Browsed by
Month: December 2015

St. Fransiskus Xaverius

St. Fransiskus Xaverius

Kamis, 3 Desember 2015
Hari Raya Peringatan Santo Fransiskus Xaverius

Gereja St. Paul, Melaka
Gereja St. Paul, Melaka

Yesaya 26:1-6
Mazmur 118
Matius 7:21, 24-27

Menjelang saya menerima Sakramen Krisma, saya sibuk mencari nama santo/santa yang bisa dijadikan nama Krisma saya. Pilihan saya jatuh pada Santo Fransiskus Xaverius, karena pada waktu itu saya berpikir dialah satu-satunya santo yang pernah menginjakkan kakinya di Indonesia. Tidak heran banyak orang Katolik Indonesia nama depannya F.X. Tentu saja suatu bonus juga buat saya karena nama depannya Fransiskus, mengikuti pendahulunya yang dari Assisi. Bukan itu saja, saya memilihnya karena ia juga adalah santo pelindung para misionaris. Saya memang suka jalan-jalan, terutama ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, mempelajari kebiasaan dan kebudayaan di tempat itu. Salah satunya termasuk pergi ke Melaka beberapa tahun lalu dan melihat gereja tempat St. Fransiskus Xaverius dikuburkan, sebelum jenazahnya dipindahkan ke Goa.

Bahwa St. Fransiskus Xaverius menjadi santo pelindung para misionaris memanglah pantas. Dari Eropa dia menjelahi Afrika, India, Malaysia, Indonesia, sampai Jepang. Impian besarnya adalah menyebarkan Injil ke tanah Tiongkok. Tapi sayang ia hanya kesampaan untuk memandang daratan Tiongkok dari Pulau Shangcuan sebelum meninggal dunia karena sakit. Semangatnya untuk menyebarkan Kabar Baik tentang Yesus begitu besar. Bisa kita bayangkan zaman itu untuk berlayar jauh tidaklah mudah. Badai bisa tiba-tiba menghadang. Belum lagi penyakit, kelaparan, dan sebagainya.

Seperti Injil hari ini, di mana digambarkan bahwa hujan, banjir, dan angin ribut tidak akan bisa menggoyahkan mereka yang melaksanakan ajaran Yesus, kita melihat semangat yang sama dalam diri St. Fransiskus Xaverius. Sudahkah kita menanamkan batu fondasi yang kuat itu dalam diri kita? “Hujan, banjir, dang angin” macam apa yang menerpa hidup kita saat ini? Bisakah kita bertahan?

Papa Bagi Makan

Papa Bagi Makan

Rabu, 2 Desember 2015

Yesaya 25:6-10
Mazmur 23
Matius 15:29-37

Istilah-istilah baru muncul dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Pertama ada “Mama minta pulsa,” modus penipuan melalui SMS yang seolah-olah ibu kita sendiri minta dikirimkan pulsa karena sudah mau kehabisan. Lalu akhir-akhir ini beredar kabar bahwa seorang pejabat DPR RI meminta saham kepada Freeport sebagai syarat melancarkan bisnis mereka. Hal ini menimbulkan plesetan baru: “Papa minta saham.”

Dunia kita, anda sadari atau tidak, telah terjangkiti tingkat konsumerisme yang akut. Semuanya kita minta. Dan lebih parah lagi, mereka yang sudah mendapat, tidak mau berbagi. Akibatnya, jurang antara si miskin dan kaya semakin lebar. Tidak usah jauh-jauh, kalau anda tinggal di Jakarta contohnya ada di mana-mana: pemukiman kumuh berdiri di sebelah mal yang megah atau kompleks apartement mewah. Kritik ini juga disinggung oleh Paus Fransiskus dalam ensiklikalnya Laudato Si’. Perusakan lingkungan disebabkan oleh kerakusan manusia, dan yang terkena getahnya biasanya mereka yang paling miskin.

Semua bacaan hari ini menggambarkan bagaimana anugerah Tuhan berkelimpahan dan lebih dari cukup untuk kita semua: makanan yang lezat dan anggur pilihan (Yesaya), piala yang isinya tumpah-ruah saking penuhnya (Mazmur), tujuh roti dan beberapa ikan yan bisa membuat kenyang massa yang begitu banyak (Matius). Tuhan menciptakan Bumi yang kaya raya dan isinya sebenarnya lebih dari cukup untuk kita semua. Sayangnya kita mau lebih dari yang kita butuhkan, kita terus meminta lebih, lebih, dan lebih lagi. Kita menolak untuk berbagi, terutama dengan mereka yang sangat membutuhkan. Kita menumpuk kekayaan karena kekhawatiran senantiasa menghantui kita bahwa kita akan kehabisan harta. Percayakah kita bahwa Sang Bapa yang baik pasti mencukupi kita, sepanjang kita juga bertanggung jawab dengan mengambil hanya sesuai kebutuhan kita?

Translate ยป