Mujizat memang nyata, tapi pekerjaan kita lebih nyata.

Mujizat memang nyata, tapi pekerjaan kita lebih nyata.

Hari Raya Santa Perawan Maria dari Fatima

Kis 11:19-26; Yoh 10:22-30

FatimaGr

Siapa yang tidak merindukan mujizat? Jika ada saudara kita yang sakit parah, kita mengharapkan mujizat supaya dia langsung sembuh. Jika ada konflik atau peperangan, kita mengharap suatu tanda dari langit supaya pihak yang bertikai langsung berhenti. Jika saya sedang mencari pekerjaan atau greencard supaya bisa langsung dapat tanpa melalui proses panjang. Begitu pula orang Yahudi di jaman Yesus, dalam penantian mereka akan seorang Mesias yang dijanjikan para nabi, yang akan membebaskan mereka dari jajahan Romawi dan menjadikan mereka bangsa yang jaya kembali seperti jaman Daud dan Salomo. Karena itulah mereka ingin Yesus menyatakan dirinya secara gamblang bahwa dia adalah mujizat itu sendiri, Mesias, Penyelamat yang dijanjikan. Tapi Yesus menjawab bahwa pekerjaanNya yang dilakukan sehari-harilah yang merupakan mujizat. Mereka melihat tapi tidak percaya. Mereka masih menunggu-nunggu sesuatu yang fenomenal, yang luar biasa. Padahal dalam kesehariannya itulah Yesus mewujudkan karya keselamatan Allah.

 

Hari ini 97 tahun yang lalu di Fatima, Portugal, tiga anak desa mengalami suatu mujizat, penampakan dari Bunda Maria sendiri. Penampakan itu diulangi kembali setiap bulan sampai Oktober. Dalam pesan-pesannya, Bunda Maria menyatakan kesedihan akan perilaku manusia yang melawan Tuhan. Ia juga mengatakan akan terjadi peperangan dan malapetaka jika manusia tidak bertobat dan berdoa. Penampakan di Fatima adalah salah satu yang paling terkenal di abad yang lalu dan sampai sekarang masih menjadi tempat ziarah yang paling populer. Mujizat besar semacam ini tidak sering terjadi, tapi kita seakan-akan selalu haus dan menunggu mujizat berikutnya. Ketika ada kabar ada patung Maria menangis darah beberapa waktu lalu, orang-orang gempar dan berbondong-bondong mendatangi patung itu.

 

Tapi apakah ini inti hidup iman kita, menantikan mujizat besar berikutnya? Apakah kita mau berdoa hanya jika Yesus atau Maria sendiri menampakkan dirinya langsung pada kita? Jika demikian apa bedanya kita dengan orang-orang Yahudi yang meminta Yesus menyatakan diri sebagai Mesias tapi menutup mata terhadap hal-hal yang sudah dilakukanNya?

 

Dalam bacaan dari Kisah Para Rasul hari ini, seorang nabi Agabus bernubuat akan ada kelaparan di seluruh dunia. Nubuat ini tidak membuat para murid panik atau depresi, tapi justru mereka menggalang dana untuk umat yang tinggal di Yudea. Mendengar pesan-pesan dari Fatima kadangkala bisa membuat kita takut atau cemas karena masa depan yang kelihatan suram. Tapi jika demikian kita melupakan suatu hal paling penting yang dipesankan Bunda Maria: berdoa. Mujizat bisa terjadi sewaktu-waktu, tapi yang lebih penting adalah hidup kita sehari-hari. Berdoa, berbuat kebaikan, inilah yang bisa kita lakukan setiap hari. Pertobatan dunia tidak bisa hanya tergantung dari mujizat, tapi dari apa yang bisa kita mulai hari ini dalam hidup kita.

 

Marilah kita berdoa doa yang diajarkan Bunda Maria di Fatima:

Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka, dan hantarkanlah jiwa-jiwa ke surga, terutama mereka yang sangat membutuhkan kerahimanMu.

 

 

Comments are closed.
Translate ยป