THE IMMACULATE CONCEPTION of the BLESSED VIRGIN MARY
Genesis 3;9-15, 20
Ephesians 1:3-6, 11-12
Luke 1:26-38
Saudara/i yang terkasihSesuai dengan kalendar Liturgi, hari ini tanggal 9 December gereja merayakan “the immaculate conception” dari Santa Perawan Maria yang biasanya dirayakan pada tanggal 8 December setiap tahunnya. Tetapi karena hari Minggu kedua masa Advent jatuh pada tanggal 8 December maka perayaan “the immaculate conception” dari Santa Perawan Maria dirayakan pada tanggal 9 December untuk tahun ini.
Apa sebenarnya alasannya gereja merayakan “the immaculate conception” dari the Blessed Virgin Mary (Maria dikandung tanpa noda)? Ketiga bacaan diatas yang mewarnai perayaan hari ini menunjukkan bahwa betapa Allah yang adalah Kasih tak akan pernah mengabaikan dan menelantarkan manusia yang telah Tuhan ciptakan sesuai dengan gambar dan rupaNya. Bukan tidak mungkin dalam kehidupan ini kita pernah mengalami kesedihan yang sangat mendalam apabila ekistensi kita tidak dihargai ataupun diakui lagi oleh orang yang sangat dekat dengan kita. Kita sudah tidak pernah mendengar lagi sapaan-sapaan sayang, kata-kata yang lembut dan manis; ataupun kalau pernah dipermalukan dimuka umum yang menyangkut martabat kita. Sungguh sangat menyakitkan
Dalam hubungan dengan perayaan hari ini “the immaculate conception of the Blessed Virgin Mary” (Maria dikandung tanpa noda), kita diajak untuk merenungkan bahwa kita sendirilah yang mengorbankan diri kita dengan berbuat dosa. Oleh dosa-dosa itu kita membangun dinding yang memisahkan kita dari cinta Tuhan. Seperti Adam dan Hawa, oleh tipu muslihat ular dalam taman itu telah menjauhkan manusia pertama itu dari Tuhan. Namun sebagaimana kita alami dengan orangtua kita masing-masing yang selalu melindungi kita, demikian juga Bunda Maria, selalu bersedia menjauhkan dan melindungi kita dari tipu muslihat ular dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kita menyadari bahwa kita ini lemah, dan seringkali dalam perjalanan hidup ini oleh kesombongan pribadi membuat kita lupa diri. Akan tetapi berkat perayaan hari ini, kita diberi kesempatan untuk mawas diri bahwa kita ini bukan apa-apa dihadapan Tuhan. Kita diberi kesempatan lagi untuk mengisi aki kita yang mungkin sudah mulai lemah, atau untuk mengganti baterei alat pendengar kita yang sudah lemah lewat perayaan hari ini dan atau lewat bacaan-bacaan kitab suci. Bunda kita Santa Perawan Maria akan selalu dengan tangan terbuka dengan teladan kerendahan hatinya akan selalu siap membantu.
Mother Teresapun pernah spiritually mengalami bahwa Tuhan mengabaikan dan tidak memperhatikan dia lagi. Namun perasaan itu tidak pernah membuat Mother Teresa kehilangan kerendahan hatinya untuk merangkul orang miskin dan yang terlantar. Kerendahan hati adalah benang emas yang bisa kita lihat dalam setiap kehidupan para kudus yang menghubungi kesederhanaan mereka dengan kemahakuasaan Tuhan. Kesederhanaan dan kerendahan hati Bunda Maria dihadapan malaikat Gabriel telah menunjukkan kesediaan Bunda Maria dipimpin oleh Roh Kudus agar ia selalu bekerja dalam pimpinan dan kasih Allah. Oleh karena itu dengan kepastian yang nyata Bunda Maria menjawab : “Jadilah padaku, menurut kehendakMu”.
Saudara/i ku terkasih,
Kasih Allah selalu membuat kita mengakui bahwa kita bukan apa-apa dihadapanNya. BerkatNya akan selalu menyertai kita, agar kita akan selalu merasakan bahwa kita adalah pilihan Allah satu-satunya agar kita akan selalu kudus dan tak bercela dihadapanNya. Seperti Bunda Maria kita perlu mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan: “mengapa dan mengapa?” Tetapi dengan suatu penyerahan yang total kepada kemahakuasaan dan kasih Tuhan yang selalu menerima kita dalam keadaan apapun lalu menyerahkan diri sepenuhnya kepada misteri rencana Tuhan atas diri kita lewat suatu pernyataan yang sangat sederhana, “Ya, Tuhan! Saya percaya”. Hal ini diperkuat lagi dengan kata-kata malaikat Gabriel:…”karena bagi Allah, tidak ada yang mustahil.” Amin.
One thought on “THE IMMACULATE CONCEPTION of the BLESSED VIRGIN MARY”
Dear romo Raymundus,
Point-point yang indah:
Kerendahan hati adalah benang emas;
Kasih Allah selalu membuat kita mengakui bahwa kita bukan apa-apa dihadapanNya;
dengan suatu penyerahan yang total kepada kemahakuasaan dan kasih Tuhan yang selalu menerima kita dalam keadaan apapun;
lalu menyerahkan diri sepenuhnya kepada misteri rencana Tuhan atas diri kita lewat suatu pernyataan yang sangat sederhana, “Ya, Tuhan! Saya percaya”
Terima kasih, romo.
Comments are closed.