Minggu Biasa XXV A
(Yes. 55:6-9; Flp. 1:27c-24.27a; Mat. 20:1-16)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, Minggu lalu kita diajak merenungkan betapa besar
kekuatan pengampunan dalam kehidupan kita. Pengampunan membebaskan hati dari
luka, kemarahan, dan keinginan untuk terus menghitung kesalahan orang lain. Hari ini,
Sabda Tuhan membawa kita selangkah lebih dalam yakni untuk berhenti menghitung
jasa, prestasi, dan hak kita di hadapan Tuhan. Sebab sering kali kita memang mudah
mengampuni orang lain, tetapi diam-diam kita masih menyimpan buku catatan di
dalam hati, “Saya sudah melakukan ini; saya sudah berkorban sekian; saya sudah
melayani sekian lama; mengapa orang itu mendapatkan yang sama dengan saya?” Di
situlah perumpamaan Yesus tentang para pekerja di kebun anggur menjadi sangat
menyentuh kehidupan kita. Persoalannya ternyata bukan hanya tentang upah.
Persoalannya adalah tentang cara kita memandang Allah dan cara kita memandang
sesama.
Yesus menceritakan seorang tuan rumah yang sejak pagi-pagi benar keluar
mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Ia datang lagi sekitar pukul sembilan, pukul
dua belas, pukul tiga, bahkan sampai pukul lima sore. Menarik bahwa Yesus tidak
hanya mengatakan bahwa tuan itu “mempekerjakan” mereka. Berkali-kali ia keluar
mencari mereka. Mereka yang sejak pagi belum mendapatkan pekerjaan tetap dicari.
Mereka yang datang terlambat pun tidak dibiarkan begitu saja. Ketika ditanya mengapa
mereka menganggur, mereka menjawab sederhana, “Karena tidak ada orang yang
mengupah kami.” Jawaban itu memperlihatkan sebuah kenyataan yang sangat
manusiawi, ada orang yang ingin bekerja, tetapi tidak mendapatkan kesempatan; ada
orang yang ingin berbuat baik, tetapi tidak diberi ruang; ada orang yang sebenarnya
memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah dianggap penting. Dan Tuhan datang mencari
mereka.
Di sinilah kita dapat memahami wajah Allah dalam Injil hari ini. Allah bukanlah
Tuhan yang duduk jauh di atas takhta sambil menunggu manusia datang kepada-Nya.
Allah adalah Tuhan yang keluar mencari manusia. Ia mencari kita ketika kita masih kuat,
tetapi juga ketika kita sudah merasa terlambat. Ia mencari kita ketika hidup kita sedang
berada di puncak, tetapi juga ketika kita merasa gagal, tersisih, atau tidak lagi berguna.
Bahkan ketika kita merasa bahwa hidup kita sudah terlalu jauh dari Tuhan, Tuhan tidak
berkata, “Kamu terlambat.” Ia justru keluar dan berkata, “Pergilah juga ke kebun
anggur-Ku.”
Gambaran ini sangat indah bila kita hubungkan dengan bacaan pertama. Nabi
Yesaya berkata, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya
selama Ia dekat!” Tetapi kemudian Yesaya menyampaikan sesuatu yang lebih dalam,
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.” Inilah
kunci untuk memahami Injil hari ini. Kita sering mengukur Tuhan dengan ukuran kita
sendiri. Kita berpikir bahwa karena seseorang bekerja lebih lama, ia pasti harus
mendapatkan lebih banyak. Karena seseorang datang lebih dahulu, ia pasti lebih
berhak. Karena saya sudah lama melayani Gereja, saya merasa lebih layak. Karena
saya sudah banyak berkorban, saya merasa Tuhan seharusnya memberi saya lebih.
Tetapi Tuhan berkata, “Jalan-Ku bukan jalanmu, dan rancangan-Ku bukan
rancanganmu.”
Allah memang adil, tetapi keadilan Allah tidak pernah dapat dipisahkan dari kasih
dan kemurahan hati-Nya. Para pekerja yang datang pagi-pagi menerima satu dinar,
demikian juga mereka yang datang belakangan. Apakah tuan kebun merugikan mereka
yang bekerja sejak pagi? Tidak. Ia memberikan kepada mereka tepat seperti yang telah
disepakati. Yang membuat mereka kecewa bukan karena mereka menerima kurang,
melainkan karena orang lain menerima sama banyaknya. Di sinilah muncul penyakit
yang sering kali sangat halus dalam kehidupan kita: iri hati terhadap kebaikan yang
diterima orang lain. Kita mungkin tidak kehilangan apa-apa, tetapi kita tidak bahagia
ketika melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang baik.
Bukankah hal seperti ini sering terjadi dalam hidup kita? Kita senang ketika anak
kita berhasil, tetapi mengapa hati kita menjadi tidak nyaman ketika anak tetangga lebih
berhasil? Kita bersyukur ketika Tuhan memberi kita berkat, tetapi mengapa kita mulai
bertanya ketika melihat orang lain mendapat berkat yang lebih besar? Kita tidak
kekurangan, tetapi kita merasa kurang karena membandingkan diri dengan orang lain.
