Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

RENUNGAN LUBUK HATI 30 OKTOBER 2025 

RENUNGAN LUBUK HATI 30 OKTOBER 2025 

LUK 13:31-35

Paus Leo XIV mengajak kita berdoa rosario selama bulan Oktober untuk perdamaian dunia. Besok hari terakhir di bulan Oktober, tanda-tanda perseteruan antar bangsa masih terjadi. Perdamaian dalam skal kecil mungkin sudah terjadi walaupun belum sempurna. Selama perdamaian belum terjadi, maka tugas kita terus berdoa mohon perdamaian di dalam keluarga, komunitas, masyarakat, bangsa dan negara di dunia ini.

Perseteruan semacam itu pula yang terjadi antara orang Farisi dan ahli Taurat dengan Yesus. Orang Farisi mengingatkan Yesus agar pergi, tidak lagi berkarya disitu dengna alasan Herodes ingin membunuh-Nya. Bagi Yesu situ bukanlah alasan yang tepat jika ingin pergi dan meninggalkan amanah Allah Bapa. Justru Ia datang untuk menyampaikan pesan Allah Bapa kepada umat yang dikasihi-Nya. Bahkan Ia siap dan bersedia mati di Yerusalem. Ia hendak menuntaskan misi dari Allah Bapa: mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, membebaskan orang tertawan. Ia mempunyai kerinduan besar, seperti halnya kerinduan Allah Bapa yang ingin mengumpulkan orang-orang yang dikasihi sebagai satu kawanan. Kerinduan yang mendalam dan melahirkan tangisan. Kerinduan yang tak pernah tercapai, malahan sebaliknya Yerusalem dihancurkan dan warganya tercerai berai dibuang, diasingkan ke berbagai tempat di muka bumi ini. Bangsa yang jatuh bangun dan sulit untuk bisa setia dan taat pada Allah.

Kehadiran Yesus sungguh-sungguh ditolak. Perkataan dan perbuatannya tidak didengar dan tidak diterima sama sekali. Penolakan demi penolakan dialami oleh Yesus. Kaum Farisi, ahli taurat dan massa lainnya dengan berbagai cara membungkam Yesus. Tidak sedikit Yesus mengalami ancaman dari para lawannya, yang tidak paham dengan jatidiri Yesus. Mereka yang menolak kehadiran Yesus dan mengancam-Nya, justru mengalami kehancuran di masa depan.

Kita lihat keteguhan hati Yesus dan integritas dirinya pada misi Allah Bapa. Tak ada sesuatupun yang membuat Yesus mundur. Integritas kesatuan pikiran dan perasaan, kata dan perbuatan sungguh dihidupi dan dibagikan pada banyak orang. Mampukah kita memiliki keteguhan hati dan integritas diri ketikan mengalami penolakan dan ancaman?Kejadian yang dialami oleh Yesus, bisa juga terjadi pada setiap orang yang memperjuangkan keadilan perdamaian dan keutuhan ciptaan, dan menjadikan bumi ini rumah bersama yang layak untuk dihuni oleh setiap insan sebagai sesama saudara. Tak terbilang banyaknya mereka mendapatkan ancaman agar menghentikan aktivitas dan misinya yang Tuhan percayakan pada mereka. Mereka tidak melarikan diri dan tetap bertahan dengan perjuangan yang diyakininya. Apakah sebenarnya yang membuat mereka tetap teguh bertahan? Kasih Kristus yang mewarnai hidup mereka dan pengalaman dikasihi oleh Allah yang membuat mereka teguh bertahan. Tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kasih Kristus dari kerasnya kehidupan ini. Semoga kita pun diberi rahmat Allah untuk tekun teguh dalam iman dan harapan dalam  memperjuangkan keadilan dan perdamaian, kesembuhan bagi yang sakit jasmani dan rohani, hidup yang berkeadilan di dalam Masyarakat. Tuhan memberkati pergumulan dan perjuangan hidup kita. (rm. Medyanto, O.Carm)

Fondasi Gereja

Fondasi Gereja

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Pesta St. Simon dan Yudas, Rasul

Luk 6:12-19

Selasa, 28 Oktober 2025

Ada sebuah peribahasa, “Kuat Tunggak, Apa Kuat Gagak?” Peribahasa tersebut menekankan pentingnya membangun fondasi diri yang kuat (pendidikan, karakter, integritas, dan ketahanan mental) daripada hanya mengandalkan pengaruh luar [“gagak”].

