beludru, melainkan kayu salib yang keras dan kasar. Uluran tangan yang Ia terima bukan rangkulan hangat, melainkan pukulan dan cemoohan. Bahkan kata-kata yang datang kepada-Nya bukan pujian, melainkan ejekan. Namun justru di tempat yang paling hina itulah wajah kerajaan Allah tampak begitu jelas: kerajaan yang berdiri di atas kerendahan hati, kesetiaan, dan pengorbanan.
Yesus menunjukkan kuasa-Nya bukan dengan memaksa atau menundukkan, tetapi dengan hati yang penuh belaskasihan. Sabda yang keluar dari mulut-Nya bukan ancaman, melainkan kehidupan. Dengan kata-kata yang sederhana, Ia menghidupkan kembali orang mati, menyembuhkan orang lumpuh, memulihkan orang buta, meredakan badai, dan mengusir roh jahat. Bahkan dari atas salib, di saat tubuh-Nya begitu lemah, Ia masih memberikan pengharapan: “Hari ini juga engkau akan bersama-Ku di Firdaus.” Sabda yang menguatkan, menenteramkan, dan membangkitkan harapan itulah tanda nyata bahwa Ia adalah Raja yang kerajaannya tidak berasal dari dunia ini.
Namun banyak orang pada zaman Yesus tidak mampu menerima hal ini. Mereka sulit membayangkan bahwa Mesias yang mereka nantikan sebagai pemimpin yang perkasa malah hadir sebagai pribadi yang lemah, dipukul, disalibkan, dan mati. Para murid pun
2
sempat mundur teratur ketika menyaksikan Guru mereka tidak berdaya. Pilatus sendiri merasa heran dan bertanya dengan sinis: “Apakah Engkau Raja orang Yahudi?” Sebuah pertanyaan yang lahir dari ketidakmengertian terhadap cara Allah berkarya.
Tetapi Yesus menjawab dengan penuh keteduhan: “Benar, Akulah Raja… tetapi Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Dengan jawaban itu Ia mengajak kita memasuki pemahaman yang lebih dalam mengenai jati diri-Nya. Pertama, Ia menyatakan diri sebagai Raja Kebenaran. Kebenaran yang Ia perjuangkan bukanlah teori atau ide, melainkan kebenaran yang memurnikan hidup manusia. Di zaman ketika kebohongan mudah dirayakan, ketika topeng-topeng dipakai untuk menutupi kepentingan pribadi, Yesus tetap berdiri teguh sebagai saksi kebenaran yang membongkar kepalsuan hidup. Kebenaran ini membutuhkan sahabat, orang-orang yang berani jujur, berani tampil apa adanya, berani menjaga suara hati agar tidak dikuasai tipu daya dunia.
Kedua, Yesus mengungkapkan bahwa kerajaan-Nya tidak sejalan dengan pola pikir kekuasaan dunia. Raja dunia menuntut rakyat berkorban demi dirinya. Tetapi Yesus, Raja kita, justru menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan umat-Nya. Ia tidak ragu turun ke tengah manusia, tinggal bersama orang kecil, merangkul yang rapuh, dan memulihkan yang tersingkir. Di hadapan-Nya tidak ada perbedaan kelas sosial, suku, jabatan, atau status apa pun. Semua dihargai, semua dicintai, semua dipanggil untuk tinggal di dalam kasih Bapa.
Ketiga, keselamatan yang berasal dari salib tidak hanya diberikan kepada penyamun yang bertobat, tetapi juga kepada siapa saja yang mau membuka hati. Penyamun itu tidak membenarkan dirinya, tidak mencari alasan, tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya berkata dengan jujur: “Yesus, ingatlah akan aku.” Kerendahan hati seperti itulah yang membuatnya layak menerima belas kasih Tuhan. Keselamatan bukan diberikan kepada mereka yang merasa sempurna, tetapi kepada mereka yang mengakui kelemahan, yang mau berubah, dan yang bersedia kembali ke jalan Tuhan.
Saudara-saudariku terkasih, merayakan Hari Raya Kristus Raja berarti membiarkan Kristus memerintah hidup kita. Bukan memerintah dengan ketakutan, tetapi dengan kedamaian. Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kelembutan. Bukan dengan tuntutan, tetapi dengan pengampunan. Semoga melalui perayaan ini, kita semakin berani menjadi saksi kebenaran, semakin rela menjadi hamba kasih, dan semakin terbuka kepada rahmat pertobatan. Kiranya Kristus Raja Semesta Alam menuntun langkah kita, menerangi hati kita, dan menjadikan hidup kita pantulan kecil dari kerajaan-Nya yang penuh damai. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

RENUNGAN: 18 NOVEMBER 2025

RENUNGAN: 18 NOVEMBER 2025

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Lukas 19:1–10

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus.

