Browsed by
Month: January 2014

Ingin mendapatkan Renungan tiap hari?

Ingin mendapatkan Renungan tiap hari?

mailinglist

Fasilitas Mailing list

Kami menyediakan fasilitas mailing list bagi umat yang ingin mengikuti posting di lubukhati lewat email. Silahkan mengisi email anda di kolom sebelah kanan (seperti contoh) , dan ikuti petunjuk yang dikirimkan ke email anda.

Selamat menikmati,

Admin

Kasih Mengalahkan Segalanya

Kasih Mengalahkan Segalanya

1 Yohanes 4:11-18

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.

Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

***

Jika anda pernah mengenyam pendidikan di sekolah Katolik di Indonesia, terutama masa-masa sebelum milenium baru ini, pasti anda ingat akan guru yang paling ditakuti di sekolah. Pak A orangnya gampang marah, Suster B paling suka memukul pakai penggaris kayu, Pater C selalu ringan tangan untuk menggampar siswa yang tidak disiplin. Biasanya kalau guru-guru seperti itu masuk kelas, seketika ruangan menjadi sunyi dan semua murid tertib mendengarkan. Ketakutan memang bisa menjadi kekuatan luar biasa untuk mengendalikan sejumlah orang. Para guru kita yang terhormat bisa jadi menciptakan kesan angker itu demi menanamkan disiplin dalam diri kita.

Tetapi Surat Yohanes hari ini mengingatkan kita kalau ketakutan akan suatu hukuman tidaklah sempurna dalam kasih. Jika hubungan kita dengan orang lain cuma berlandaskan rasa takut akan hukuman dari mereka, hubungan itu tidak sempurna.

Ajaran gereja kita kadang bisa membuat takut. Konsep tentang dosa dan neraka, misalnya, bisa menimbulkan ketakutan akan suatu penderitaan kekal jika kita melanggar perintah Tuhan. Mungkin konsep ini diperlukan untuk membantu kita mematuhi ajaran-ajaran yang akan memperbaiki hidup kita. Tapi kalau kehidupan iman kita cuma berlandaskan ketakutan akan dihukum Tuhan dan masuk neraka, betapa sempit jadinya hubungan kasih kita dengan Tuhan.

Allah adalah kasih, dan kasih Allah mengalahkan segalanya, termasuk ketakutan dan dosa. Ahli filsafat Fransiskan terkemuka di abad pertengahan, Beato Yohanes Duns Scotus, mengatakan bahwa Allah begitu cintanya kepada kita sehingga Inkarnasi Yesus sebagai manusia akan tetap terjadi sekalipun bangsa manusia tidak pernah jatuh dalam dosa. Artinya, dosa bukanlah hal yang membuat Allah untuk mengirimkan PutraNya ke dunia, melainkan hanya kasihNya yang tak terhingga pada umat manusia. Yesus datang ke dunia karena Allah ingin memiliki hubungan kasih yang lebih erat dengan kita.

Bagaimanakah hubungan kita dengan Tuhan? Apakah kita menjalankan semua perintahNya semata karena kita takut dihukum kalau kita berbuat sebaliknya? Atau bisakah kita merasakan begitu besarnya kasih Tuhan kepada kita sehingga kita berusaha sekuat mungkin membalasnya dengan memperbaiki hubungan kita dengan Dia dan sesama?

Don’t Complain!

Don’t Complain!

Mark 6:33-45
Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.” Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

Seberapa sering kita mengeluh dan menyalahkan situasi sekitar: lalu lintas macet! Orang tidak tertib, ceroboh, dan melanggar aturan. Kadang kala situasi sekitar dipakai untuk melempar tanggungjawab yang seharinya ada di pundak kita. Namun kita memilih menghidar, dan memberikannya pada orang lain atau hal lain, sehingga membuat kita merasa tidak bersalah.