Hari ini Gereja Katolik merayakan pesta St. Simon dan Yudas, Rasul. sebagai orang Katolik, kiranya kita harus bangga. Mengapa? Karena Gereja Katolik dibangun di atas dasar iman para rasul dan jemaat perdana, ”kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Krsitus Yesus sebagai batu penjuru” [Ef 2:19-20]. Iman yang kita miliki bukanlah iman yang lahir dari pengalaman pribadi seseorang. Iman yang kita warisi ini sudah teruji sepanjang sejarah kehidupan: sungguh benar, tidak menyesatkan, dan berasal dari Allah. Injil hari ini, yang mewartakan Tuhan Yesus memilih 12 rasul kiranya meneguhkan iman kita. Selain meneguhkan iman kita, peristiwa pemilihan 12 rasul juga mengingatkan kita, orang-orang yang telah dibaptis untuk mengamalkan martabat baptisan kita. Sebab dalam diri kita ada rahmat dan tugas pengutusan yang serupa ada dalam diri para rasul. Tubuh kita ini dibangun menjadi tempat kediaman Allah, tempat kediaman Roh Kudus, dan kita mendapat tugas untuk membangun tubuh Kristus bersama sesama.

Agar bangunan iman akan Kristus senantiasa bergaung dalam batin kita, maka kita harus hidup berdasarkan inspirasi para rasul, para murid. Sejak semula mereka datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia, dan untuk disembuhkan, diselamatkan [Luk.6:18]. Kita akan mampu menjaga rahmat dan tugas perutusan kita kalau kita setia mendengarkan Dia. Lagi pula sebagaimana ditegaskan oleh St. Paulus bahwa iman timbul dari pendengaran, yakni pendengaran akan firman Kristus [Rm 10:17]. Semoga St. Simon dan Yudas, Rasul mendoakan kita semua.

Minggu Biasa XXX C

Minggu Biasa XXX C


(Sir. 35:12-14.16-18; 2Tim. 4:6-8.16-18; Luk. 18:9-14)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita diajak untuk berdoa tanpa henti dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan yang selalu memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Hari ini, Yesus melanjutkan pengajaran itu dengan menyingkapkan sesuatu yang lebih dalam, bahwa doa yang berkenan di hadapan Allah lahir bukan dari kata-kata indah, melainkan dari hati yang rendah dan tulus.
Dalam perumpamaan-Nya, Yesus menghadirkan dua pribadi yang datang berdoa ke Bait Allah: seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Si Farisi berdoa dengan penuh kebanggaan diri. Ia menyebutkan perbuatan-perbuatan baiknya, ia tidak seperti pencuri, pezinah, atau pemungut cukai; ia berpuasa dua kali seminggu dan membayar persepuluhan. Kata-katanya tampak benar, tetapi hatinya jauh dari kerendahan. Ia berdoa bukan untuk memuji Allah, melainkan untuk meninggikan dirinya.
Sebaliknya, pemungut cukai berdiri jauh di belakang. Ia menundukkan kepala dan dengan penuh penyesalan hanya berbisik lirih, “Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa.” Tidak ada pembelaan, tidak ada alasan, hanya kerendahan hati yang jujur di hadapan Allah. Dalam pandangan manusia, ia hina; tetapi dalam pandangan Tuhan, dialah yang dibenarkan.
Saudara-saudariku, di sini Yesus ingin mengubah cara kita memandang doa dan iman. Allah tidak terpesona oleh kesalehan yang tampak di luar, tetapi oleh hati yang tulus mengakui kerapuhannya. Ia tidak mencari orang sempurna, tetapi mereka yang mau datang kepada-Nya dengan hati terbuka, memohon belas kasih dan kekuatan untuk berubah.
Kita semua punya sisi seperti si Farisi, mudah merasa lebih baik dari orang lain, menilai, bahkan mungkin tanpa sadar meninggikan diri dalam doa kita. Namun Yesus mengundang kita belajar dari pemungut cukai: datang dengan kesadaran bahwa tanpa kasih Tuhan, kita bukan apa-apa. Kerendahan hati inilah pintu bagi rahmat Allah bekerja dalam hidup kita.
Doa sejati, saudara-saudariku, bukan sekadar mengucap syukur dengan bibir, melainkan sikap hati yang selalu tahu bersyukur dan tidak menghina sesama. Doa sejati adalah perjumpaan penuh kasih dengan Allah, di mana kita menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah, dan karena itu kita pun terdorong untuk menjadi berkat bagi sesama.
Semoga dalam setiap doa kita, tersirat kerendahan hati untuk berkata, “Tuhan, Engkaulah kekuatanku.” Semoga kita selalu hidup dalam kesadaran akan belas kasih-Nya, dan dalam kerendahan hati itu, Tuhan pun memandang kita dengan penuh kasih sebagai orang yang dibenarkan di hadapan-Nya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

