MINGGU BIASA XXIX A

MINGGU BIASA XXIX A


(Yes. 45:1, 4–6; 1Tes. 1:1–5b; Mat. 22:15–21)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita mendengar perumpamaan tentang
pesta pernikahan. Allah mengundang kita untuk mengambil bagian dalam sukacita
Kerajaan-Nya. Hari ini, melalui Injil, Yesus mengajak kita memikirkan pertanyaan yang
dekat dengan kehidupan sehari-hari, bagaimana kita menjalankan tanggung jawab
sebagai warga masyarakat, tanpa melupakan bahwa hidup kita pertama-tama adalah
milik Allah?
Yesus dihadapkan pada pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi
sesungguhnya merupakan jebakan, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada
Kaisar atau tidak?” Mereka yang bertanya bukan sungguh-sungguh ingin mencari
kebenaran. Mereka ingin memojokkan Yesus. Jika Ia menjawab boleh, Ia bisa dituduh
tidak setia kepada bangsanya; jika Ia menjawab tidak boleh, Ia bisa dianggap melawan
penguasa Romawi. Namun, Yesus tidak terpancing. Ia meminta mereka menunjukkan
mata uang, lalu bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Ketika mereka
menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar,” Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar
apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu
berikan kepada Allah.”
Jawaban Yesus bukan sekadar jalan keluar dari sebuah jebakan. Ia memberikan
prinsip yang tetap relevan bagi kita. Kita memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan
bersama, tetapi tanggung jawab itu tidak boleh membuat kita melupakan Allah.
Membayar pajak, menaati hukum yang adil, menjaga ketertiban, dan berkontribusi bagi
kebaikan bersama merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara.
Namun, negara atau penguasa bukanlah Allah. Kekuasaan manusia memiliki batas;
martabat manusia, suara hati, dan kewajiban moral tidak boleh diperlakukan seolaholah semuanya berada di tangan penguasa.

Bacaan pertama dari Kitab Yesaya membantu kita memahami hal ini. Allah
menyebut Koresy, seorang raja asing, sebagai alat dalam rencana-Nya untuk menolong
umat-Nya. Koresy bukan raja Israel dan tidak mengenal Allah seperti umat pilihan
mengenal-Nya, tetapi Allah tetap dapat bekerja melalui dirinya untuk melaksanakan
kehendak-Nya. Pesannya sangat mendalam, Allah tetap berdaulat atas sejarah. Ia
dapat memakai siapa saja, bahkan orang yang tidak kita duga, untuk membuka jalan
bagi kebaikan. Karena itu, kita tidak perlu menganggap kekuasaan manusia sebagai
sesuatu yang mutlak, tetapi juga tidak perlu menutup mata terhadap kemungkinan
bahwa kebaikan dapat hadir melalui lembaga dan pemimpin duniawi.
Dari sini kita belajar bersikap dewasa dalam kehidupan bermasyarakat. Kita boleh
memiliki pilihan, pendapat, dan pandangan politik yang berbeda. Perbedaan itu tidak
harus merusak persaudaraan. Yang perlu dijaga ialah agar pilihan kita dibimbing oleh
suara hati yang jernih, bukan oleh kebencian, tekanan, atau kabar yang belum tentu
benar. Dalam politik, seperti juga dalam keluarga dan lingkungan kerja, kita tidak harus
selalu sepakat untuk tetap saling menghormati. Jangan sampai karena berbeda pilihan,
kita lupa bahwa orang yang berbeda dengan kita tetap saudara yang memiliki martabat
yang sama di hadapan Allah.
Ada satu hal penting dalam Injil yang sering luput dari perhatian kita. Yesus meminta
orang-orang itu menunjukkan mata uang yang bergambar Kaisar. Koin itu membawa
gambar sang penguasa. Namun, Kitab Kejadian mengatakan bahwa manusia
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26–27). Jika uang membawa gambar
Kaisar, manusia membawa gambar Allah. Maka, apa yang harus kita berikan kepada
Allah? Bukan hanya waktu beberapa menit untuk berdoa, bukan hanya kehadiran kita
di gereja pada hari Minggu, melainkan seluruh hidup: pikiran, kehendak, hati nurani,
perkataan, dan tindakan kita.
Ilustrasinya sederhana, sebuah telepon genggam perlu diisi daya agar dapat
digunakan dengan baik. Kalau baterainya tinggal satu persen, kita mulai panik mencari
pengisi daya. Namun, ketika hati kita mulai kehabisan kesabaran, ketika nurani mulai
melemah, atau ketika kata-kata kita mulai melukai orang lain, kita sering tidak segera
mencari sumber kekuatan rohani. Kita terus berjalan seolah-olah semuanya baik-baik
saja. Padahal, doa, sabda Tuhan, Ekaristi, dan hidup dalam komunitas membantu kita
mengisi kembali batin, agar kita tidak mudah dikuasai amarah, iri hati, atau keinginan
untuk menang sendiri.

