Ketika Agama Kehilangan Tuhan
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Markus 3:1-6
Rabu, 21 januari 2026
Judul di atas saya pinjam dari judul puisi KH Mustofa Bisri yang lebih dikenal dengan Gus Mus. Saya mengutip dua bait pertama dari puisi tersebut karena menururt saya sangat membantu merenungkan sabda Tuhan hari ini,
Dulu agama menghancurkan berhala.
Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.
Dulu orang berhenti membunuh karena agama.
Sekarang orang saling membunuh karena agama.
Dulu orang saling mengasihi karena beragama.
Kini orang saling membenci karena beragama.
Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhan nya pun tak pernah berubah dari dulu.
Lalu yang berubah apanya?
Manusia nya?
Kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa melalui puisi tersebut Gus Mus menyorot agama yang kehilangan Tuhannya, kehilangan spirit atau daya rohaninya. Ketika agama kehilangan spiritnya, maka yang tinggal hanyalah aturan-aturan yang kaku, kering bahkan kejam. Sebab kebenaran tanpa cinta biasa berujung anarkhis. Sebaliknya cinta tanpa kebenaran hanyalah sentimental belaka.
Dalam warta hari ini, tampak kepada kita, Yesus hidup di tengah orang beragama yang kehilangan Tuhannya. Bagaimana tidak? Mereka datang ke rumah ibadat bukan untuk mencari Tuhan akan tetapi untuk mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Akan tetapi bagi Yesus inilah waktu yang baik untuk mengajar mereka. Saat itu ada orang yang mati sebelah tangannya. Yesuspun mengundang orang itu untuk berdiri di tengah-tengah mereka. Selanjunya, Yesus menyampaikan pertanyaan retoris, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Kiranya tidak ada sutu orangpun yang tidak tahu jawaban pertanyaan tersebut. Maka Yesuspun melakukan perkerjaan yang baik, yakni meminta orang sakit itu untuk mengulurkan tangan dan Iapun menyembuhkanya. Melihat kesembuhan tersebut, mereka bukan bersyukur kepada Tuhan, sebaliknya justru bersekongkol dengan para pendukung Herodes [Herodian] untuk membunuh Yesus.
Bagaimanakah hidup keberagamaan kita? Semoga kita bukan hanya beragama, melainkan beragama dan berspiritualitas. Dengan demikian kita akan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk berbagi berkat keselamatan-Nya dalam aneka bentunya.