Browsed by
Month: December 2015

orang-orang pinter

orang-orang pinter

Bacaan Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini mengajak kita memiliki kesediaan untuk mengandalkan Allah dalam menekuni hidup sebagai orang beriman. Kita sering dihadapkan pada masalah-masalah kehidupan yang tidak mudah untuk mencari jalan keluarnya. Malah sering menimbulkan kecemasan dan kegelisahan dalam hati kita. Dalam mencari cara menghadapi kesulitan hidup, sering kali kita menjadi tidak sabar dan memaksakan diri untuk mencari solusi-solusi yang kita rasa akan “cepat” memberikan jawaban dan kelegaan hati kita.

Tidak jarang orang mencari penyelesaian lewat cara-cara paranormal dan mendatangi “orang-orang pinter”. Apakah ini bisa dibenarkan? Keberatan terhadap praktek paranormal dan “orang-orang pinter” adalah pemaksaan terhadap pencarian jawaban atas permasalahan, padahal sebagai orang beriman kita diajak untuk berpasrah diri dan mengandalkan Allah; kita diajak berani membiarkan diri dipimpin oleh Allah. Kita diajak untuk memahami bahwa setiap penderitaan memiliki makna kerohanian yakni ikut memanggul salib Kristus. Tidak setiap penderitaan harus dipaksa untuk dihentikan. Tidak setiap masa depan yang tidak kita ketahui harus dipaksakan untuk diketahui.

Mengandalkan Kristus dalam hidup sehari-hari adalah ketika seorang suami atau isteri menghadapi dengan tetap tabah dan tekun berdoa ketika mengetahui bahwa pasangannya memiliki wanita atau pria simpanan. Ia membiarkan Kristus memasuki hidup pasangannya dengan anugerah kebijaksanaan dan kesalehan sehingga pasangannya suatu saat nanti akan bertobat artinya kembali bersedia dipimpin oleh Tuhan.

Buah dari pertobatan adalah menjauhkan diri dari dosa sehingga mengalami rasa lega dan leluasa. Untuk ini orang perlu didorong untuk berbesar hati, karena Allah itu maha pengampun dan bukan menghukum. Berani mengandalkan Allah adalah suatu keberanian untuk beriman bahwa Kristus datang bukan untuk menuntut pertanggungan jawab atas hidup kita melainkan akan membawa dan menuntun kita menuju kebahagiaan.

Marilah kita menyongsong Natal dengan besar hati karena Allah berkenan pada umatnya yang memiliki kerapuhan. Kerapuhan kita bukanlah hal yang harus ditakuti dan ditutupi melainkan hal yang hendak disentuh oleh Kasih Tuhan. Untuk itulah Yesus berkenan dilahirkan di sebuah kandang yang hina. Yesus berkenan menyentuh kehinaan kerapuhan hidup kita.

Rm. Ignatius F. Himawan, msf

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA

 

8 Desember 2015

Seperti kita ketahui hari ini Paus Fransiskus membuka Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Apa itu Kerahiman Allah? Kerahiman Allah terwujud dan memuncak dalam peristiwa Yesus Kristus yang rela menjadi manusia hingga wafat di salib dan bangkit dari antara orang mati. Melalui perkataan, perbuatan dan seluruh pribadi-Nya, Yesus mewahyukan kerahiman Allah. Yesus Kristus menampilkan secara sempurna cinta Allah yang penuh belas kasih dan maharahim.

Kita diajak terus-menerus mengisi hidup kita dengan sikap syukur. Kita pantas bersyukur dengan segenap hati atas belas kasih-Nya yang tanpa batas dan terlibat dalam penderitaan manusia. Rasa syukur ini mendorong kita untuk bertobat terus-menerus. Hal ini mendorong kita untuk saling mengampuni. Kita diajak untuk senantiasa bersedia memperbaiki hidup di sekitar kita. Pertobatan tidak berhenti hanya pada penyesalan diri. Kita hendaknya semakin berbelas kasih, saling mengampuni dan memperjuangkan persaudaraan sejati dengan siapa saja.

Ketentraman umat manusia masih jauh dari kenyataan yang kita harapkan. Kebencian yang berakhir dengan kekerasan masih ada di dalam hati manusia. Dunia diliputi oleh atmosfir kegelapan. Melalui doa dan olah rohani yang kita lakukan kita ikut terlibat dalam memberi terang ilahi dalam dunia yang diliputi kegelapan ini. Mungkin kita tidak bisa mengubah segalanya, namun sekurang-kurangnya kita tidak menambah penderitaan dan kegelapan dunia ini.

