Minggu Biasa XIIIA
(2Raj. 4:8-11.14-16a; Rom. 6:3-4.8-11; Mat. 10: 37-42)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, ada sebuah cerita yang mungkin membuat kita tersenyum. Suatu hari seorang tamu datang ke sebuah rumah dan mengetuk pintu sambil berkata, “Permisi…” Dari dalam rumah terdengar suara, “Siapa?” Tamu itu menjawab, “Saya.” Lalu terdengar lagi, “Maaf, orang rumah sedang tidak ada.” Padahal suara yang menjawab itu terdengar sangat jelas. Rupanya orang itu sebenarnya ada di rumah, hanya saja ia sedang malas menerima tamu. Kadang-kadang kita juga bersikap seperti itu kepada Tuhan. Bukan karena Tuhan tidak mengetuk pintu hati kita, melainkan karena kita sedang sibuk dengan urusan sendiri. Kita berkata, “Nanti dulu, Tuhan. Saya sedang sibuk mengejar pekerjaan, mengejar uang, mengejar kenyamanan.” Akibatnya, pintu hati perlahan-lahan tertutup. Hari ini Sabda Tuhan mengajak kita membuka kembali pintu hati itu.
Bacaan pertama menghadirkan sosok seorang perempuan Sunem. Ia bukan nabi, bukan imam, bukan tokoh besar. Ia hanyalah seorang perempuan sederhana yang memiliki satu kelebihan: hatinya terbuka. Ketika melihat Nabi Elisa sering melewati daerahnya, ia tidak berpikir panjang. Ia menyediakan makanan, tempat beristirahat, bahkan membangun sebuah kamar kecil agar sang nabi merasa nyaman. Yang menarik, perempuan itu tidak pernah berkata, “Kalau saya menolong Nabi Elisa, nanti saya dapat apa?” Ia hanya memberi. Dan justru karena ketulusannya itu, Allah menghadiahkan sesuatu yang selama ini mustahil baginya, yaitu seorang anak. Berkat Allah datang bukan karena ia menghitung-hitung jasa, melainkan karena ia lebih dahulu membuka pintu kasih.
Saudara-saudariku terkasih, Injil hari ini sebenarnya berbicara tentang hal yang sama. Yesus berkata, “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.” Kalimat ini luar biasa indah. Artinya, Kristus sering datang kepada kita dengan wajah yang tidak kita duga. Kadang Ia datang melalui seorang imam yang mengunjungi umat. Kadang melalui tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Kadang melalui seorang anak yang membutuhkan perhatian. Kadang melalui orang tua yang membutuhkan waktu kita. Bahkan bisa jadi Tuhan datang melalui seseorang yang selama ini justru paling sulit kita terima. Persoalannya bukan apakah Tuhan datang, melainkan apakah hati kita masih terbuka.
Karena itu Yesus melanjutkan sabda-Nya yang sering kali membuat kita terkejut, “Barangsiapa mengasihi ayah atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Yesus sama sekali tidak mengajarkan kita untuk mengurangi kasih kepada keluarga. Yang ingin Dia ajarkan adalah bahwa Tuhan harus menjadi pusat dari segala kasih. Kalau Tuhan berada di tempat pertama, seorang bapak akan menjadi suami yang lebih baik, seorang istri akan menjadi lebih sabar, orang tua akan lebih bijaksana, anak akan
lebih hormat, dan menjadintetangga yang lebih peduli. Tetapi kalau Tuhan disingkirkan dari pusat kehidupan, kasih kita perlahan berubah menjadi kasih yang penuh syarat: aku mengasihi kalau dihargai, aku membantu kalau diuntungkan, aku memberi kalau ada balasannya. Itulah sebabnya Yesus mengajak kita mengikuti-Nya dengan sepenuh hati, bukan setengah-setengah.
