Mata
Yesaya 29:17-24; Masmur 27; Mateus 9:27-31
Pagi ini jam 6:30 pagi waktu Sydney saya datang ke kamar pengakuan sebelum melayani misa jam 7.00. Jumat Pertama, beberapa umat sudah datang untuk ikut Holy Hour, berdoa di hadapan Sakramen Maha Kudus yang ditahtakan di altar. Seorang ibu berambut keperakan masuk bilik pengakuan. Matanya menyapu ruangan yang ditata rapi dengan kain putih menutup sebagian tembok dan dihias pula dengan lukisan besar karya Rembrant “The Return of the Prodigal Son”. Sambil tersenyum dia berkomentar “Wow, nice room… much better than the previous one”.
Pastor paroki kami, Pater Edward Dooley SJ memang punya mata lahir dan batin yang tajam. Di antara banyak perubahan yang dikerjakan sebagai pastor kepala paroki yang baru, dia memindahkan ruang pengakuan dosa dari bilik kecil yang suram ke ruang pertemuan kecil yang ditata ulang dengan lampu terang dan pengatur suhu ruangan. Hilang sudah kesan “angker”. Suasana “pengadilan” berubah menjadi seperti ruang praktek dokter rohani yang ramah. Mungkin karena itu juga pagi ini antrian agak panjang dari biasanya. Dan betapa sukacita juga meluap di hati saya memandang lekat mata mereka yang dicurahi berkat semangat baru setelah berdamai dengan dirinya, dengan Tuhan dan Gereja. Benar kata orang, mata itu jendela jiwa. Jiwa yang dicuci bersih oleh kuasa Ilahi, membuat mata bersinar dan berbinar!
Bacaan hari ini dari Yesaya dan Injil Mateus menampilkan penyembuhan dari kebutaan. Penyembuhan dua orang buta khususnya, kiranya menyadarkan kita harus bersyukur atas karunia penglihatan. Plato, filsuf agung Yunani kuno percaya bahwa mata adalah pintu masuk enthusiasmos, inspirasi ilahi, dan jalan menuju kebenaran. Dalam tradisi Kristiani, kontemplasi yang dipahami sebagai sebuah cara berdoa, berasal dari kata Latin contemplat yang berarti “memandang dengan penuh perhatian”. Para ahli pendidikan modern memperkirakan bahwa 80 % informasi yang kita serap didapatkan melalui penglihatan kita. Mata, saudara-saudariku, adalah indera yang paling utama.
Mata adalah jendela jiwa. Lewat mata kita, kita bisa memahami perasaan orang lain yang terungkap lewat ekspresi dan gerak tubuhnya. Orang juga bicara cinta yang katanya muncul pertama dari mata, lalu turun ke hati. Dengan mata kita bisa menonton film, membaca buku, memandang hijaunya dedaunan di hutan, warna-warni daun musim gugur atau bunga musim semi, membiarkan hati gembira melihat anak-anak bermain dan tertawa dsb. Kita bisa melakukan banyak hal karena punya penglihatan. Kita sungguh perlu bersyukur atas karunia mata dan penglihatan. Lihatlah dunia dengan kesadaran yang diperbarui itu.
Disisi lain kita juga sadar, Yesus Sang Guru juga selalu mengajak kita belajar lebih dalam. Suatu waktu menyitir Yesaya (42:20) dan Yehezkiel, Dia mengingatkan mereka yang “punya mata tetapi tidak melihat” (Mat 13:14, Mrk 8:18). “Blind spot” bisa melekat pada jiwa dan membuat kita tak mampu menemukan Tuhan di balik segala peristiwa, tak mampu mengenali rahmat dan kelemahan diri kita, tak mampu melihat perasaan dan kebutuhan orang lain. Jenis kebutaan ini tidak bisa disembuhkan dengan ilmu kedokteran. Kita membutuhkan Tuhan sebagai penyembuh, karena Dialah Terang dan Keselamatan kita (Mzm 27). Kita butuh rahmatNya agar bisa memandang kehadiranNya dalam diri kita, dan dalam diri sesama terutama yang membutuhkan sapaan kita, uluran tangan kita, kehangatan hati kita.
Seusai melayani saudara-saudariku pagi tadi, saya jadi sadar dan memandang lebih jernih diri sendiri: Wah…. saya juga perlu membersihkan jiwa saya, sudah waktunya bertemu pembimbing rohani saya dan minta confession. Bagaimana dengan Anda?