Bacaan kedua, dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika,
menunjukkan bagaimana iman kepada Allah menjadi nyata. Paulus bersyukur karena
jemaat itu memiliki pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan dalam pengharapan
akan Yesus Kristus. Iman tidak berhenti pada kata-kata atau identitas keagamaan. Iman
menghasilkan pekerjaan; kasih mendorong pelayanan; dan pengharapan membuat kita
tetap tekun ketika keadaan tidak mudah. Inilah cara konkret memberikan kepada Allah
apa yang menjadi milik-Nya, yakni dengan membiarkan iman membentuk tindakan kita
sehari-hari.
Karena itu, jika kita mengaku sebagai orang beriman, pertanyaannya bukan hanya
apakah kita rajin berdoa, melainkan juga apakah kehadiran kita membawa kebaikan.
Apakah perkataan kita meneguhkan atau justru menjatuhkan? Apakah kita
menggunakan hak dan tanggung jawab dengan jujur? Apakah kita menghormati orang
yang berbeda pendapat? Apakah kita berani menolak kebohongan, korupsi, dan
ketidakadilan, sekalipun sikap itu tidak selalu menguntungkan kita? Pekerjaan iman,
usaha kasih, dan ketekunan dalam pengharapan harus terlihat dalam pilihan-pilihan
kecil seperti ini.
Yesus tidak mengajak kita melarikan diri dari dunia. Ia juga tidak mengizinkan dunia
mengambil tempat Allah dalam hati kita. Kita dipanggil untuk hadir di tengah
masyarakat sebagai warga negara yang bertanggung jawab sekaligus sebagai murid
Kristus yang setia. Ketika kita bekerja dengan jujur, menjalankan kewajiban dengan
baik, merawat lingkungan, menghormati hukum yang adil, serta memperjuangkan
mereka yang lemah, kita sedang ikut membangun kebaikan bersama. Ketika kita
menjaga hati nurani agar tidak dibeli oleh uang, jabatan, atau tekanan kelompok, kita
sedang memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik-Nya.
Saudara-saudariku terkasih, marilah kita membawa pulang tiga pesan sederhana.
Pertama, laksanakanlah tanggung jawab sebagai warga masyarakat dengan jujur dan
bijaksana. Kedua, peliharalah hati nurani agar tetap diterangi oleh Injil, terutama ketika
harus mengambil keputusan sulit. Ketiga, biarkan iman menghasilkan pekerjaan nyata,
kasih yang melayani, dan pengharapan yang tekun, sebagaimana dipuji Paulus dalam
bacaan kedua.

Kita tidak selalu mampu mengubah seluruh keadaan di sekitar kita. Namun, kita
selalu dapat memulai dari cara kita berbicara, bekerja, memilih, dan memperlakukan
sesama. Semoga hidup kita menjadi cermin kecil yang memantulkan gambar Allah:
bukan melalui kata-kata yang besar, melainkan melalui kejujuran, belas kasih,
keberanian membela kebenaran, dan kesediaan membangun persaudaraan.
Berikanlah kepada dunia tanggung jawab dan pelayanan yang menjadi bagian kita; dan
berikanlah kepada Allah seluruh hati serta hidup kita. Tuhan memberkati kita semua.
Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »