Minggu Biasa XXIII A
(Yeh. 33:7-9; Rom. 13:8-10; Mat. 18:15-20)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudari yang terkasih, minggu lalu kita merenungkan percakapan antara Yesus dan Petrus. Petrus bermaksud baik, tetapi pikirannya belum sejalan dengan kehendak Allah. Ia ingin Yesus menghindari penderitaan, sementara jalan yang dikehendaki Bapa justru adalah jalan salib. Dari sana kita belajar bahwa mengikuti Kristus berarti belajar meninggalkan cara berpikir kita sendiri dan semakin menyelaraskan hidup dengan kehendak Allah. Hari ini, Sabda Tuhan membawa kita kepada satu kenyataan yang sangat dekat dengan kehidupan kita yakni bagaimana kita hidup bersama dengan orang lain, terutama ketika hubungan itu tidak selalu mudah.
Kita semua membutuhkan orang lain. Tidak ada seorang pun yang dapat hidup sendirian. Kita lahir dari keluarga, bertumbuh dalam keluarga, belajar dalam komunitas, bekerja bersama orang lain, dan sebagai orang beriman kita dipanggil untuk hidup sebagai bagian dari Gereja. Namun, justru karena kita hidup bersama, kita juga mengalami perbedaan. Ada perbedaan karakter, cara berpikir, kebiasaan, harapan, dan kepentingan. Kadang-kadang kita saling memahami, tetapi kadang-kadang kita juga saling melukai. Ada kata-kata yang salah diucapkan, sikap yang menyinggung, janji yang tidak ditepati, bahkan tindakan yang sungguh-sungguh menyakiti hati. Di sinilah kualitas iman kita diuji, bagaimana kita bersikap ketika sesama tidak bertindak seperti yang kita harapkan?
Bacaan pertama dari Kitab Yehezkiel memberikan gambaran yang sangat menarik. Allah mengangkat Yehezkiel sebagai penjaga bagi kaum Israel. Seorang penjaga bukanlah orang yang hanya melihat kesalahan orang lain lalu bersorak karena menemukan kesalahan itu. Penjaga bertugas memperingatkan ketika ada bahaya. Ia berbicara bukan supaya orang lain jatuh, melainkan supaya orang lain diselamatkan. Karena itu, jika seseorang melakukan kesalahan dan penjaga tidak memperingatkannya, ia ikut bertanggung jawab atas kebinasaan orang tersebut.
Gambaran ini membantu kita memahami Injil hari ini. Ketika Yesus berkata, “Jika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata,” Yesus sebenarnya sedang mengajarkan kita untuk menjadi penjaga bagi saudara kita. Menegur bukan berarti menghakimi. Mengoreksi bukan berarti membenci. Bahkan, kadang-kadang justru karena kita mengasihi seseorang, kita berani mengatakan kepadanya bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Tetapi di sinilah persoalannya, menegur orang lain itu mudah, tetapi menegur dengan kasih tidak selalu mudah. Kita sering lebih mudah membicarakan kesalahan seseorang kepada orang lain daripada berbicara langsung kepada orang yang bersangkutan. Kita lebih cepat membuat grup kecil untuk membahas kesalahan seseorang daripada datang kepadanya dengan hati yang jernih. Kita lebih suka mengatakan, “Kamu tahu tidak, dia itu begini dan begitu…” daripada berkata langsung, “Saudaraku, bolehkah saya berbicara denganmu? Ada sesuatu yang saya rasa perlu kita bicarakan.”
Yesus justru mengajarkan jalan yang berbeda. “Pergilah dan tegurlah dia di bawah empat mata.” Ada kelembutan dan penghormatan yang sangat besar dalam nasihat ini. Jangan langsung mempermalukan. Jangan menjadikan kesalahan seseorang sebagai bahan pembicaraan. Jangan memperbesar persoalan sebelum kita berusaha menyelesaikannya secara pribadi. Sebab tujuan teguran Kristen bukanlah memenangkan pertengkaran, melainkan memenangkan kembali saudara.
