Sempurna
Bacaan I : Ulangan 26: 16-19
Bacaan Injil : Mateus 5:43-48
Pagi ini saya diajak menikmati Kopi di Bean Drinking, Crows Nest, Sydney. Penasaran juga ingin mencoba kopi di café yang mendapat nilai 8.7 dari 157 Beanhunter website reviewers. Persiapan yang baik sebelum 7 jam turut melipat kertas undangan Pemilu di Konsulat Jendral, pikir saya. Ge teman saya sudah pernah kemari dan dia pesan Expresso. Wow… serius benar. Itu kopi tubruk yah kalau di Indonesia? Iya , katanya. “Saya suka kopi yang pekat”, ujarnya. Saya biasanya pesan latte sambil mengingat sahabat saya Kim Youn Su yang saya tiru saat pertama kali kami bersama ke café di Melbourne, 9 tahun lalu. Kali ini saya tiru Ge. Dua expresso terhidang, dan benar… sambil menutup mata saya cecapi… hmmm… rasanya sedap.
Ardi, apa yang membuat kopi ini enak, tanya Ge. Aku jawab: biji kopinya, suasana cafenya, cara membuatnya…Sambil mengaduk cangkir kecilnya, Ge menyahut: baristanya! Setiap barista akan membuat kopi yang berbeda rasa dengan barista lainnya, meski bahannya sama. Betul juga, kataku. Aku tidak berpikir sejauh itu. Ingatanku melayang pada pengalaman lain. Pernah saya menikmati kopi pagi hari di café lain dekat rumah, dan senang sekali waktu tahu salah satu baristanya orang Indonesia. Anak muda itu baru saja lulus S2 IT dari UNSW. Tetapi dengan mata berbinar-binar dia cerita bercita-cita membuka café karena dia mencintai kopi lebih dari ilmu komputernya!
Pernah seorang sahabat saya dalam bermusik dulu bertanya dengan nada yang sama: mana yang lebin penting, penyanyi atau lagu? Dia jawab sendiri: penyanyi. Kenapa? Karena penyanyi yang hebat akan membuat lagu yang paling sederhana terdengar indah merdu menawan hati. Benar juga. Seorang juru masak yang hebat juga akan membuat makanan lezat dari bahan-bahan sederhana. Dan seseorang dengan kerohanian yang mendalam seperti St Theresa dari Kanak-kanak Yesus, atau Pater Anthony de Mello, akan membuat hal-hal sederhana menjadi begitu indah direnungkan.
Bagaimana itu terjadi? Mungkin salah satu resep rahasia yang sama adalah ini: mereka mengerjakan hal-hal yang mereka cintai, dan mereka lakukan dengan sepenuh hati karena cinta. Sahabat saya dr Wayan bilang dulu: saya suka datang ke paduan suara karena saya suka bernyanyi. Saya suka bernyanyi karena…. Saya mencintai bernyanyi. That’s it. Dan para pecinta itu tidak peduli apakah pembeli kopi, pendengar musik, penikmat masakan, itu orang miskin atau kaya, pandai atau bodoh, baik atau jahat dst. “Kesempurnaan” karya cipta mereka meluap dari hati penuh cinta, bebas dari rekayasa, bebas dari prasangka, bebas dari guna-guna. Murni, jernih, bersih.
Penasaran, saya pesan kopi lagi. Kembali ke selera asal, karena lidah saya belum cukup cerdas, saya pesan latte. Datanglah secangkir kopi dengan busa bermotif daun, seni yang saya sudah coba berkali dari tutorial di youtube, tapi belum berhasil. Saya cecapi perlahan sambil meresapi Sabda yang tiba-tiba terlintas di budi dan hati: Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. Ah, Bapa… benamkan aku dalam cintaMu, biar seperti Sang Putra, aku pun mampu menuliskan kisah hidup penuh kasih yang menyentuh setiap mahluk, tak peduli dia berlaku baik atau buruk padaku. Hanya rahmat dan kasihMu, cukuplah itu.

2 thoughts on “Sempurna”
Ya romo, rahmat dan kasih Nya sebagai pengikat yang mempersatukan dan meyempurnakan.
Secangkir kopi pun dapat mengHasilkan satu renungan yang indah. Luar biasa
Comments are closed.