Bapa Suci menegaskan “Gereja adalah suatu Kisah Kasih, bukan pertama-tama suatu institusi” dimana setiap orang mengalami kasih Allah yang tiada batas dan pada gilirannya mengalirkan kasih itu kepada sesama. Bahkan dengan tegas lagi dinyatakan bahwa hanya dengan “jalan cinta kasih” itulah Gereja dapat bertumbuh.

Maka marilah kita tekuni olah rohani kita dalam doa pribadi dan bersama terutama Perayaan Ekaristi, pembacaan dan renungan Kitab Suci bersama keluarga, lingkungan, kelompok doa. Dan tentu saja kita tidak boleh lupa akan tindakan konkrit yang mewujudkan kerahiman Allah kepada mereka yang masih kurang beruntung.

Rm. Ignatius F. Himawan, MSF

Senin, 7 Des 2016

Senin, 7 Des 2016

Senin, 7 Des 2016

Pada Minggu kedua Adven ini kita diajak untuk semakin mendalami makna pertobatan. Saya terkesan dengan renungan Mingguan yang ditulis di website KWI. Saya coba mengambil intinya sebagai berikut:

“Gagasan utama tobat bukanlah seperti yang sering kita dengar sebagai ungkapan sehari-hari yakni “kapok” dari perbuatan dosa atau kesalahan. Memang, menjauhkan diri dari dosa amatlah penting sebagai buah dari pertobatan. Yang pokok dari pertobatan adalah membiarkan diri dipimpin Tuhan, dan tidak usah lagi gelisah. Terjadi perubahan dari sikap hidup murung dan rasa terganjal menjadi lega dan leluasa.

“Dosamu sudah diampuni, bangunlah dan berjalanlah”. Kita diajak agar berani menanggalkan sikap menghukum diri dan membiarkan diri dituntun Allah sendiri agar dekat kepadaNya kembali. Keyakinan ini dihidupi oleh orang-orang saleh menjelang zaman Jesus. Ada gerakan kebatinan yang mengajarkan bahwa yang ilahi bukan lagi sebagai yang akan datang menghukum dosa-dosa melainkan sebagai Dia yang akan membawa kembali umatNya ke kebahagiaan bersamaNya.

Kita diajak untuk melihat ke arah datangNya Dia yang akan mengajar umat merasakan kasihNya. Iman sedalam dan seberani itu mengubah gambaran Yang Ilahi sendiri. Ia bukan yang jauh, melainkan yang mau mendekat dan peduli akan manusia dengan segala kelemahannya. Ia bukan lagi yang menuntut pertanggungjawaban, melainkan yang datang menguatkan manusia sehingga mampu hidup terus kendati kerapuhannya.”

Suatu “revolusi mental” kerohanian kiranya perlu untuk mendorong kita memahami mengapa kita perlu terus menerus bertobat. Kita sebagai orang dewasa seringkali mengalami situasi yang menekan atau depresi. Bukan depresi dalam arti klinis. Kita sering kehilangan apa yang dalam Bahasa Inggris disebut “Being delighted” yakni suatu situasi yang tiba-tiba muncul entah dari mana, tidak ada hujan angina, tiba-tiba kita bersyukur, “Tuhan saya bersyukur, Kau beri saya hidup”.

“Seketika itu juga bangunlah orang itu di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambal memuliakan Allah. Semua orang takjub, lalu memuliakan Allah.”

Marilah kita menyongsong Hari Raya Natal dengan kegembiraan, kita tanggalkan “baju perkabungan”. Kita biarkan Allah memimpin hidup kita, bukan kegelisahan, kecemasan dan kemurungan yang menuntun hidup kita

Duka -> Membagi Rahmat

Duka -> Membagi Rahmat

Sabtu, 5 Desember 2015

Yesaya 30:19-21, 23-26
Mazmur 147
Matius 9:35 – 10:1, 5A, 6-8

Air mata kita sudah dihapus. Makan dan minum diberikan berlimpah dan cuma-cuma. Sang Guru muncul untuk memimpin kita dan menunjukkan jalan. Luka kita sudah disembuhkan Tuhan. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Yesus berkata bahwa panen berlimpah, tapi penuai sedikit. Kita diminta untuk meneruskan misinya: pergi ke domba-domba yang hilang, beritakan Injil, sembuhkan yang sakit, bangkitkan yang mati, sembuhkan penderita kusta, usirlah setan!

