Minggu Biasa XIA

Minggu Biasa XIA


(Kel 19:2-6a; Rom 5:6-11; Mat 9:36-10:8)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita melihat seorang anak kecil yang tersesat di keramaian? Wajahnya kebingungan, matanya mencari-cari seseorang yang bisa menolongnya, sementara orang-orang berlalu-lalang tanpa memperhatikannya. Gambaran itu kiranya membantu kita memahami perasaan Yesus dalam Injil hari ini. Ketika melihat orang banyak, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, sebab mereka “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Mereka hidup, tetapi kehilangan arah. Mereka berjalan, tetapi tidak tahu ke mana harus melangkah. Mereka berada di tengah banyak orang, tetapi merasa sendirian.
Belas kasih Allah yang kita lihat dalam diri Yesus sesungguhnya sudah tampak sejak Perjanjian Lama. Dalam bacaan pertama, Allah memanggil bangsa Israel di Gunung Sinai dan berkata bahwa mereka akan menjadi “harta kesayangan”, “kerajaan imam”, dan “bangsa yang kudus”. Allah tidak memilih Israel karena mereka bangsa terbesar atau terkuat, melainkan karena kasih-Nya. Mereka dipanggil bukan untuk menikmati pilihan itu bagi diri sendiri, tetapi untuk menjadi tanda kehadiran Allah bagi bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, sejak awal Allah selalu memanggil suatu umat agar menjadi saluran kasih-Nya bagi sesama.
Panggilan yang sama diteruskan oleh Yesus dalam Injil. Ia memanggil dua belas rasul dari berbagai latar belakang, ada nelayan sederhana, ada pemungut cukai yang dipandang rendah, ada pribadi-pribadi dengan karakter yang berbeda-beda. Pilihan Yesus ini mengandung pesan yang sangat indah, dimana Allah tidak menunggu seseorang menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum dipanggil. Justru melalui orang-orang biasa, Allah melakukan karya-karya yang luar biasa. Karena itu, jangan pernah merasa terlalu kecil, terlalu lemah, atau terlalu tidak pantas untuk melayani Tuhan. Yang dicari Tuhan pertama-tama bukanlah kemampuan kita, melainkan kesediaan hati kita.
Lalu dari mana kekuatan untuk menjalankan panggilan itu? Di sinilah bacaan kedua memberi jawabannya. Santo Paulus mengingatkan bahwa Kristus telah mengasihi kita ketika kita masih lemah dan berdosa. Ia menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan kita. Artinya, dasar dari setiap perutusan bukanlah kehebatan manusia, melainkan kasih Kristus yang lebih dahulu menyelamatkan kita. Orang yang sungguh menyadari dirinya telah dikasihi akan lebih mudah mengasihi. Orang yang pernah merasakan pengampunan Tuhan akan lebih mudah mengampuni. Orang yang pernah diteguhkan oleh Tuhan akan terdorong untuk meneguhkan sesamanya.
Karena itu, tugas perutusan tidak selalu berarti berkhotbah di mimbar atau melakukan hal-hal besar. Sering kali perutusan dimulai dari hal-hal sederhana yang lahir dari belas kasih: menjadi pendengar bagi mereka yang sedang terluka, menghibur mereka yang kehilangan harapan, mendamaikan anggota keluarga yang bertengkar,
membantu mereka yang sedang kesulitan, atau sekadar menyapa seseorang yang merasa dilupakan. Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang hidup seperti domba tanpa gembala, mereka yang cemas akan masa depan, orang tua yang khawatir memikirkan pendidikan anak-anaknya, kaum muda yang kehilangan arah hidup, mereka yang terluka oleh konflik keluarga, atau mereka yang merasa tidak lagi dicintai. Kehadiran kita yang penuh perhatian bisa menjadi tanda bahwa Allah belum meninggalkan mereka.
Memang, tidak jarang ketika berusaha melakukan kebaikan, kita mengalami penolakan. Ada yang menertawakan, ada yang salah paham, bahkan ada yang membalas kebaikan dengan sikap yang tidak menyenangkan. Namun, Santo Paulus mengingatkan bahwa kita telah diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus. Karena itu, jangan biarkan penolakan memadamkan semangat pelayanan kita. Yesus sendiri mengalami penolakan, tetapi Ia tidak berhenti mengasihi. Ia tetap berjalan, tetap menyembuhkan, tetap mengajar, dan tetap menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan dunia.
Saudara-saudariku terkasih, setiap kali kita melihat penderitaan, kebingungan, dan kesepian di sekitar kita, jangan hanya bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi?” Mungkin Tuhan justru sedang bertanya kepada kita, “Maukah engkau menjadi jawaban-Ku bagi mereka?” Sebab melalui tangan kita, Tuhan ingin menolong. Melalui kata-kata kita, Tuhan ingin menghibur. Melalui hati kita, Tuhan ingin menghadirkan belas kasih-Nya.
Semoga dalam Ekaristi ini kita semakin menyadari bahwa kita adalah umat pilihan Allah, yang telah dikasihi dan diselamatkan oleh Kristus, serta diutus untuk menjadi pembawa harapan bagi dunia. Dan semoga ketika orang lain berjumpa dengan kita, mereka dapat merasakan sedikit dari belas kasih Yesus yang sama, yang dahulu menggerakkan hati-Nya ketika melihat domba-domba yang terlantar. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »