IKUTLAH AKU!
Mat. 9:9-13.
Jumat dalam Pekan XIII
Saudari-saudaraku yang terkasih, tak satu pun dari kita yang tanpa dosa. Jadi, sangat menghibur mendengar kata-kata Yesus dalam Injil hari ini: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Yesus datang untuk memanggil orang-orang berdosa, kita semua. Dia akan selalu memilih kita dan kita harus mengambil langkah untuk mengikuti-Nya. Jalannya tidak mudah tetapi Yesus akan terus berkata: Ikutlah Aku. Kita tahu bahwa kita ‘cacat’ dan pendosa, tetapi Yesus melihat kita, melihat kebaikan dalam diri kita. Maka, ketika kita mengindahkan panggilan itu, kita tahu bahwa kita bisa melakukan lebih baik dan lebih baik lagi. Oleh karena itu, kita tidak perlu takut atau malu untuk mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang ‘sakit’ rohani dan membutuhkan Tuhan. Menolak fakta itu berarti menyangkal kenyataan dan menyangkal sumber penyembuhan yang paling kita butuhkan dalam hidup ini, yakni Sang Juru Selamat, Yesus Kristus.
Menurut saya, salah satu langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah mempelajari arti kata-kata Yesus kepada orang Farisi, yakni menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang di sekitar kita dan juga menunjukkan belas kasihan kepada diri kita sendiri. Apa wujud konkritnya? Pertama, mari kita melihat diri kita. Mari renungkan aspek aspek apa dalam hidup kita yang membutuhkan pengampunan? Mari luangkan waktu untuk memeriksa hati nurani kita dan mencari cara untuk melakukannya dengan lebih teliti dan jujur. Jika kita melakukannya, yakinlah bahwa Tuhan kita, Tabib Ilahi, akan sangat ingin makan bersama kita hari ini dan selamanya seperti yang dilakukannya terhadap pemungut cukai dan orang-orang berdosa dua ribu tahun lalu.
Kedua, berpangkal pada pengalaman dan keyakinan akan kasih Allah yang kita alami dalam poin pertama, mari kita tujukkan belas kasih kepada sesama. Kita tunjukan semangat ini dengan melihat kebaikan-kebaikan orang-orang di sekitar kita, menanggalkan prasangka-prangka buruk, menggantikan kebiasaan menghakimi dan memberi cap negatif kepada orang lain dengan semangat mengampuni serta menumbuhkembangkan semangat bekerjasama dengan siapapun dalam memerangi kecenderungan kita untuk pilih kasih dan membeda-bedakan orang. Sekedar informasi tambahan, beberapa dokter saat ini meyakini bahwa ada hubungan yang erat antara perasaan negatif, terutama tidak mau memaafkan, dengan penyakit fisik. Mereka menyarankan sikap positif dan memaafkan serta melepaskan untuk penyembuhan yang lebih cepat.
Saudari-saudaraku terkasih, mari kita menanggapi ajakan Yesus seperti yang ditujukkan kepada Matius, “Ikutlah Aku” dengan cara berbelaskasihan sebagaimana Allah berbelas kasih. Panggilan Matius mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu berusaha untuk masuk ke dunia hidup kita, apa pun keadaan hidup kita. Tuhan menerobos untuk mengomunikasikan belas kasihan-Nya yang tak terbatas kepada kita, sehingga kita dapat berbagi lebih penuh dalam pekerjaan Tuhan di dalam dunia dan hidup kita.