Kita sebenarnya menerima kasih Tuhan, tetapi kasih itu terasa kecil karena kita sibuk
menghitung kasih yang diberikan Tuhan kepada orang lain.
Karena itu, perkataan tuan kebun dalam Injil menjadi teguran yang sangat dalam:
“Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” Dalam bahasa lain, Tuhan seakan-akan
bertanya kepada kita, “Mengapa kebaikan-Ku kepada orang lain membuatmu tidak
bahagia?” Bukankah ini pertanyaan yang pantas kita bawa pulang hari ini? Kadangkadang kita bukan marah karena Tuhan tidak memberkati kita. Kita marah karena Tuhan
memberkati orang lain dengan cara yang tidak kita mengerti.
Saudara-saudariku terkasih, di sinilah bacaan kedua dari Surat Paulus kepada
jemaat di Filipi memberi kita jalan keluar. Paulus berkata bahwa baginya hidup adalah
Kristus dan mati adalah keuntungan. Ia berada dalam suatu pergulatan, tinggal di dunia
berarti masih dapat melayani dan menghasilkan buah, sedangkan pergi bersama
Kristus berarti masuk ke dalam kepenuhan hidup. Namun Paulus tidak lagi hidup
dengan menghitung keuntungan bagi dirinya sendiri. Orientasi hidupnya telah berubah:
“Yang penting, hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus.” Inilah aplikasi yang sangat
konkret dari Injil hari ini. Orang yang hidup menurut Injil tidak lagi bertanya pertamatama, “Apa yang saya dapat?” tetapi, “Apa yang dapat saya berikan?” Ia tidak sibuk
menghitung berapa banyak penghargaan yang diterimanya, melainkan apakah
hidupnya menghasilkan buah bagi Tuhan dan bagi sesama.
Paulus adalah contoh yang sangat kuat. Ia yang dahulu mengejar dan menganiaya
para pengikut Kristus justru kemudian dipanggil menjadi pewarta Injil. Kalau Allah
menggunakan logika manusia semata, mungkin Paulus tidak akan pernah
mendapatkan kesempatan kedua. Tetapi Allah tidak bekerja demikian. Allah melihat
bukan hanya masa lalu seseorang, melainkan juga kemungkinan masa depannya. Itulah
sebabnya pertobatan selalu mungkin. Itulah sebabnya Gereja tidak boleh menjadi
tempat bagi orang-orang yang merasa dirinya sudah sempurna, melainkan rumah bagi
orang-orang yang terus-menerus dipanggil untuk bertobat dan bertumbuh.
Kita dapat melihat wajah Allah yang sama dalam perumpamaan tentang anak yang
hilang dalam Lukas 15. Anak bungsu pergi, menghabiskan hartanya, dan kembali dalam
keadaan hancur. Sang kakak yang setia justru merasa tidak diperlakukan adil ketika
melihat bapanya menyambut adiknya dengan pesta. Bukankah reaksinya sangat mirip
dengan para pekerja yang bekerja sejak pagi? Mereka berpikir, “Kami sudah lama setia.
Mengapa dia mendapatkan perlakuan yang sama?” Tetapi sang bapa menjawab
dengan kasih, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala
kepunyaanku adalah kepunyaanmu.” Dengan kata lain, kasih tidak selalu berarti
pembagian yang sama menurut hitungan manusia; kasih berarti memberikan kepada
setiap orang apa yang dibutuhkannya untuk hidup dan kembali kepada kepenuhan.
Karena itu, perumpamaan hari ini juga berbicara kepada kita tentang orang-orang
yang merasa dirinya “datang terlambat” kepada Tuhan. Mungkin ada orang yang baru
sekarang mulai kembali ke Gereja. Mungkin ada yang selama bertahun-tahun jauh dari
Tuhan karena kecewa, terluka, atau tersesat. Mungkin ada seseorang yang baru
menemukan kembali imannya setelah mengalami kegagalan besar. Janganlah kita
berkata, “Mengapa baru sekarang?” Sebaliknya, marilah kita bersyukur, “Syukurlah, ia
sudah kembali.” Surga tidak pernah iri terhadap pertobatan seseorang. Yesus sendiri
berkata bahwa ada sukacita besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat
(bdk. Luk. 15:7).
Lebih jauh lagi, Injil hari ini mengajak kita melihat bahwa setiap orang masih
memiliki tempat dalam kebun anggur Tuhan. Tidak ada istilah “terlambat” bagi Allah.