Para murid hari ini juga tak mau bertangung jawab atas situasi sekitar. Mereka meminta Yesus menyuruh orang pergi dan mencari makan untuk mereka sendiri. Tak mau susah, dan memikirkan orang lain. Tapi Yesus menjawab, “Kamu harus memberi mereka makan!” Beberapa murid masih menghindar tanggung jawab itu, “Tapi tak mungkin memberi mereka semua makan! Uang kita tidak cukup!”

Muncul seseorang yang ingin ikut memecahkan masalah dengan memberi 5 roti dan 2 ikan. Ia memberi apa yang dipunyai untuk terlibat menyelesaikan soal, bukan menambah masalah. Pemberian itu menjadi sarana bagi Yesus untuk membuat mukjijat penggandaan roti.

Mulailah melakukan sesuatu yang kecil dan berarti, dari pada sekedar mengeluh dan menyalahkan situasi. Berikan apa yang kita punya dan berbuat sesuatu, dari pada menjadi bagian dari persoalan. Semoga hari ini kita bisa menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari persoalan!

Setialah dalam pekerjaan kecil dan biarkan Tuhan membesarkannya!

Setialah dalam pekerjaan kecil dan biarkan Tuhan membesarkannya!

IMG_2800

Matthew 4:12-17, 23-25

  Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali,  supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan. 

Bacaan hari ini berkisah bagaimana Yesus memulai pekerjaannya setelah dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Desa Kapernaum dipilih sebagai pusat karyanya, dan dia berkeliling daerah seputar Galilea.

Kapernaum adalah sebuah desa kecil di sebelah utara danau Galilea. Injil Lukas dan Mateus menceritakan kalau ini desa asal dari Petrus, Yakobus, Yohanes, Andreas, dan Matheus pemungut cukai. Mereka semua menjadi pengikut Yesus. Lukas 7 juga menceritakan kalau di sini adalah tempat kepala pasukan Roma yang meminta Yesus menyembuhkan hambanya. Kata-kata prajurit Roma ini kita kenal sampai sekarang dalam Ekaristi, “Ya Tuhan, engkau tidak pantas masuk rumahku, berkatalah saja, maka hambaku akan sembuh.”

Dari penggalian arkeologi, ditemukan bahwa rumah Petrus menjadi tempat Yesus tinggal dan melalukan banyak penyembuhan. Dalam perkembangannya, rumah petrus ini menjadi sebuah tempat ibadah dan perkumpulan orang Kristen pada abad ke 2 sampai ke 4 masehi.

Sangatlah menarik bahwa Yesus memulai karyaNya di desa kecil Kapernaum yang berpenduduk hanya sekitar 1000 orang di masa itu. Dia tidak memulai kerjanya di kota besar, di metropolitan Yerusalem. Tentu saja, dia memulai pekerjaan di desa ini, karena dia juga berasal dari daerah kecil Nazaret. Namun kita bisa melihat lebih jauh strateginya bahwa karya ini dimulai dari daerah yang jauh dari pusat kekuasaan, jauh dari kota besar. Dia memulai dari tempat dimana orang kecil bisa menerima ajaran, lebih membutuhkan pertolongan, dan terbuka hati pada sabda Allah.

Ketika karya Yesus yang konsisten terus menyentuh dan membuat banyak orang terpana, seluruh orang kini mencarinya, “berbondong-bondong orang mengikuti Yesus dari seluruh Yerusalem dan Galilea.” Dia memulai dari kecil, tapi konsisten dan terus digeluti. Semua ini membuat orang ingin terus mengikuti dan ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Yesus.

Semoga kita semua bisa belajar dari karya misi Yesus. Mulailah karya yang biasa, konsisten, dan dibutuhkan oleh orang banyak. Jangan bermimpi membuat sesuatu yang besar dan bombastis, tapi tak konsisten. Waktu akan menguji karya itu. Dengan bantuan Tuhan dan doa kita, ketika kita konsisten dengan pekerjaan yang baik, buah-buahnya akan menyebar pada banyak orang, tanpa kita sadari!

Selamat bekerja, setia dalam pekerjaan kecil, dan terus dilakukan setiap hari. Biarlah Tuhan  yang menyelesaikannya.

 

Translate »