Dipanggil Menjadi Bahagia
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Lukas 6:20-26
Rabu 9 September 2026
Ketika seseorang ulang tahun, biasanya diberi ucapan, “selamat dan sukses”. Ada tetapi sangat jarang yang memberi ucapan “selamat dan bahagia”. Jika kita refleksikan dengan tenang “sukses” biasanya dimengerti, dipahami sebagai puncak. Artinya orang yang telah mencapai puncak dikatakan sukses. Sebaliknya jika belum sampai dipuncak, dia belum sukses. Sementara bahagia tidak perlu menunggu puncak. Dalam perjalanan menujun puncak, orang bisa menemukan, merasakan kebahagiaan. Karenanya panggilan hidup kita adalah bahagia, bukan sukses. Itulah yang diserukan Yesus, “berbahagialah” dan bukan “sukseslah”.
Dengan sabda yang mengejutkan, Tuhan Yesus hendak mengajarkan bahwa kebahagiaan itu terletak dalam diri kita masing-masing, di sini, dan bukan di sana. Artinya ketika seseorang merasakan kasih dan kedekatan Allah, saat itulah kebahagiaan ada bersamanya. Ketika kita merasa bahwa Allah sungguh hadir dalam hidup dan kehidupan kita, saat itulah kebahagiaan ada bersama kita. Kekurangan tidak identik dengan penderitaan ketika kita merasa dipenuhi oleh kasih Allah. Situasi sulit, dibenci, dan dikucilkan tidak identik dengan keadaan absennya kebahagiaan ketika kita masih memiliki kasih Allah yang lebih besar dibandingkan semua persoalan itu. Kebenaran ini tampak jelas dalam firman-Nya, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” [Mat 6:33]
Mari kita pertama-tama berusaha menjadi bahagia, dan sukses akan mengikuti. Cara mengupayakan kebahagiaan antara lain dengan menyelaraskan kehendak, pikiran, dan rencana kita dengan kehendak, pikiran, dan rencana Tuhan. Sebab segala yang dikehendaki, dipikirkan, dan direncanakan Tuhan pasti baik dan benar. Karenanya, mari kita mensyukuri dan menerima kehidupan yang kita jalani saat ini. Mari kita berupaya memiliki kasih Tuhan sebagai sesuatu yang paling berharga dan bermakna dalam kehidupan ini. Kasih Tuhan adalah sumber kebahagiaan.