Selama seseorang masih hidup, Tuhan masih dapat memanggilnya. Selama seseorang
masih memiliki hati, ia masih dapat mengasihi. Selama seseorang masih memiliki
kesempatan, ia masih dapat berbuat baik. Bahkan mungkin ada di antara kita yang
merasa bahwa dirinya tidak lagi banyak berguna karena usia, penyakit, kegagalan, atau
keadaan hidup tertentu. Sabda Tuhan hari ini berkata, Tuhan masih keluar mencari kita.
Masih ada tempat bagi kita di kebun anggur-Nya.
Kebun anggur Tuhan itu adalah dunia tempat kita hidup sekarang. Keluarga kita
adalah kebun anggur Tuhan. Lingkungan kerja kita adalah kebun anggur Tuhan.
Komunitas dan lingkungan Gereja adalah kebun anggur Tuhan. Bahkan media sosial,
ruang akademik, dan kehidupan masyarakat kita adalah bagian dari kebun anggur
tempat kita dipanggil untuk bekerja. Karena itu, menjadi orang Katolik bukan sekadar
datang ke gereja pada hari Minggu. Kita dipanggil untuk menjadi pekerja-pekerja Tuhan
yang menghadirkan kebaikan, kejujuran, pengampunan, solidaritas, dan kasih di mana
pun kita berada.
Namun ada satu hal yang perlu kita waspadai, jangan sampai kita sudah lama
bekerja di kebun anggur Tuhan, tetapi hati kita justru menjadi seperti pekerja yang iri
tadi. Jangan sampai pelayanan membuat kita merasa lebih suci daripada orang lain.
Jangan sampai lama menjadi umat membuat kita merasa lebih berhak daripada mereka
yang baru datang. Jangan sampai pengalaman, jabatan, atau pengorbanan membuat
kita lupa bahwa sejak awal kita semua hanyalah orang-orang yang dipanggil oleh
kemurahan hati Allah. Kita tidak berada di kebun anggur karena kita lebih hebat. Kita
berada di sana karena Tuhan terlebih dahulu keluar mencari dan memanggil kita.
Maka, saudara-saudari terkasih, mungkin pertanyaan terpenting hari ini bukanlah,
“Berapa banyak yang sudah saya kerjakan untuk Tuhan?” Melainkan, “Apakah hati saya
masih bersukacita ketika Tuhan berbuat baik kepada orang lain?”
Yesaya mengingatkan kita, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui.” Paulus
mengingatkan kita, “Hiduplah berpadanan dengan Injil Kristus.” Dan Yesus
mengingatkan kita melalui kebun anggur, jangan iri terhadap kemurahan hati Allah.
Ketiganya bertemu pada satu pesan, Allah jauh lebih besar daripada perhitungan kita.
Jalan-Nya lebih tinggi daripada jalan kita. Kasih-Nya lebih luas daripada ukuran kita.
Dan rahmat-Nya tidak dapat dipenjarakan oleh kalkulasi manusia.
Maka marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang sederhana. Kalau kita
sudah lama melayani, bersyukurlah. Kalau kita baru mulai kembali, bersyukurlah. Kalau
kita sedang kuat, bekerjalah. Kalau kita sedang lemah, jangan menyerah. Kalau kita
melihat orang lain menerima berkat, belajarlah bersukacita. Sebab dalam Kerajaan
Allah, keberhasilan orang lain bukanlah kegagalan kita. Pertobatan orang lain bukanlah
ancaman bagi kita. Berkat yang diterima orang lain tidak mengurangi kasih Tuhan
kepada kita. Kasih Allah bukan kue yang kalau diberikan kepada orang lain lalu bagian
kita menjadi lebih kecil. Kasih Allah justru semakin besar ketika dibagikan.
Akhirnya, marilah kita mengingat bahwa pada suatu hari nanti kita semua akan
berdiri di hadapan Tuhan bukan dengan membawa daftar panjang jasa kita, melainkan
dengan tangan terbuka menerima rahmat-Nya. Pada saat itu kita akan sadar bahwa
sejak awal bukan kita yang pertama-tama mencari Tuhan, melainkan Tuhanlah yang
terus-menerus mencari kita. Ia keluar pada pagi hari, siang hari, sore hari, bahkan pada
saat hidup kita hampir berakhir. Dan ketika Ia menemukan kita, Ia berkata, “Pergilah
juga ke kebun anggur-Ku.”
Semoga kita tidak hanya menjadi pekerja yang rajin, tetapi juga menjadi pekerja
yang murah hati. Tidak hanya setia bekerja, tetapi juga mampu bersukacita atas
kebaikan Tuhan kepada orang lain. Tidak hanya menghitung apa yang sudah kita
lakukan, tetapi juga menyadari betapa banyak yang telah Tuhan lakukan bagi kita.
Sebab pada akhirnya, kita semua hidup bukan karena jasa kita, melainkan karena
rahmat-Nya. Dan rahmat itulah yang membuat kita tetap berdiri, tetap berharap, tetap
mengasihi, dan tetap berjalan menuju Kerajaan-Nya. Tuhan memberkati kita semua.
Amin.