Minggu Biasa XXX A

Minggu Biasa XXX A


(Kel. 22:21-27; 1Tes. 1:5c-10; Mat. 22:34-40)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih dalam Kristus, minggu lalu kita merenungkan
kebebasan dan tanggung jawab. Hari ini, Yesus mengajak kita menemukan inti dari
seluruh kehidupan beriman yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Ketika
seorang ahli Taurat bertanya tentang hukum yang terutama, Yesus menjawab,
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan
dengan segenap akal budimu.” Lalu Ia menambahkan, “Kasihilah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri.”
Bagi Yesus, iman bukan sekadar mengetahui banyak perintah, rajin berdoa, atau
setia mengikuti Misa. Iman yang sejati harus berakar dalam kasih dan bertumbuh
melalui tindakan nyata. Kita tidak dapat mengaku mengasihi Allah yang tidak kita lihat
jika kita menutup mata terhadap sesama yang kita jumpai setiap hari.
Pesan ini menjadi sangat konkret dalam bacaan pertama. Allah mengingatkan
umat-Nya agar tidak menindas orang asing, tidak menyakiti yatim piatu dan janda,
serta tidak mengambil keuntungan dari orang miskin. Allah mendengarkan jeritan
mereka yang menderita. Artinya, kasih kepada Allah tidak berhenti di altar, tetapi
harus mengalir ke dalam kehidupan sehari-hari.
Jika seorang tetangga kita sedang sakit dan tinggal sendirian, kita mungkin tidak
mampu membiayai seluruh pengobatannya, tetapi kita bisa menjenguknya,
membawakan makanan, atau mengantarnya ke puskesmas. Atau, ketika seorang
anak di lingkungan kita kesulitan membayar biaya sekolah, kita bisa membantu sesuai
kemampuan, tanpa mempermalukannya. Bahkan ketika kita memperlakukan pekerja
rumah tangga secara manusiawi, membayar upahnya dengan layak dan tepat waktu,
kita sedang mewujudkan kasih yang dikehendaki Allah.
Kasih juga diuji di dalam keluarga. Seorang suami mungkin pulang dalam
keadaan lelah, tetapi tetap berusaha mendengarkan cerita istrinya. Seorang istri
mungkin sedang banyak beban, tetapi suami tidak menambah bebannya dengan katakata kasar. Orang tua tidak hanya menuntut anak agar patuh, tetapi juga menyediakan
waktu untuk mendengarkan mereka. Anak-anak pun belajar mengasihi ketika bersedia
membantu orang tua tanpa harus selalu disuruh. Kadang-kadang, tanda kasih yang
paling besar bukanlah hadiah yang mahal, melainkan waktu, perhatian, kesabaran,
dan kesediaan untuk mengerti.
Saudara-saudariku terkasih, kasih tidak selalu mudah. Di tempat kerja, misalnya,
kita mungkin tergoda menjatuhkan rekan agar terlihat lebih unggul. Dalam
masyarakat, kita bisa tergoda menyebarkan kabar buruk tentang orang lain hanya
karena berbeda pilihan atau pendapat. Di media sosial, kita mudah menulis komentar
yang menyakitkan karena merasa aman di balik layar. Namun, mengasihi berarti
berani menahan diri, memeriksa kebenaran sebelum membagikan berita,
menghormati orang yang berbeda pendapat, dan menolak mengambil keuntungan
dengan cara yang merugikan orang lain.
Bacaan kedua memperlihatkan buah dari kasih yang hidup. Santo Paulus memuji
jemaat di Tesalonika karena mereka menerima Injil dengan sukacita dan menjadi
teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Iman mereka tidak berhenti sebagai kata-kata,
tetapi menjadi kesaksian yang dapat dilihat dan dirasakan. Demikian pula, orang lain
seharusnya tidak hanya mendengar bahwa kita adalah orang Kristiani, tetapi
mengalami kebaikan Kristus melalui hidup kita. Ketika kita tetap jujur meskipun ada
kesempatan untuk berbuat curang, tetap mengampuni meskipun pernah disakiti, dan
tetap menolong meskipun tidak mendapat pujian, di situlah Injil menjadi nyata.
Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah orang-orang di
rumah merasa dikasihi oleh kita? Apakah kehadiran kita di tempat kerja membawa
damai atau justru menambah beban? Apakah orang miskin dan mereka yang tersisih
merasa dihargai ketika berjumpa dengan kita? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk
membuat kita berkecil hati, melainkan untuk menolong kita bertumbuh dalam kasih.
Saudara-saudariku terkasih, Ekaristi yang kita rayakan adalah perjumpaan
dengan Kristus yang menyerahkan diri-Nya karena kasih. Ketika menerima Tubuh
Kristus, kita pun diutus untuk menjadi tanda kasih-Nya bagi dunia. Jangan biarkan
kasih berhenti ketika Misa selesai. Bawalah kasih itu pulang ke rumah, ke tempat
kerja, ke komunitas, dan ke tengah masyarakat.
Kasihilah Allah dengan sepenuh hati, dan kasihilah sesama melalui tindakan
nyata. Mulailah dari satu tindakan kecil hari ini, menyapa orang yang sering kita
abaikan, meminta maaf kepada orang yang kita sakiti, atau membantu seseorang yang
sedang mengalami kesulitan. Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang yang
pandai berbicara tentang kasih, tetapi orang-orang yang sungguh-sungguh
menghadirkan kasih. Semoga Tuhan meneguhkan hati kita agar tidak pernah lelah
mengasihi, bahkan ketika kasih itu menuntut pengorbanan. Tuhan memberkati kita
semua. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »