Minggu Biasa XXXII A

Minggu Biasa XXXII A


(Keb. 6:13-17; 1Tes. 4:13-18; Mat. 25:1-13)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu pernah
mengalami situasi ketika harus menunggu seseorang. Ada yang menunggu teman
datang, menunggu pesanan makanan, menunggu hasil ujian, bahkan menunggu
seseorang yang berjanji akan datang tetapi tidak kunjung muncul. Kalau menunggu
terlalu lama, biasanya kita mulai gelisah. Berkali-kali melihat jam, memeriksa HP,
bahkan bertanya, “Jadi datang atau tidak, sih?” Rupanya, menunggu memang
membutuhkan kesabaran. Tetapi lebih daripada itu, menunggu juga membutuhkan
persiapan.
Injil hari ini mengisahkan sepuluh gadis yang sedang menantikan kedatangan
mempelai laki-laki. Mereka semua membawa pelita. Mereka semua mempunyai
tujuan yang sama, yaitu menyambut sang mempelai. Namun, ada satu hal yang
membedakan mereka, lima gadis bijaksana membawa persediaan minyak, sedangkan
lima lainnya tidak. Ketika mempelai laki-laki terlambat datang dan akhirnya tiba
tengah malam, barulah terlihat perbedaan antara mereka. Pelita gadis-gadis yang
bijaksana tetap menyala, sementara pelita gadis-gadis yang bodoh mulai padam.
Mereka pun sibuk mencari minyak, tetapi ketika kembali, pintu sudah tertutup.
Saudara-saudariku, menarik bahwa dalam perumpamaan ini, kesepuluh gadis
sebenarnya sama-sama menantikan mempelai. Mereka sama-sama membawa pelita
dan sama-sama tertidur karena mempelai tidak kunjung datang. Jadi, persoalannya
bukan karena lima gadis bijaksana tidak pernah mengantuk, sementara lima lainnya
tertidur. Persoalannya terletak pada persiapan mereka. Gadis-gadis bijaksana
menyadari bahwa kedatangan mempelai bisa saja terlambat. Karena itu, mereka
mempersiapkan diri untuk kemungkinan tersebut. Sementara gadis-gadis yang bodoh
hanya mempersiapkan diri untuk keadaan yang mereka harapkan, bukan untuk
kenyataan yang mungkin terjadi.
Di sinilah kita menemukan pesan penting Injil hari ini, iman bukan hanya soal
menantikan Tuhan, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menyambut-Nya. Kita tidak
cukup hanya mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan, rajin berdoa, atau hadir
dalam perayaan Ekaristi. Semua itu tentu penting. Namun, iman harus terus dipelihara
dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai pelita iman kita tampak
menyala ketika berada di gereja, tetapi mulai redup ketika kita kembali ke rumah,
tempat kerja, sekolah, atau ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.
Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan memberikan dasar yang sangat indah
bagi pesan Injil ini. Dikatakan bahwa kebijaksanaan itu mudah ditemukan oleh mereka
yang mencarinya dan bahkan mendahului mereka yang merindukannya.
Kebijaksanaan tidak hanya dimiliki oleh orang yang berpendidikan tinggi atau
mempunyai banyak gelar. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk melihat
kehidupan dengan terang Allah, memilih yang benar, dan menjalani hidup sesuai
dengan kehendak-Nya.
Lima gadis yang bijaksana dalam Injil menunjukkan bahwa kebijaksanaan bukan
sekadar mengetahui apa yang harus dilakukan, melainkan sungguh-sungguh
mempersiapkan diri dan melakukannya. Mereka tidak menunggu sampai pelitanya
padam baru mencari minyak. Mereka sudah memikirkan kebutuhan itu sejak awal.
Demikian pula dalam hidup kita. Orang yang bijaksana tidak menunggu sampai
keluarganya berantakan baru belajar membangun komunikasi. Tidak menunggu
sampai hubungannya dengan Tuhan menjadi jauh baru mulai berdoa. Tidak menunggu
sampai kehilangan kepercayaan orang lain baru belajar jujur. Kebijaksanaan menuntut
kita untuk melakukan hal yang baik sebelum semuanya terlambat.
Saudara-saudariku terkasih, kita mungkin bertanya, apa sebenarnya minyak yang
harus kita persiapkan? Minyak itu dapat kita pahami sebagai gambaran iman yang
hidup, kasih yang nyata, kesetiaan, pengampunan, dan tanggung jawab yang terus kita
bangun. Minyak itu tidak bisa dipinjam begitu saja ketika saatnya tiba. Kita memang
bisa saling membantu, saling mendoakan, dan saling menguatkan, tetapi tidak
seorang pun dapat menggantikan tanggung jawab pribadi kita untuk mengasihi Tuhan
dan sesama. Iman orang tua tidak otomatis menjadi iman anak-anaknya. Kesalehan
pasangan tidak otomatis membuat pasangannya menjadi saleh. Kita boleh bersyukur
mempunyai keluarga yang baik, komunitas yang mendukung, dan teman-teman yang
saleh, tetapi pada akhirnya setiap orang harus memelihara pelita imannya sendiri.
