Browsed by
Month: March 2014

Ikuti Podcast renungan edisi Pra Paskah

Ikuti Podcast renungan edisi Pra Paskah

“Podcast edisi Khusus Prapaskah:
Mulai Rabu Abu, tiap jumat, sampai pekan suci”

semoga membantu kita makin mendalami
makna sengsara dan salib Tuhan Yesus
serta menambah semangat hidup Kristiani!

Abu

Abu

dust-to-dust-001

Bacaan I     : Yoel 2:12-18
Bacaan II    : 2 Korintus 5:20-6:2
Bacaan Injil : Matius 6:1-6, 16:18

Tim adalah seorang manajer restoran di Amerika. Suatu hari dia menerima pekerja baru, seorang imigran baru saja pindah ke US dengan penguasaan bahasa Inggris dan budaya baru yang agak terbatas. Tim menjelaskan peraturan liburan, cuti sakit, asuransi kesehatan. Kemudian dia juga menjelaskan tentang asuransi jiwa. Dia terangkan bawa jika Sang Karyawan meninggal, keluarganya akan mendapatkan $23.000.

Dengan wajah terkejut dan pucat, Sang Karyawan menyahut: “No, no, Tim!”
Tim pikir, dia tidak cukup terang dalam penjelasannya, maka diulanginya lagi, “Look, if you die, your family will get $25.000”.
Lagi, Sang Karyawan dengan wajah keruh menolak, “No. I don’t want it”
“Why not?” tanya Tim keheranan. “If you die, this will be good for your family.”
“But Tim,” seru Sang Karyawan, “I don’t want to die!!!”

Hari ini, saat abu ditorehkan di dahi kita, kita mendengar Sabda Tuhan dibisikkan “Ingatlah, manusia berasal dari abu dan akan kembali kepada abu” (cf. Kejadian 3:19. Versi alternative menekankan pada pertobatan: Bertobatlah dan percayalah pada Injil). Abu membawa kesadaran nafas kehidupan yang dihembuskan Allah dalam raga kita sewaktu-waktu akan dicabut. Abu mengajak kita mengakui kerapuhan kita, yang hadir serupa debu saja di jagad raya dan di dalam untaian sejarah panjang alam ciptaan yang tak terbayang ujung pangkalnya. Abu, saudara-saudaraku, selain mengajak kita mengosongkan dan merendahkan diri rebah sampai ke tanah, juga menyatakan luar biasanya kuasa kasih Ilahi yang memberi arti pada setitik Adam yang enggan untuk mati (adamah=tanah, sebagaimana ‘human’ punya akar kata sama dengan ‘humus’).

Pada dasarnya kita semua menolak untuk mati. Bahkan para martir dan pelaku jihad, juga orang-orang beriman kuat yang menyatakan siap atau bahkan merindukan sewaktu-waktu dipanggil Tuhan, menyediakan diri memeluk kematian karena keyakinan adanya hidup yang berkelanjutan bahkan lebih mulia. Persoalannya, kemuliaan yang diajarkan Tuhan untuk kita dambakan, bukanlah jenis kemuliaan dan kenikmatan untuk diri sendiri. Dalam hidup sehari-hari pun kita sering mengalami, kebahagiaan akan berlipat-lipat ganda jika muncul dari kesejahteraan yang dinikmati dan dirayakan bersama. Dan uniknya, kesadaran akan kematian tak jarang membuat kita lebih menghargai kehidupan, dan karenanya mengusahakan hidup yang lebih hidup dengan lebih memberi perhatian, lebih keluar dari diri sendiri, lebih berani mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain.

