Minum dari Kristus, St Ambrosius dan Nelson Mandela

Minum dari Kristus, St Ambrosius dan Nelson Mandela

Ambromandela

Yesaya 30:19-21,23-26, Masmur 147, Mateus 9:35-10.1, 5a, 6-8.

Santo Ambrosius (338-397) dikenal sebagai satu dari empat Doktor Gereja, yang juga membawa Santo Agustinus ke pangkuan Gereja. Uniknya, dia dipilih sebagai Uskup secara langsung oleh umat Milan, Itali, saat dia menjadi Gubernur dan tercatat sebagai “simpatisan Katolik”. Dia sudah ikut pelajaran agama, tetapi belum dibaptis! Gelar Doktor yang disematkan Gereja padanya membawa kita pada gambaran seorang intelektual yang banyak membaca buku, merefleksi dan memahami secara mendalam hal ihwal Gereja yang menjadi spesialisasinya, dan mempunyai kemampuan istimewa untuk menjelaskan dan menerapkan pengetahuannya itu. Mari kita simak kutipan dari salah satu suratnya, nasehat pada para gembala umat, yang menjadi bagian dari Ibadat Bacaan Harian.

“Minumlah dari Kristus, agar suaramu juga didengarkan umat. Simpanlah dalam budimu air itu, yang adalah Kristus, air yang memuliakan Tuhan. Simpanlah air dari bermacam sumber, air yang dicurahkan bak hujan dari awan-awan kenabian. Dia yang membaca banyak dan memahami banyak hal, akan menjadi penuh. Dia yang penuh, akan menyegarkan yang lain. Begitulah kata kitab suci: ‘Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu dicurahkannya ke atas bumi ‘ (Pengkotbah 11:3).”

Tentu saja pesan yang sama bisa berlaku untuk setiap orang Kristiani. Karena seperti diingatkan oleh Paus Fransiskus dalam eksortasinya, the Joy of the Gospel, kita semua dipanggil untuk menjadi misionaris. Dan menjadi misionaris itu bukanlah aktivitas part-time. Panggilan kita adalah untuk membawa terang, untuk memberkati, untuk membangunkan yang letih lesu, menyembuhkan yang luka, membebaskan yang terbelenggu. Dan untuk itu, kita perlu tak henti belajar tentang iman kita, merenungkannya, dan membiarkannya mengalir keluar secara alami dalam hidup kita.

Salah satu pemimpin besar yang hidupnya didorong dan diilhami ajaran Kristus seperti Santo Ambrosius adalah Nelson Mandela yang baru saja meninggalkan kita. Dibaptis di sebuah gereja Methodis kecil di Qunu, Eastern Cape, dia pernah menjadi anggota Asosiasi Mahasiswa Kristen dan mengajar sekolah Minggu. Saat dipenjara karena terlibat sabotase sarana pemerintahan demi melawan ketidakadilan sistem apartheid, dia belajar dari narapidana lain tentang Islam, komunisme dan lain-lain, yang membuatnya makin arif bijaksana. Dia sebut penjara itu “The University of Robben Island”. Saat keluar darinya, dia berjalan meninggalkan juga kepahitan, kemarahan, dan kebencian, karena dia sadar jika tidak demikian “I’d still be in prison”.

Dalam Konferensi Paskah Zionist Christian Church tahun 1994 dia ingatkan:

“The Good News borne by our risen Messiah who chose not one race, who chose not one country, who chose not one language, who chose not one tribe, who chose all of humankind! Our Messiah, born like an outcast in a stable, and executed like criminal on the cross…Our Messiah, whose life bears testimony to the truth that there is no shame in poverty: Those who should be ashamed are they who impoverish others…Whose life testifies to the truth that there is no shame in being persecuted: Those who should be ashamed are they who persecute others…Whose life testifies to the truth that there is no shame in being oppressed: Those who should be ashamed are they who oppress others.”

Air kata-katanya menyuburkan semangat memperjuangkan keadilan bersamaan dengan perdamaian, mengalir dari semangat kristianinya. Contoh sempurna dari pelaksanaan pesan Santo Ambrosius! Semoga air hidup Kristus juga mengaliri hidup kita, dan darinya meluap rahmat-rahmat bagi setiap orang yang kita jumpai. Amin!

Comments are closed.
Translate »