“Tidak mudah menjadi murid Yesus; tetapi suatu panggilan hidup yang sangat berarti”
Filipi 2:12-18
Lukas 14:25-33
Ada satu ucapan populer dalam bahasa Ingeris (slang) bunyinya begini: “I’m so hungry I could eat a horse!” Slang ini dipakai oleh seseorang apabila dia benar-benar sangat lapar, sehingga kuda yang begitu besarpun dia bisa makan. Ucapan populer ini benar-benar suatu ucapan yang sangat berlebih-lebihan. Bagaimana mungkin dia bisa makan kuda yang begitu besar. Tetapi itu hanyalah suatu pernyataan yang mau menjelaskan bahwa orang tersebut sungguh-sungguh sangat lapar.
Yesus pada beberapa kesempatan tertentu sering juga mempergunakan ucapan-ucapan yang berlebihan (exaggeration or overstatement) untuk lebih menegaskan apa yang akan Ia sampaikan. Misalnya: “Apakah benar Yesus mau supaya kita membenci orangtua kita?” Sudah sangat pasti “TIDAK”. Yang Yesus maksudkan disini supaya kita tahu dan sadar bahwa hal pemuridan itu adalah suatu tugas panggilan yang penting; oleh karena itu dari pihak kita yang menjawab panggilan Yesus itu dituntut pengorbanan dan penyerahan diri secara total.
Saudara-saudari terkasih,
Suatu hal yang sangat penting dalam kekatolikan kita, bahwa kita mempunyai Kitab Suci dan Tradisi yang membimbing dan menyertai perjalanan hidup iman kita. Apabila kita dihadapkan dengan pernyataan-pernyataan ataupun pesan-pesan yang menimbulkan teka-teki, sepeti “Membenci orangtuamu”, kita masih mempunyai Tradisi Gereja yang mengajarkan dan mengklarifikasi bagaimana caranya kita menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci itu untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Yesus adalah Sang Sabda yang telah menjelma, yang turun dari Surga. Baik Kitab Suci maupun Tradisi Suci secara bersama-sama membuat Sabda Allah itu kita bisa menggunakannya sebagai pegangan kita dalam hal mengaplikasikannya dalam kehidupan kita setiap hari. Santu Paulus dalam bacaan pertama hari ini menganjurkan agar kita berpegang pada sabda kehidupan; dan hal itu dapat kita lakukan dengan menghadirkan Yesus dalam perjalanan hidup rohani kita setiap hari.
Santu Paulus juga menegaskan:…“kerena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,…Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan…dan berpegang pada firman kehidupan…” (Filipi 2:12,14 dan 16). Mengapa kita harus takut dan gentar? Lakukanlah apa yang ditugaskan kepada kita dan yang dengan rela telah menjawab panggilannya sebagai suatu rahmat dan berkat dari Tuhan.
Disini sangat mungkin bahwa Santu Paulus juga agak berlebih-lebihan (exaggerating a bit). Tetapi tujuannya sangat jelas bahwa: kita harus selalu bekerja keras dan berusaha untuk hidup sebagai murid-murid Yesus yang setia. Kita harus selalu menyiapkan waktu setiap hari “merenungkan Sabda Tuhan” – dengan membaca Kitab Suci dan Ajaran-Ajaran Gereja serta renungan-renungan rohani dari sumber-sumber yang baik. Kalau kita selalu bergerak dan berjalan bersama Yesus maka seperti Santu Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi hari ini mengatakan: “…sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,” (Filipi 2:15). Itulah sukacita kita sebagai saudara dan saudari dalam Kristus.