Hari ini, pandanglah wajah setiap saudara kita yang menerima abu bersama kita. Di hadapan Tuhan, kita semua sama debunya sekaligus sama mulianya. Di hadapan Tuhan, kita semua dipanggil mengikuti jalanNya, jalan kebenaran kebaikan dan keindahan, iman harapan dan kasih. Ke hadapan Tuhan, kita semua akan dipanggil kembali. Kita syukuri kita masih punya waktu merayakan kehidupan bersama orang-orang yang kita cintai, dan masih punya waktu untuk memberikan sebagian harta, bakat kemampuan, perhatian dan cinta kasih, pada mereka yang membutuhkan. Waktu ini, lebih dari waktu-waktu lain, adalah waktunya untuk berdoa (pada Tuhan), berpuasa (melatih pengendalian diri sendiri), dan beramal kasih (pada sesama). Selamat memasuki masa pra-paskah!

Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah
supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk,
supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah,
dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
(Yesaya 58:6-7)

 

 

Kalpataru

Kalpataru

800px-Kalpataru,_Kinnara-Kinnari,_Apsara-Devata,_Pawon_Temple

Bacaan 1      : 1Petrus 1:10-16

Bacaan Injil : Markus 10:28-31

Pernah mendengar kata Kalpataru? Mungkin yang terbayang adalah para pejuang kelestarian lingkungan hidup, karena demikianlah kata itu disematkan sebagai nama penghargaan pada mereka oleh pemerintah Indonesia. Kata ini pada awal mulanya merujuk pada mitologi Hindu tentang pohon kehidupan yang mengabulkan segala permintaan manusia. Persoalannya, manusia sering mengajukan permintaan yang salah.

Dalam salah satu perumpamaan oleh Ramakrishna, diceritakan sekelompok anak meminta permen dan mainan pada sang Kalpataru. Mereka mendapatkan yang mereka inginkan, tetapi juga gigi mereka jadi rusak dan mereka juga akhirnya bosan dengan mainan mereka. Mereka minta lebih banyak mainan dan permen, berpikir bahwa itu akan membuat mereka bahagia, tetapi tidak juga.  Saat mereka bertumbuh dewasa, mereka minta hal lain: kekayaan, ketenaran dan kekuasaan. Keinginan mereka terkabul. Tapi tak lama kemudian mereka menyadari, saat kekayaan bertambah-tambah, datang juga kecemasan, saat ketenaran melambung, kritik dan iri hati muncul, saat kekuasaan bertambah berlipat pula jumlah para musuh. Akhirnya saat mereka menjadi renta dan letih, mereka meminta kematian. Keinginan mereka terkabul. Persoalannya, mereka lahir kembali di bawah pohon yang sama dan karenanya nasib mereka terulang kembali.

Dalam tradisi Hindu, kisah ini merupakan salah satu penggambaran karma. Pemecahan masalahnya: melatih  dan memurnikan diri agar lepas bebas dari kerinduan-kerinduan duniawi dan membangun pengharapan yang benar berpusat pada kebaikan orang lain.  Sebagai orang Kristiani, kita tidak mempercayai karma. Kita juga tidak percaya bahwa kita bisa menyelenggarakan keselamatan sendiri tanpa campur tangan ilahi dalam diri Kristus.  Namun kiranya tetap ada kebijaksanaan universal yang kita bisa pelajari sejalan dengan ajaran Kristus: cari dahulu kebenaran dan kebaikan (cf kerajaan Allah), maka yang lain akan ditambahkan berlipat ganda.

Pikiran kita bukanlah sebuah Kalpataru yang 100% akan menentukan nasib kita. Tetapi benar, Tuhan menggunakan apa yang kita punya termasuk budi kita, untuk membawa kita pada keselamatan dan kebahagiaan sejati. Kalau kita melatih budi kita untuk berpikir yang bersih, benar dan mulia, kiranya kita akan lebih tersedia untuk mendengar dan melaksanakan SabdaNya secara lebih sungguh. Melalui St Petrus dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajar kita untuk percaya akan Penyelenggaraan Ilahi yang menjamin kecukupan dan kebahagian kita, sejauh kita sungguh memberikan diri padaNya. Melalui Petrus pula, dalam bacaan pertama hari ini, Tuhan memberi arah perjalanan, arah pengharapan, arah permintaan yang benar: mohonlah kekudusan, sebagaimana Dia yang memanggil kita kudus adanya. Maka kamu akan benar-benar hidup.