“HARAPAN RADIKAL”

“HARAPAN RADIKAL”

Kamis, 23 Oktober 2025

Lukas 12:49-53

          “Bersama Yesus hatiku tenang … Di dalam Yesus aku aman sentosa … Hanya pada Tuhan Yesus ada kelegaan … Yesuslah Sang Pembelaku … Yesus satu-satunya tempatku untuk berlindung dan berkeluh kesah … Yesus Tuhan yang menaungi hidupku …” dan masih banyak lagi ungkapan yang dapat saya dan Anda katakan untuk memberikan makna akan Yesus yang kita imani. Apakah salah? Tentunya bukan perkara salah dan benar, bukan juga soal baik atau buruk, apalagi soal keren atau captionable (caption instragam yang menarik). Ada satu hal yang tidak terpisahkan dari perjalanan dan peziarahan hidup beriman kita dalam mengenal dan memhami amanat Yesus dalam rutinitas keseharian kita.

          Hari ini Yesus memberikan pernyataan tegas dalam Injil Lukas yang bisa saja mengejutkan dan mengguncang ekspektasi kita pada Yesus sendiri. …”Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala!”“Kalian sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai, melainkan pertentangan!” … Perkataan Yesus kepada para murid yang memancing pertanyaan juga bagi saya dan Anda, apa maksud perkataan Yesus ini? Yesus “melemparkan api” ke bumi sebagai lambang Firman-Nya yang terus menerus akan menjadi sarana pemurnian diri setiap orang. Api yang memurnikan pertimbangan pikiran kita, motivasi kita untuk melakukan aksi, hati yang tetap terarah pada kebaikan dan kebenaran, dan setiap pilihan tindakan manusiawi yang kita setiap waktu dalam berbagai situasi dan persoalan. Api yang diharapkan terus menyala agar kualitas iman pun senantiasa terjaga. Mengapa demikian?

          Jawabannya bukan terletak pada narasi ide dan refleksi semata. Jawaban dari Sabda Tuhan ini ada dalam pergumulan dan perjuangan hidup kita setiap harinya. Ada banyak godaan yang membawa kita larut pada hiruk pikuk dunia, ada banyak tawaran dunia yang lebih menarik perhatian dan keinginan sesaat kita, ada banyak hiburan manusiawi yang mengabaikan sisi rohani yang perlu kita rawat, ada banyak penolakan dari orang-orang di sekitar kita ketika berupaya menyampaikan apa yang sejalan dengan kehendak dan Sabda-Nya, ada berbagai kelemahan manusiawi kita yang akhirnya membuat kita enggan untuk terus bertahan hidup baik dan benar di hadapan-Nya. Bahkan, tak jarang pikiran, pertimbangan, dan pilihan hidup kita membawa kita semakin jauh dari Allah sendiri. Kekuatan dunia dengan segala tawarannya terasa dan terlihat jauh lebih indah dan menyenangkan. Lantas, sekali lagi kita diingatkan dan disadarkan, apakah api iman itu masih menyala dan mampu memurnikan diri ini?

          Saudara dan saudari yang terkasih dalam Kristus Yesus, hidup dalam damai akan selalu menjadi kerinduan hati setiap orang. Namun, damai yang sesungguhnya butuh upaya pemurnian yang terus menerus tanpa mengenal kata selesai selama dan selagi kita berada di dunia ini. Kiranya Sabda Tuhan hari ini menjadi pegangan bahwa langkah peziarahan hidup kita hari ini adalah upaya pemurnian iman yang tanpa henti.

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

RENUNGAN: 21 OKTOBER 2025

RENUNGAN: 21 OKTOBER 2025

Lukas 12:35-38

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus.