Injil hari ini menceritakan kisah yang sangat manusiawi dan menyentuh: kisah Yesus dan Zakheus. Di dalamnya, kita melihat dua gerakan rohani yang saling bertemu: gerakan kasih Allah yang mencari dan kerinduan manusia yang ingin melihat Allah.

Kisah ini dimulai dengan tindakan Yesus yang sedang “melewati kota Yerikho.” Tapi kalau kita perhatikan baik-baik, Injil tidak hanya menceritakan perjalanan biasa. Di balik pergerakan Yesus itu, ada maksud ilahi: Ia sedang mencari yang hilang. Yesus tahu siapa Zakheus, yaitu seorang kepala pemungut cukai yang kaya, tetapi juga dibenci banyak orang. Dalam pandangan masyarakat Yahudi, pemungut cukai adalah pendosa besar, pengkhianat bangsa karena bekerja untuk penjajah Romawi dan sering menipu rakyat. Namun bagi Yesus, tidak ada orang yang terlalu kotor atau terlalu jauh untuk diselamatkan. Yesus tidak menunggu Zakheus datang kepada-Nya. Yesuslah yang datang mencari. Inilah perbedaan besar antara kasih manusia dan kasih Allah. Manusia sering mengasihi yang pantas dikasihi, tetapi Allah mengasihi juga mereka yang tidak pantas. Ia mencari yang hilang, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk  menyelamatkan. Karena itu di akhir Injil, Yesus menegaskan: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk 19:10)  Yesus datang ke dunia bukan pertama-tama untuk menilai atau menghukum, tetapi untuk mencari dan mengangkat yang jatuh. Kasih Allah adalah kasih yang aktif — kasih yang tidak tinggal diam ketika ada anak yang tersesat.

Di pihak lain, kita melihat sosok Zakheus. Meskipun hidupnya penuh dosa dan  kebanggaan duniawi, dalam hatinya masih ada kerinduan untuk melihat Yesus. Injil mencatat: “Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu.” (Luk 19:3)  Kalimat sederhana ini namun sangat dalam maknanya. Kerinduan Zakheus adalah gambaran kerinduan manusia akan Allah. Setiap orang – bahkan yang paling berdosa sekalipun – memiliki kerinduan  terdalam untuk mengenal Sang Pencipta. Sering kali dosa, kesibukan, dan luka hidup menutupi kerinduan itu, tetapi tidak  pernah mematikannya. Zakheus ingin melihat Yesus, tetapi ada hambatan: ada orang banyak yang menghalangi pandangannya, dan tubuhnya yang kecil membuatnya tak bisa melihat di antara kerumunan. Namun, ia tidak menyerah. Ia mencari cara lain – memanjat pohon ara. Tindakan ini mungkin terlihat konyol bagi orang dewasa dan pejabat tinggi seperti  dia, tetapi justru di situlah kita melihat iman dan kerendahan hati. Zakheus rela meninggalkan kehormatannya demi melihat Yesus. Dan apa yang terjadi? Ketika Yesus lewat, Ia menatap ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”  (Luk 19:5) Yesus memanggil nama Zakheus — artinya Ia mengenalnya secara pribadi. Yesus tidak berkata, “Hei, orang berdosa, turun!” tetapi, “Zakheus.” Nama yang penuh kasih, panggilan pribadi dari hati Allah kepada hati manusia. Yesus tidak hanya ingin lewat di depan Zakheus, tetapi ingin tinggal di rumahnya. Dan di situlah keajaiban terjadi: Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Kerinduan yang sederhana itu berbuah perjumpaan yang menyelamatkan. Perjumpaan itu mengubah hidupnya: dari seorang pemeras menjadi seorang yang murah hati, dari yang tamak menjadi dermawan, dari yang hina menjadi sahabat Tuhan.