Budak

Budak

chained_slaveBacaan: Mark 10:17-27

Bayangkan, suatu pagi Anda terbangun dari tidur, dan menemukan tangan dan kaki Anda terikat rantai besi. Tiba-tiba Anda menemukan diri Anda terbaring di lantai semen yang dingin dan keras, dan sayap-sayap kebebasan yang selama ini Anda nikmati tanpa banyak pikirnya, taken for granted, sekonyong-konyong dipatahkan. Tiba-tiba Anda direnggut dari keluarga serta teman-teman, orang-orang yang paling Anda kasihi di dunia, juga dari pekerjaan yang menggairahkan serta hobi pengisi waktu luang yang menyegarkan. Dalam kegelapan, pintu terbuka, dan di hadapan Anda berdiri seorang laki-laki kulit putih dengan wajah dingin dan suara datar seperti seorang hakim menyatakan nasib Anda: kamu adalah budak terkutuk tanpa nama dan tanpa sejarah. Orang akan mengenangmu sebagai harta milik majikanmu. Namamu adalah Apa Kata Sang Tuan. Dan cahaya kecil lentera yang dibawanya menyapu kulit hitam legam Anda, yang karena pemberontakan Anda sebentar lagi akan berbecak merah darah dari kulit yang terkelupas dihantam batang kayu dan sabuk kulit.

Kisah Solomon Northup, warga New York berkulit hitam yang diculik di Washington dan dikirim menjadi budak selama 12 tahun di Lousiana tahun 1841 kemarin diberitakan memenangkan Oscar untuk kategori Film terbaik, setelah sebelumnya mendapat pengakuan sama dari Academi Awards, Golden Globe Award dan BAFTA Award. Kisah perjuangan seorang anak manusia yang menolak untuk sekedar survive di tengah deraan perbudakan, yang memilih untuk tetap hidup, menjadi cermin yang samar yang memantulkan semangat dasar setiap jiwa kita yang mendambakan kebebasan dan kehidupan sejati sebagai anak-anak Allah. Di tengah rantai kehidupan yang nampak mata maupun yang tersamar, jiwa kita senantiasa gelisah untuk meraup sukacita dan damai abadi, meraih keselamatan, kesyaloman. Kata “merdeka!” begitu mengelora dipekikkan, namun kita sadar juga, tak jarang kita menyerahkan kebebasan kita, membiarkannya tersandera, tergadaikan, terculik.

Disadari atau tidak, setiap hari kita terbangun dengan rantai-rantai mengikat kita. Bagi orang muda kaya dalam Injil hari ini, rantai itu adalah kekayaan berlimpah. Bagi kita mungkin kelekatan yang sama pada harta benda atau jabatan atau karier yang membuat kita memperlakukan prinsip yang berbeda saat berdagang, berpolitik, dan saat beribadat di Gereja. Nurani kita pasti akan menghentak-hentak seperti raungan Solomon di ruang tertutup di Washington sebelum ditransfer ke Louiana di malam buta, atau seperti tangis pilu seorang Ibu yang karena perbudakan direnggut dan dipisahkan dari anak-anaknya yang kecil. Nurani kita tahu, kita ini warga bebas Kerajaan Allah, bukannya budak Lucifer dan bala tentaranya, betapapun kenikmatan suka ditebarkan untuk membutakan mata dan memekakkan telinga.

Hari ini, sebelum menutup mata untuk beristirahat melepas lelah, mari kita syukuri karunia kebebasan dan kehendak jiwa untuk terus mengarahkan diri pada kebenaran, kebaikan dan keindahan. Mari kita selisik juga rantai-rantai yang masih melingkari tangan, kaki, ingatan, budi dan hati kita, seraya mohon rahmat Tuhan, semoga kita diberi kekuatan untuk lepas darinya. Agar pada waktunya kita temukan diri turut serta dalam perarakan menuju gunung Tuhan, untuk memuji dan memuliakan Dia selama-lamanya. Amien.

Translate »