Roh Kudus sebagai sumber dan kekuatan pewartaan iman

Roh Kudus sebagai sumber dan kekuatan pewartaan iman

Ef 6:10-20

Luk 13:31-35

Hari-hari ini suasana politik pemilihan presiden Amerika Serikat semakin memanas. Sudah 70 juta pemilih yang memberikan suaranya seminggu sebelum pemungutan resmi pada 3 November mendatang. Apakah Mr. Trump yang diusung partai republikan akan berhasil mempertahankan kursi presiden untuk periode kedua? Ataukah dengan terpaksa harus memberikan kesempatan kepada Mr. Joe Biden dari partai demokrat untuk menduduki gedung putih dan menjadi presiden Katolik kedua setelah John F. Kennedy yang ditembak mati sebelum masa pemerintahannya berakhir lebih dari 50 tahun yang lalu. Biden pernah menjabat selama dua periode berturut-turut sebagai wapres mendampingi presiden Obama sebelum Trump secara mengejutkan menang atas Hillary Clinton pada pemilu 2016 lalu melalui perhitungan elektoral. Hasil survey media mainstream yang selama ini bertolak belakang dengan kebijakan pemerintahan Trump dengan slogan America-first, menempatkan Joe Biden dan running-matenya Kamala Harris, seorang senator perempuan dari negara bagian California, unggul untuk sementara. Masalah ekonomi, health care dan covid-19 menjadi isu-isu utama yang hangat diperdebatkan. Siapa yang akan memenangi pertarungan ini? Kita lihat saja nanti…

Bacaan-bacaan suci hari ini mengarahkan kita untuk menjawab pertanyaan ini: Siapa yang paling kita andalkan dalam perjuangan hidup kita di dunia ini? Dalam bacaan pertama, Santu Paulus kepada umat di Efesus berbicara tentang kekuatan Allah sebagai semangat dasar perjuangan kita di atas dunia ini. Roh Allah harus menjadi kekuatan utama yang mendorong setiap keputusan yang kita ambil dalam bertindak berhadapan dengan segala kekuatan lain yang melawan kuasa Allah: “Sebab itu kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, agar kalian dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri sesudah menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap berikatpinggangkan kebenaran, dan berbajuzirahkan keadilan dan kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kalian akan dapat memadamkan semua panah api si jahat. Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu sabda Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu dalam Roh dan berjaga-jagalah dalam doamu itu dengan permohonan terus-menerus untuk segala orang kudus.”

Sementara itu di dalam Injil, Lukas menampilkan Yesus yang tidak takut menghadapi semua lawan yang mengancam-Nya, yakni para farisi dan Herodes, untuk segera meninggalkan Jerusalem, pusat kekuatan politik dan religius saat itu, yang sekaligus mengakhiri hidup dan pewartaan-Nya di atas dunia ini. Dengan memanggil Herodes sebagai serigala, Yesus mengingatkan para musuh yang bersekongkol untuk membunuh-Nya akan konsekuensi dari setiap pilihan yang tidak berpihak pada kasih dan kehendak Allah: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu, ‘Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan esok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan esok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem.’ Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap, tetapi kalian tidak mau…”

Kehadiran dan suara profetik Gereja dan setiap pengikut Kristus tidak jarang berakhir tragis. Para nabi dan martir iman adalah tanda kehadiran nyata Allah di dalam dunia. Semoga iman yang kita wartakan terus bertumbuh dan berbuah berkat kuasa Roh Kudus kendati harus berhadapan dengan setiap kekuatan dan tantangan yang kadang berlawanan langsung dengan kuasa dan kehendak Allah sendiri.

Comments are closed.
Translate »