Saudara-saudari terkasih. Sabda Tuhan mengingatkan kita bahwa setiap orang berharga di mata Tuhan. Tidak ada hidup yang terlalu gelap sehingga tidak bisa dijangkau oleh terang kasih-Nya. Yesus mencari kita bukan karena kita sempurna, tetapi karena kita dicintai. Maka, jika hari ini kita merasa jauh dari Tuhan, merasa tidak layak, atau merasa sudah terlalu lama hidup dalam kesalahan, dengarkan sabda ini: “Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Yesus ingin hadir di “rumah” hati kita. Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk tinggal bersama kita dan  mengubah hidup kita dari dalam. Seperti Zakheus, mari kita terus memelihara kerinduan untuk melihat Yesus. Sebab selama hati kita masih rindu kepada Tuhan, maka selalu ada harapan. Karena di balik setiap kerinduan manusia, ada Allah yang lebih dahulu mencari.

Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua.

Minggu Biasa XXXIII C

Minggu Biasa XXXIII C


(Mal. 3:19-20a; 2Tes. 3:7-12; Luk. 21:5-19)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, kita telah tiba pada Minggu terakhir masa biasa tahun liturgi C. Minggu depan kita memasuki Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, kemudian memulai perjalanan rohani baru dalam Masa Adven, tahun liturgi A. Perjalanan liturgi Gereja seakan mengajak kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk mensyukuri penyertaan Tuhan, dan menatap ke depan dengan hati yang dipenuhi harapan.
Minggu lalu kita merayakan pemberkatan Gereja Basilika, dimana kita diingatkan untuk menjadi batu-batu yang hidup untuk dan menyiapkan hati kita sebagai tempat kediaman Allah sendiri. Minggu ini, Yesus mengajak kita merenungkan akhir zaman, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk meneguhkan kita agar tidak goyah ketika menghadapi guncangan hidup. Yesus menyebutkan hal-hal yang akan terjadi: Bait Suci dihancurkan, munculnya mesias palsu, perang antar bangsa, kekacauan alam, dan penganiayaan. Semua itu mudah membuat hati gentar. Namun justru di situlah suara Yesus berbisik lembut, “Inilah kesempatan bagimu untuk memberi kesaksian… Dengan ketekunan kamu akan memperoleh hidupmu.”
Yesus tidak mengajarkan kepanikan. Ia mengajarkan ketekunan. Seolah Ia berkata: “Jika besok kiamat, maka hari ini lakukanlah kebaikan sebanyak mungkin.”
Maka, hari ini adalah hari:

untuk mengasihi tanpa pilih-pilih,

untuk mengampuni tanpa menunggu orang meminta maaf,

untuk melayani dengan tulus,

untuk tetap melakukan yang baik walau dunia terasa berat.
Dengan demikian, ketika saat terakhir tiba, entah kapan, hati kita sudah siap, damai, dan tidak dikuasai ketakutan.
Saudara-saudariku terkasih, persoalan hidup tidak pernah benar-benar hilang. Selalu ada pergulatan, pertentangan, atau pengalaman ditolak. Tetapi iman mengajarkan bahwa semua itu bukan akhir. Di balik setiap badai, ada tangan Tuhan yang memegang kita. Jika kita bertahan di jalan-Nya, justru dari pergumulan itulah tumbuh pribadi yang lebih kuat, lebih matang, lebih tahan menghadapi masa depan.
Dunia hari ini pun sering menawarkan banyak kekhawatiran: resesi, wabah baru, harga-harga yang naik, ketidakpastian ekonomi, dll. Tetapi pesan Yesus tetap sama: “Jangan takut.” Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia hadir dalam setiap langkah kecil yang kita lakukan dengan iman dan ketekunan.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat Tesalonika: “Barangsiapa tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Ada orang yang memilih hidup kacau dan gelisah hanya karena takut akan masa depan. Padahal yang diminta Tuhan sederhana: tetaplah melakukan tugas harian dengan setia, apa pun keadaannya. Ketakutan sering membuat hati mengecil, tetapi ketekunan membuat hati berkembang.
Saya teringat ketika film “2012” muncul, banyak orang ketakutan. Ada yang berhenti bekerja, ada yang menghabiskan harta, bahkan ada yang putus asa. Padahal kiamat tidak datang hari itu, yang datang justru kesempatan untuk hidup lebih bijaksana. Maka, jangan biarkan ketakutan merampas masa depan kita.
Karena itu, mari mengisi waktu yang Tuhan berikan bukan dengan kecemasan, melainkan dengan kebaikan dan belas kasih. Gunakan waktu luang secara positif, belajar hal-hal baru, mengembangkan diri, berbuat baik bagi sesama. Di tengah krisis apa pun, kerja yang bermartabat tetap menjadi panggilan.
Kerja yang bermartabat adalah pekerjaan yang menghargai manusia, yang membangun relasi, yang menjaga nilai kemanusiaan. Sebab di mata Tuhan kita semua sama. Kelak, dalam kehidupan abadi, tidak ada lagi sekat-sekat: semua adalah saudara dalam kasih Bapa.
Semoga kita hidup saling menghargai, saling menguatkan, dan tetap berpengharapan. Tidak takut menghadapi hari esok, karena kita berjalan bersama Kristus. Dialah Raja Semesta Alam yang memegang sejarah dan masa depan kita.Tuhan memberkati kita semua. Amin.