Ada satu hal lagi yang menarik dalam perumpamaan ini, mempelai laki-laki
datang pada tengah malam, pada saat yang tidak diperkirakan. Ini ini mau mengatakan
bahwa Tuhan dapat hadir dan memanggil kita pada waktu yang tidak kita ketahui.
Karena itu, kita tidak boleh menunda-nunda kebaikan. Jangan pernah menunda
mengunjungi orang tua, memperbaiki hubungan dengan saudara, membantu orang
yang membutuhkan, atau kembali mendekat kepada Tuhan. Kita sering merasa masih
punya banyak waktu. Padahal, tidak seorang pun sungguh-sungguh mengetahui
berapa lama waktu yang tersedia baginya.
Bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika
memberikan peneguhan yang sangat penting. Paulus berbicara tentang mereka yang
telah meninggal dunia dan mengingatkan jemaat agar tidak berdukacita seperti orangorang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Mengapa? Karena kita percaya bahwa
Yesus telah wafat dan bangkit kembali. Mereka yang meninggal dalam Kristus juga
akan dibangkitkan dan dipersatukan dengan-Nya. Dengan demikian, kehidupan orang
beriman tidak berakhir pada kematian. Kita mempunyai harapan akan kehidupan kekal
bersama Tuhan. Bacaan kedua ini kiranya bisa membantu kita untuk memahami
mengapa Injil mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga. Kita menantikan kedatangan
Tuhan bukan dengan ketakutan, melainkan dengan pengharapan. Kita tidak tahu
kapan Tuhan memanggil kita, tetapi kita percaya bahwa hidup kita sedang berjalan
menuju perjumpaan dengan-Nya. Maka, berjaga-jaga bukan berarti hidup dalam
kecemasan, seolah-olah setiap saat kita harus takut sesuatu yang buruk akan terjadi.
Berjaga-jaga berarti menjalani hari ini dengan penuh iman, kasih, dan tanggung jawab,
sebab kita tahu bahwa hidup ini mempunyai tujuan, yaitu persatuan dengan Allah.
Karena itu, harapan akan kebangkitan seharusnya membuat kita semakin
bersemangat menjalani kehidupan sekarang. Kita tidak boleh menggunakan alasan
bahwa dunia ini sementara untuk mengabaikan tanggung jawab. Justru karena hidup
ini berharga dan mempunyai tujuan kekal, kita harus mengisinya dengan hal-hal yang
baik. Kita bekerja dengan jujur, mengasihi keluarga, melayani sesama, mengampuni
mereka yang bersalah kepada kita, dan berusaha menjadi pembawa damai. Inilah
cara kita menjaga agar pelita iman tetap menyala.
Saudara-saudariku terkasih, mungkin kita tidak bisa melakukan hal-hal besar
setiap hari. Kita juga tidak selalu berhasil menjadi pribadi yang sempurna. Kadangkadang kita masih mudah marah, tersinggung, mengeluh, atau kehilangan kesabaran.
Tetapi jangan berkecil hati. Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna dalam
sekejap. Ia mengundang kita untuk terus bertumbuh dan setia dalam perkara-perkara
kecil. Satu doa yang diucapkan dengan tulus, satu pengampunan yang diberikan
dengan rendah hati, satu kunjungan kepada orang sakit, satu tindakan jujur ketika
tidak ada orang yang melihat, semuanya dapat menjadi minyak yang menjaga pelita
iman kita tetap menyala.
Jangan sampai kita begitu sibuk mempersiapkan banyak hal dalam kehidupan ini,
tetapi lupa mempersiapkan hati. Kita mempersiapkan rumah agar nyaman, pekerjaan
agar berhasil, masa depan agar terjamin, bahkan perjalanan beberapa hari saja bisa
direncanakan dengan sangat teliti. Tetapi jangan sampai untuk perjalanan menuju
kehidupan kekal, kita justru tidak mempunyai persiapan apa-apa. Jangan sampai
koper kehidupan kita penuh dengan berbagai pencapaian duniawi, tetapi pelita iman
kita kehabisan minyak! Akhirnya, berjaga-jagalah bukan karena takut akan kedatangan
Tuhan, melainkan karena kita mengasihi-Nya dan rindu berjumpa dengan-Nya.
Semoga ketika Sang Mempelai datang, Ia menemukan pelita kita tetap menyala,
menyala oleh iman, diterangi oleh harapan, dan dipenuhi oleh kasih. Tuhan
memberkati kita semua. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »