Tinggallah bersamaku!
Bacaan: Yohane 15:4-5
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Saat berjalan keluar dari perpustakaan, saya melihat segerombolan anak berfoto di depan gedung utama perpustakaan “Gardner.” Mereka masih memakai toga karena usai wisuda di Universitas California Berkeley. Sekembali dari makan siang, mereka masih berfoto di setiap sudut gedung yang menyimpan kenangan indah perjuangan hidup mati mahasiswa selama 4 tahun. Seorang anak memegang kertas bertuliskan, “Cal, you expand my horizon to see the world, and I am ready to go!” (Cal adalah sebutan untuk universitas California Berkeley). Anak-anak ini mengalami kalau Berkeley menjadi tempat tinggal untuk menempa diri, mengasah pikiran, serta menyiapkan masa depan. Mereka sudah siap bergulat dalam dunia kerja yang penuh persaingan.
Yesus berkata pada para pengikutnya bahwa mereka hanya bisa menghasilkan buah bila tinggal dalam Dia. Apa maksudnya? Karya dan pekerjaan yang kita lakukan akan bermakna dan berarti bagi diri sendiri dan sesama bila didasarkan pada kepercayaan akan Yesus. Kata “tinggal” dan “berada di dalam” berarti bahwa kita menghidupi dan memahami sabda serta melakukan kehendakNya. Tinggal juga bermakna kalau kita memiliki relasi dan hubungan yang dekat dengan sang pemberi hidup. Seperti anak-anak yang berfoto di setiap sudut ruang. Ruang itu menjadi tempat hidup, menyimpan makna, serta membantu mereka untuk berbuah di masa depan.
Kita bisa bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku sudah berbuah banyak dan hasilnya bisa dinikmati orang lain?” Kalau sudah, “Syukur pada Allah!” Kalau belum maksimal buahnya, bisa jadi kita perlu membersihkan ranting-ranting kita yang kering dan tak terurus, menyiangi benalu yang menghambat pertumbuhan rohani kita, menyiram pupuk agar bisa merekat pada pokok anggur kehidupan. Sebab bila kita tidak pernah berbuah, suatu saat hidup kita akan dicampakkan ke dalam api dan dibuang serta dilupakan!