MASA DEPAN

MASA DEPAN

Jumat, 14 November 2025

LUKAS 17:20-27

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

Hidup sekarang adalah persiapan menuju hidup masa depan. Injil hari ini menunjukkan situasi dahulu terjadi, yang sedang terjadi, dan pasti yang akan terjadi. Untuk itu, marilah kita merenungkan beberapa hal berikut:

  1. MEMAKNAI DUNIA

Seringkali banyak orang terjebak pada sarana sebagai tujuan. Orang mengira makan dan minum, membeli dan menjual, menanam dan menuai, kawin dan mengawinkan adalah sebuah tujuan hidup. Akibatnya, orang sudah merasa puas dan lega apabila hal tersebut terpenuhi dan bisa dinikmati.

Kitab Kebijaksanaan menulis, dari sarana yang ada manusia dihantar untuk menemukan Allah. Sebab pada akhirnya, dunia dan isinya akan lenyap. Hanya Kerajaan Allah sebagai tujuan hidup manusia akan bertahan.

Kalau demikian, makan dan minum itu adalah sarana bagi kita bukan semata-mata kita kenyang dan sehat, lebih daripada itu kita dihantar untuk mencari makanan dan minuman sejati, yakni Allah sendiri. Dalam Yohanes 4:34 Yesus mengatakan, “Makananku adalah melakukan kehendak Bapa.”

Membeli dan menjual bukanlah soal memenuhi kebutuhan hidup semata. Namun, hal itu juga sarana untuk melihat diri kita yang telah dijual kepada setan, lantas dibeli oleh Allah. Dalam 1 Kor 6:20 Rasul Paulus berkata: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan Tubuhmu”.

Lewat menanam dan menuai, kita diajak merenung, ternyata yang menumbuhkan itu adalah Allah, sehingga kita diminta untuk menanam kebaikan, supaya bisa menuai kebaikan sejati, yakni Allah.

Demikian halnya dengan kawin dan mengawinkan, peristiwa itu adalah sarana, agar seseorang dapat menemukan kekasih sejati, yakni Allah. Dengan mengasihi pasangannya, seseorang akan berjumpa dengan wajah Allah. Maka, tujuan segala-galanya adalah Allah sendiri.

  • MELIHAT AKHIR ZAMAN

Sebagai orang beriman, kita semua menantikan kedatangan Yesus yang kedua, yakni akhir zaman. Namun, situasi akhir zaman selalu digambarkan sangat mencekam. Bumi goncang dan bencana alam. Tata surya bertubrukan. Kejayaan yang dibangun oleh manusia akan hancur berantakan. Orang akan terkejut dan bingung dalam menyikapi realitas dunia yang dihujani api dan belereng serta kegelapan.

Mengapa semua itu terjadi? Apa artinya untuk kita? Manusia membangun dunia menuju kemegahan. Orang seringkali menganggap dan mengukur keberhasilan hidup adalah ketika semua hal bisa dijangkau dan dikuasai. Namun ternyata semua yang telah dihasilkan dengan usaha dan jerih payah sehingga menghasilkan yang luar biasa itu berakhir minus. Semua seakan tidak ada nilainya sama sekali.

Realitas ini hendak menunjukkan, bahwa Allah hendak menunjukkan yang utama dalam hidup manusia, yakni Allah sendiri. Keselamatan akan terjadi pada orang yang selalu berpegang pada kehendak Allah. Langit dan bumi ini akan musnah, tetapi cinta-Ku tidak akan musnah.

  • KEHILANGAN NYAWA

Teks Kitab Suci hari ini sedemikian mengejutkan. Di ayat 33 dikatakan, “Barang siapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawa, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.” Memelihara malah kehilangan, kehilangan justru menyelamatkan. Bagaimana bisa berlaku demikian?