Mengawali nasihatnya kepada para murid Yesus bersabda, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” Sebuah kalimat singkat, namun mengandung panggilan mendalam bagi setiap orang beriman.  Baik untuk kita ketahui bahwa dalam tradisi Yahudi, orang mengikat pinggangnya ketika hendak bekerja atau berjalan jauh. Maka kata-kata Yesus ini melambangkan kesiapan dan semangat untuk bertindak; sebuah panggilan untuk berjaga, siap sedia, dan setia dalam pelayanan. Kemudian, agar nasihat-Nya itu bisa dimengerti dan dipahami dengan baik oleh para murid-Nya Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan tentang seorang hamba yang menanti tuannya pulang dari pesta kawin. Para hamba itu tidak tahu jam berapa tuannya akan datang — bisa tengah malam, bisa dini hari — tetapi ia tetap berjaga.

Saudara-saudari terkasih.

Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk tidak terlena dalam kenyamanan, tidak duduk diam menunggu, tetapi siap bergerak dan melayani. Banyak orang mengaku beriman, tetapi kurang siap untuk melayani. Ada yang rajin berdoa, tetapi enggan turun tangan membantu sesama. Ada yang aktif di Gereja, tetapi mudah mengeluh ketika diminta berkorban waktu atau tenaga. Padahal, iman yang sejati selalu mendorong kita untuk bertindak. Mengikat pinggang berarti siap melakukan sesuatu, siap bekerja untuk Tuhan, siap melayani dengan kasih dan kesetiaan. Yesus sendiri memberi teladan yang luar biasa  dalam hal ini. Pada malam terakhir bersama para murid, Ia “mengikat pinggang-Nya” dengan kain, lalu membasuh kaki mereka satu per satu (Yohanes 13:4–5). Tindakan ini menunjukkan bahwa kesiapan untuk melayani adalah inti dari kasih. Orang yang siap melayani adalah orang yang hatinya terbuka, yang tidak hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk Tuhan dan sesama.

Saudara-saudari, kesiapsiagaan disini bukanlah persoalan waktu, melainkan sikap hati. Yesus tidak ingin kita sibuk menebak kapan Ia datang, tetapi Ia menghendaki agar kita hidup dalam kesadaran akan kehadiran-Nya setiap hari. Ia datang dalam banyak cara: dalam doa yang sederhana, dalam tugas harian yang kita lakukan dengan setia, dalam sesama yang membutuhkan perhatian dan kasih kita. Sering kali kita mengira bahwa Tuhan hadir hanya dalam peristiwa besar atau luar biasa, padahal Ia sering datang dalam hal-hal yang kecil dan biasa. Seorang ibu yang dengan sabar mendidik anak-anaknya; seorang guru yang dengan tekun membimbing murid-muridnya; seorang karyawan yang jujur dalam pekerjaannya; semua itu adalah wujud nyata dari kesiapsiagaan rohani. Setiap kali kita melakukan kebaikan dengan hati yang tulus, kita sedang menyambut Tuhan yang mengetuk pintu hati kita melalui orang-orang yang kita  layani

Yesus melanjutkan, “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga.”; dan lebih menakjubkan lagi, Ia menambahkan: “Aku berkata kepadamu: Ia akan mengikat pinggangnya, mempersilakan mereka duduk makan, dan Ia akan datang melayani mereka.” Saudara-saudari, inilah misteri kasih Allah yang luar biasa. Tuhan, Sang Tuan, yang seharusnya dilayani, justru menjadi pelayan bagi hamba-hamba yang setia.  Janji ini menunjukkan bahwa setiap kesetiaan kecil yang kita persembahkan kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Kesetiaan dalam doa, kesabaran dalam mendidik anak, ketekunan dalam pelayanan, pengampunan terhadap orang yang menyakiti; semua itu dilihat dan dihargai oleh Tuhan. Di hadapan Allah, bukan besar kecilnya pekerjaan yang penting, tetapi ketulusan hati dalam melakukannya. Ketika Yesus berkata, “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya berjaga,” Ia tidak sedang menakut-nakuti, melainkan menguatkan kita. Ia ingin agar kita tetap tekun dalam kebaikan, tidak menyerah, tidak menjadi suam-suam kuku. Karena siapa pun yang setia sampai akhir, akan mengalami sukacita perjamuan kasih bersama Tuhan sendiri.

Saudara-saudari terkasih. Mari kita mohon rahmat Tuhan, agar kita semua dapat menjadi hamba-hamba yang setia, yang selalu berjaga dalam cinta, melayani dengan sukacita, dan menantikan kedatangan Tuhan dengan hati yang berkobat-kobar.

Translate »