Perhatikan kata-kata Yesus, “Jika dia mendengarkan engkau, engkau telah mendapatkan kembali saudaramu.” Bukan, “engkau telah memenangkan perdebatan.” Bukan pula, “engkau telah membuktikan bahwa engkau benar.” Yang dikatakan Yesus adalah, “engkau telah mendapatkan kembali saudaramu.” Inilah ukuran kasih Kristiani. Yang dicari bukan kemenangan ego, melainkan pemulihan relasi.
Namun Yesus juga realistis. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam satu percakapan. Karena itu, jika saudara tersebut belum mendengarkan, Yesus memberikan langkah berikutnya dengan membawa satu atau dua orang lain. Jika masih belum berhasil, dibawa kepada jemaat. Artinya, ketika sebuah persoalan menyangkut kehidupan bersama, kita tidak boleh membiarkannya begitu saja. Ada tanggung jawab terhadap kebaikan komunitas. Kasih bukan berarti membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa arah. Kasih juga membutuhkan keberanian untuk mengatakan yang benar.
Tetapi keberanian mengatakan yang benar harus selalu berjalan bersama kerendahan hati. Sebab sebelum kita menegur orang lain, baiklah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sungguh ingin menyelamatkan saudara saya, atau sebenarnya saya hanya ingin melampiaskan kekecewaan? Apakah saya berbicara karena kasih, atau karena saya ingin membuktikan bahwa saya lebih baik? Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Sebab satu kalimat yang sama dapat menjadi berkat jika lahir dari kasih, tetapi dapat menjadi luka jika lahir dari kemarahan dan kesombongan.
Di sinilah bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma memberikan dasar yang sangat kuat. Paulus berkata, “Janganlah kamu berutang apaapa kepada siapa pun, kecuali kasih satu sama lain.” Dan kemudian ia menegaskan, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Karena itu kasih adalah kegenapan hukum.”
Jadi, kalau kita ingin tahu bagaimana menjadi “penjaga” bagi saudara kita, jawabannya adalah kasih. Kalau kita ingin tahu bagaimana menegur, jawabannya adalah kasih. Kalau kita ingin tahu bagaimana menghadapi orang yang menyakiti kita, jawabannya tetap kasih. Kasih bukan berarti selalu setuju dengan segala sesuatu. Kasih berarti menghendaki kebaikan orang lain, bahkan ketika kita harus mengatakan sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan untuk didengar.
Kadang-kadang kita berpikir bahwa orang yang paling mengasihi kita adalah orang yang selalu membenarkan kita. Padahal tidak selalu demikian. Ada kalanya justru orang yang sungguh mengasihi kita adalah orang yang berani berkata, “Frater, Suster, Romo, Bapak, Ibu, Saudara, menurut saya sikapmu itu perlu diperbaiki.” Mendengar kata-kata seperti itu memang tidak enak. Tetapi kalau kita memiliki kerendahan hati, kita dapat melihat bahwa koreksi yang diterima dengan baik dapat menjadi jalan pertumbuhan.
Sebaliknya, ketika kita menerima teguran, janganlah kita buru-buru defensif. Jangan setiap koreksi dianggap sebagai serangan. Kita semua memiliki titik buta dalam diri kita. Ada kelemahan yang mungkin dapat kita lihat sendiri, tetapi ada juga yang justru hanya dapat dilihat oleh orang lain. Karena itu, komunitas yang sehat bukanlah komunitas yang tidak pernah mengalami konflik. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang mampu mengolah konflik dengan kasih dan kebenaran.
Dan setelah berbicara tentang menegur, Yesus membawa kita kepada sesuatu yang lebih dalam yakni kehadiran-Nya di tengah komunitas. “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Ini adalah janji yang sangat meneguhkan. Yesus tidak hanya hadir ketika semuanya berjalan baik. Ia juga hadir ketika kita sedang berjuang membangun kembali persaudaraan. Ia hadir ketika dua orang yang berselisih mencoba berbicara dan berdamai. Ia hadir ketika sebuah keluarga berusaha menyelesaikan masalah dengan hati terbuka. Ia hadir ketika komunitas memilih untuk tidak saling menghancurkan, tetapi saling menyembuhkan.