Kita telah melihat, bahwa yang akan tetap ada adalah cinta. Apakah itu cinta? Cinta adalah Allah. Maka, dalam menatap masa depan menuju akhir zaman diperlukan kehilangan nyawa. Artinya, bukan diri kita ini yang penting. Bukan sukses kita yang utama. Bukan segala-galanya yang duniawi yang pantas kita raih. Semuanya itu bisa memupuk diri kita menjadi sekadar bermegah. Sebaliknya, keselamatan itu berarti meraih cinta, yakni Allah.

Santo Yohanes dari Salib dalam bukunya Mendaki Gunung Karmel mengatakan, untuk dapat meraih Segalanya, yakni Tuhan, orang harus berani meninggalkan segala-galanya. Cinta Tuhan justru ditemukan saat kita kehilangan nyawa, kehilangan segala-galanya, dan hanya Tuhan saja cukup.

RENUNGAN 13 NOVEMBER 2025

RENUNGAN 13 NOVEMBER 2025

LUKAS 17:20-25

Kerajaan Allah adalah Allah hadir memerintah dan memimpin sebagai raja/gembala atas bumi dan segala isinya. Allah datang dan sungguh hadir dalam diri Putera-Nya. Kehadiran Yesus dan segala mukjizat yang dibuat-Nya bagi orang berdosa, lemah, kecil, sakit, tersingkir adalah tanda-tanda Kerajaan Allah sedang hadir di bumi ini untuk mengalahkan segala kuasa kejahatan. Kata-kata yang diucapkan Yesus dalam pengajaran dan pewartaan adalah undangan bagi semua orang untuk mendengarkan Dia dan percaya kepada-Nya, serta mengajak orang bertobat menyadari segala kesalahan dan dosa-dosa pribadi. 

Kerajaan Allah hadir dalam wujud rohani. Di manapun ada kasih damai dan sukacita, keadilan dan perdamaian, pertobatan, pengampunan dan penyembuhan, maka disitulah hadir Allah sebagai raja yang memimpin. Kerajaan Allah pertama dan utama hadir dan lahir muncul di dalam keluarga.

Banyak orang mencari dan memaknai Kerajaan Allah ada di luar dirinya, di luar keluarganya. Ia mencarinya dengan berbagai aktivitas di komunitas kristiani atau di berbagai organisasi. Ia lupa dan mengabaikan orang-orang yang hidup bersama dengannya di dalam keluarga.  Orang-orang seperti ini hendaknya segera bertobat dan kembali ke keluarga. Di dalam keluarga sesungguhnya Kerajaan Allah dimulai lahir dan hadir baginya. Di dalam keluarga, Allah meraja dan memimpin setiap orang, agar hati dan jiwanya terbuka untuk memperhatikan, merawat dan memberikan hidup setiap anggota keluarga. Di dalam keluarga setiap orang belajar mendengarkan, mengampuni dan mengasihi secara total.

Setiap orang membutuhkan kehadiran saudara dan saudarinya. Bertindak bijaksana dalam membagi waktu dan memberikan perhatian satu dengan lainnya. Oleh karena itu, kebijaksanaan Ilahi sangat dibutuhkan oleh setiap orang dalam bersikap dan berperilaku menghadirkan Kerajaan Allah. Kebijaksaan adalah milik Allah. Kita mohon pada Allah agar diberi rahmat kebijaksanaan-Nya untuk ikut menghadirkan Kerajaan Allah.

Kapankah Kerajaan Allah hadir? Pertanyaan itu sama seperti pertanyaan orang Farisi. Orang Farisi bertanya kapan Kerajaan Allah akan datang. Mereka mengharapkan tanda-tanda besar seperti yang dapat dilihat di langit. Namun, Yesus menjawab bahwa Kerajaan Allah tidak dapat diamati dengan cara seperti itu; “Sebab, ketahuilah, Kerajaan Allah ada di antara kamu”. Kerajaan Allah datang dan hadir tanpa tanda-tanda fisik. Setiap orang perlu mengundang Allah untuk hadir dalam hidupnya masing-masing, dan mohon agar Allah sendirilah yang meraja di dalam hidupnya.

Hadir bersama mereka yang lemah, kecil, tersingkir dan terasing, difabel dan berbuat kasih, kebaikan, damai Sejahtera, keadilan dan perdamaian adalah wujud dari menghadirkan Kerajaan Allah. Mari kita menjadi orang bijaksana dalam menghadirkan Allah dan segala kebaikan-Nya. Tuhan memberkati keluarga. (rm. Medyanto, o.carm)

Translate »