Budak

Budak

chained_slaveBacaan: Mark 10:17-27

Bayangkan, suatu pagi Anda terbangun dari tidur, dan menemukan tangan dan kaki Anda terikat rantai besi. Tiba-tiba Anda menemukan diri Anda terbaring di lantai semen yang dingin dan keras, dan sayap-sayap kebebasan yang selama ini Anda nikmati tanpa banyak pikirnya, taken for granted, sekonyong-konyong dipatahkan. Tiba-tiba Anda direnggut dari keluarga serta teman-teman, orang-orang yang paling Anda kasihi di dunia, juga dari pekerjaan yang menggairahkan serta hobi pengisi waktu luang yang menyegarkan. Dalam kegelapan, pintu terbuka, dan di hadapan Anda berdiri seorang laki-laki kulit putih dengan wajah dingin dan suara datar seperti seorang hakim menyatakan nasib Anda: kamu adalah budak terkutuk tanpa nama dan tanpa sejarah. Orang akan mengenangmu sebagai harta milik majikanmu. Namamu adalah Apa Kata Sang Tuan. Dan cahaya kecil lentera yang dibawanya menyapu kulit hitam legam Anda, yang karena pemberontakan Anda sebentar lagi akan berbecak merah darah dari kulit yang terkelupas dihantam batang kayu dan sabuk kulit.

Kisah Solomon Northup, warga New York berkulit hitam yang diculik di Washington dan dikirim menjadi budak selama 12 tahun di Lousiana tahun 1841 kemarin diberitakan memenangkan Oscar untuk kategori Film terbaik, setelah sebelumnya mendapat pengakuan sama dari Academi Awards, Golden Globe Award dan BAFTA Award. Kisah perjuangan seorang anak manusia yang menolak untuk sekedar survive di tengah deraan perbudakan, yang memilih untuk tetap hidup, menjadi cermin yang samar yang memantulkan semangat dasar setiap jiwa kita yang mendambakan kebebasan dan kehidupan sejati sebagai anak-anak Allah. Di tengah rantai kehidupan yang nampak mata maupun yang tersamar, jiwa kita senantiasa gelisah untuk meraup sukacita dan damai abadi, meraih keselamatan, kesyaloman. Kata “merdeka!” begitu mengelora dipekikkan, namun kita sadar juga, tak jarang kita menyerahkan kebebasan kita, membiarkannya tersandera, tergadaikan, terculik.

Disadari atau tidak, setiap hari kita terbangun dengan rantai-rantai mengikat kita. Bagi orang muda kaya dalam Injil hari ini, rantai itu adalah kekayaan berlimpah. Bagi kita mungkin kelekatan yang sama pada harta benda atau jabatan atau karier yang membuat kita memperlakukan prinsip yang berbeda saat berdagang, berpolitik, dan saat beribadat di Gereja. Nurani kita pasti akan menghentak-hentak seperti raungan Solomon di ruang tertutup di Washington sebelum ditransfer ke Louiana di malam buta, atau seperti tangis pilu seorang Ibu yang karena perbudakan direnggut dan dipisahkan dari anak-anaknya yang kecil. Nurani kita tahu, kita ini warga bebas Kerajaan Allah, bukannya budak Lucifer dan bala tentaranya, betapapun kenikmatan suka ditebarkan untuk membutakan mata dan memekakkan telinga.

Hari ini, sebelum menutup mata untuk beristirahat melepas lelah, mari kita syukuri karunia kebebasan dan kehendak jiwa untuk terus mengarahkan diri pada kebenaran, kebaikan dan keindahan. Mari kita selisik juga rantai-rantai yang masih melingkari tangan, kaki, ingatan, budi dan hati kita, seraya mohon rahmat Tuhan, semoga kita diberi kekuatan untuk lepas darinya. Agar pada waktunya kita temukan diri turut serta dalam perarakan menuju gunung Tuhan, untuk memuji dan memuliakan Dia selama-lamanya. Amien.

Comments are closed.
Translate »