Karena itu, kehidupan kristiani tidak pernah hanya tentang hubungan kita dengan Tuhan secara pribadi. Kita memang membutuhkan doa pribadi, keheningan, dan relasi pribadi dengan Allah. Tetapi iman kita juga memiliki dimensi komunitas. Bahkan ketika kita berdoa sendirian, kita tidak berkata, “Bapa-ku,” melainkan “Bapa kami.” Kata kami mengingatkan bahwa saya kita pernah datang kepada Tuhan sendirian. Di hadapan Bapa, kita selalu mempunyai saudara.
Puncak kebersamaan itu kita alami dalam Ekaristi. Di altar yang sama, kita datang dengan segala perbedaan kita. Ada yang sedang bahagia, ada yang sedang kecewa; ada yang hatinya penuh syukur, ada yang mungkin sedang membawa luka; ada yang datang dengan hati yang ringan, ada yang datang dengan pergumulan yang berat. Namun kita semua berdiri di hadapan Tuhan yang sama. Kita mendengarkan Sabda yang sama dan menerima Kristus yang sama. Ekaristi menyatukan kita bukan karena kita sudah sempurna, tetapi karena kita sama-sama membutuhkan Kristus.
Maka, Saudara-saudari terkasih, mungkin Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melihat kembali satu atau dua relasi dalam hidup kita. Adakah seseorang yang sedang kita jauhi? Adakah orang yang kita bicarakan di belakangnya, tetapi belum pernah kita ajak berbicara dari hati ke hati? Adakah seseorang yang perlu kita tegur dengan kasih? Atau mungkin justru kita sendiri yang perlu belajar menerima teguran? Jangan biarkan luka kecil menjadi tembok besar. Jangan biarkan kesalahpahaman menjadi jarak yang bertahun-tahun. Jangan menunggu orang lain memulai. Kadang-kadang langkah pertama menuju perdamaian memang harus dimulai dari kita.
Kita memang tidak dapat mengubah semua orang. Kita juga tidak dapat memaksa setiap orang untuk memahami kita. Tetapi kita selalu dapat memilih bagaimana kita bersikap. Kita dapat memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita dapat memilih untuk berbicara daripada bergosip, mengampuni daripada menyimpan dendam, merangkul daripada menjauh, dan membangun daripada menghancurkan.
Inilah semangat yang diberikan Paulus kepada kita, “Janganlah berutang apa-apa kepada siapa pun, kecuali kasih.” Kalau ada satu “utang” yang tidak pernah boleh kita hentikan pembayarannya, itulah utang kasih. Setiap hari kita masih harus membayarnya kepada keluarga, kepada pasangan, kepada anak-anak, kepada sahabat, kepada tetangga, kepada rekan kerja, kepada sesama umat, bahkan kepada orang yang mungkin tidak menyukai kita.
Sebab pada akhirnya, orang kristiani bukan terutama dikenal karena ia tidak pernah berbuat salah. Kita dikenal karena ketika ada kesalahan, kita mau bertobat; ketika ada luka, kita mau menyembuhkan; ketika ada konflik, kita mau berdamai; ketika ada saudara yang jatuh, kita mau menolongnya berdiri kembali. Kita dipanggil bukan untuk menjadi komunitas yang sempurna, melainkan menjadi komunitas yang terusmenerus belajar mengasihi.
Semoga kita menjadi seperti penjaga yang diutus Allah, berani mengatakan yang benar, tetapi selalu dengan kasih; berani mengoreksi, tetapi tanpa merendahkan; berani menerima koreksi, tanpa menjadi defensif; dan terutama, berani mengambil langkah pertama menuju rekonsiliasi. Dan ketika kita berkumpul dalam nama Kristus, semoga kita sungguh percaya bahwa Ia hadir di tengah-tengah kita. Dialah yang menyatukan kita, Dialah yang menyembuhkan luka-luka kita, dan Dialah yang mengajar kita untuk saling mengasihi. Tuhan memberkati kita semua. Amin.