Kita hidup di masa yang sepertinya sangat suram dengan segala kekerasan dan ketidakadilan. Tentu saja, reaksi pertama kita adalah duka yang mendalam. Tapi sebagai umat Kristiani, kita tidak bisa berhenti di situ. Rahmat yang kita terima dalam pembaptisan mengharuskan kita untuk bertindak sesuai apa yang diperbuat Yesus. Ketidakadilan, kekerasan, penindasan, haruslah kita lawan.

Beberapa hari lagi secara resmi kita memasuki waktu yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus secara khusus sebagai Tahun Yubileum Kerahiman Suci. Dalam pesannya, Sri Paus mengharapkan agar dalam tahun ini kita memberi perhatian kepada mereka yang berada di pinggiran, yang meninggalkan Gereja atau antipati terhadap Gereja karena merasa disakiti, tidak pantas, atau kecewa. Dapatkah kita menjadi saluran rahmat kasih Tuhan? Beranikah kita menghampiri sesama kita yang berada di pinggiran, yang kadang malahan bersikap curiga atau berkeras hati terhadap niat baik kita? Misi kita yang utama bukanlah menambah jumlah umat Katolik atau menambah umat paroki. Tapi yang paling penting adalah bersaksi melalui hidup, perkataan, dan tindakan kita bahwa Tuhan masih peduli terhadap mereka dan menunggu mereka untuk berserah kembali kepadaNya.

Kasihanilah Kami

Kasihanilah Kami

Jumat, 4 Desember 2015

Yesaya 29:17-24
Mazmur 27
Matius 9:27-31

“Kasihanilah kami, Anak Daud!”
Seperti dua orang buta dalam kisah Injil hari ini, sayapun ingin berteriak yang sama. Kemarin, di San Bernardino, sebuah kota di dekat Los Angeles, terjadi penembakan massal. Sampai saat ini sudah ada 14 orang yang meninggal. Sehari sebelumnya juga ada penembakan di Colorado. Beberapa minggu lalu Paris. Lalu di Mali, Afrika. Mungkin di dekat tempat tinggal anda ada lagi kekerasan-kekerasan yang tidak sesensasional peristiwa-peristiwa di atas, tetapi ikut membuat kita gelisah, sedih, marah, dan frustrasi. Hancur rasanya hati ini melihat begitu banyak kekerasan di dunia ini. “Kasihanilah kami, ya Tuhan!”

Tetapi seperti isi bacaan dari Nabi Yesaya hari ini, kita kembali diingatkan janji Tuhan untuk masa yang lebih baik: orang buta akan melihat, orang tuli akan mendengar, yang direndahkan dan miskin akan bersukacita, tiran dan penjahat akan dilenyapkan. Mazmur 27 pun menguatkan kita bahwa Tuhan adalah cahaya dan keselamatan; siapa lagi yang kita takuti? Jika kita ditanya seperti Yesus bertanya pada dua orang buta tadi, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” apakah jawaban kita?

Kita melihat sejarah keselamatan kita, terutama dalam masa Adven ini. Seorang teman saya mengirimkan puisi berikut dari Madeleine L’Engle:

This is no time for a child to be born,
With the earth betrayed by war & hate
And a comet slashing the sky to warn
That time runs out & the sun burns late.

That was no time for a child to be born,
In a land in the crushing grip of Rome;
Honour & truth were trampled by scorn-
Yet here did the Saviour make his home.

When is the time for love to be born?
The inn is full on the planet earth,
And by a comet the sky is torn –
Yet Love still takes the risk of birth.

Di tengah segala kekerasan dan kejahatan dan ketidakstabilan di dunia ini, Tuhan memilih untuk hadir di dunia. Dan dia pun memilih menjadi manusia. Coba kalau dia menjadi malaikat, mungkin lebih banyak orang yang akan tunduk dan takut pada dia, dan tidak mungkin mereka bisa menyalibkan dia. Tetapi sekali lagi, dia memilih menjadi salah satu dari kita. Ini semua karena kasihnya. Inilah harapan Adven kita.

Translate »