Lalu, bagaimana kita mampu hidup seperti itu? Jawabannya diberikan Santo Paulus dalam bacaan kedua. Dia berkata bahwa kita telah dibaptis dalam kematian Kristus supaya kita hidup sebagai manusia baru. Artinya, sejak dibaptis kita tidak lagi hidup hanya untuk diri sendiri. Bayangkan sebuah telepon genggam. Kalau baterainya habis, secanggih apa pun telepon itu tetap tidak bisa digunakan. Kameranya bagus, memorinya besar, aplikasinya lengkap, tetapi tetap mati karena tidak ada daya. Begitu pula hidup kita. Kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri, lama-kelamaan kita akan kehabisan “baterai”. Kita mudah marah, mudah kecewa, mudah putus asa, bahkan mudah kehilangan sukacita. Tetapi baptisan membuat kita tersambung dengan sumber kehidupan, yaitu Kristus sendiri. Kristuslah yang mengisi kembali “daya rohani” kita sehingga kita mampu mengampuni ketika disakiti, tetap setia ketika lelah, tetap tersenyum ketika menghadapi kesulitan, dan tetap mau berbagi ketika orang lain memilih menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri.
Saudara-saudariku terkasih, sebagai orang yang telah dibaptis, kita menerima tiga tugas Kristus. Sebagai imam, nabi dan raja. Sebagai imam, kita dipanggil untuk menguduskan hidup melalui doa, Ekaristi, dan hidup yang dekat dengan Tuhan. Sebagai nabi, kita mewartakan Injil bukan pertama-tama dengan mulut, tetapi melalui hidup yang jujur, rendah hati, dan penuh kasih. Sebagai raja, kita belajar mengalahkan raja yang paling sulit dikalahkan, yaitu ego kita sendiri. Kalau ego sudah dikalahkan, barulah Kristus benar-benar menjadi Raja dalam hati kita.
Di akhir Injil, Yesus memberikan kalimat yang sangat sederhana, “Barangsiapa memberi secangkir air sejuk kepada seorang yang kecil, ia tidak akan kehilangan upahnya.” Mengapa Yesus hanya berbicara tentang secangkir air? Karena Yesus ingin mengajarkan bahwa kasih tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan uang yang banyak, melainkan perhatian. Bukan hadiah yang mahal, melainkan waktu. Bukan nasihat yang panjang, melainkan kesediaan untuk mendengarkan. Ada orang yang setiap hari makan enak, tetapi tidak pernah mendengar seorang pun berkata, “Apa kabar? Semoga hari ini Tuhan menguatkanmu.” Kalimat sederhana itu kadang lebih menyegarkan daripada segelas air dingin.
Saudara-saudariku terkasih, dunia saat ini tidak kekurangan orang pintar. Dunia justru sedang kekurangan orang yang mau membuka pintu hatinya. Perempuan Sunem membuka pintu rumahnya bagi Nabi Elisa. Yesus mengajak kita membuka pintu hati bagi Kristus. Dan Santo Paulus mengingatkan bahwa semua itu mungkin terjadi karena kita telah menjadi manusia baru melalui baptisan. Maka sepulang dari gereja hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: siapa yang minggu ini perlu saya sambut? Mungkin anggota keluarga yang selama ini saya abaikan. Mungkin
tetangga yang sedang sakit. Mungkin orang tua yang merindukan perhatian. Mungkin seseorang yang sedang menunggu pengampunan saya. Atau mungkin Tuhan sendiri yang sudah lama mengetuk pintu hati saya.
Semoga ketika Kristus datang melalui sesama, Ia tidak mendengar jawaban seperti dalam cerita tadi, “Maaf, orang rumah sedang tidak ada.” Sebaliknya, semoga Ia mendengar jawaban yang penuh iman, “Masuklah, Tuhan. Hatiku terbuka bagi-Mu. Tinggallah bersama aku, dan ajarlah aku menjadi pembawa kasih bagi sesama.” Tuhan memberkati kita semua. Amin.