Senin Pekan Biasa XII

Senin Pekan Biasa XII

Fr Gunawan Wibisono O.Carm
23 Juni 2025
Kej 12, 1-9 + Mzm 33 + Mat 7, 1-5

Lectio
Pada waktu bersabdalah Yesus: ‘jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu’.

Meditatio
‘Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu’. Sebuah penyataan Yesus yang memakai bahasa kiasan tetapi benar-benar menohok. Sebab itulah yang memang banyak dilakukan orang: mencari-cari kesalahan orang lain, hanya untuk menutupi kesalahan diri sendiri. Kita pun pasti sedikit banyak tentunya pasti terhinggap penyakit ini. Itulah munafik. Kita begitu mudah menghakimi sesame dengan menggunakan kebenaran diri, tetapi kita lupa evaluasi diri.
Namun bukankah kalau saudara kita berbuat dosa, kita harus menegornya di bawah empat mata (Mat 18), dan kalau kita berdiam diri, kita malah dimintai pertanggunganjawab? (Yeh 3) Benar! Itulah tanda persaudaraan, harus mengingatkan satu sama lain, dan itulah yang harus kita kerjakan. Namun tidaklah dimaksudkan kita mencari-cari kesalahan sesame. Kalau pun kita mempunyai kekurangan, tidak tertutup kemungkinan kita ditantang untuk berani mengingatkan sesame, dan pada seketika itu jugalah kata-kata kita menjadi penyadaran diri untuk tidak jatuh dalam kesalahan yang sama. Saling mengingatkan dan meneguhkan adalah ungkapan cinta terhadap sesame. Saling mengingatkan satu sama lain tidaklah sama dengan mencari-cari kesalahan sesama.

Oratio
Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu atas kasihMu yang menyelamatkan. Engkau pun juga mengingatkan kami untuk tidak saling mencari-cari kesalahan, tetapi saling meneguhkan dan mengingatkan sesame agar tidak tenggelam dalam kesalahan yang sama. Semoga kami semakin menghayati semangat persaudaran dalam keseharian kami. Amin.

Contemplatio
‘Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu’.

Tubuh yang Diserahkan

Tubuh yang Diserahkan

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

22 Juni 2025

Lukas 9:11b-17

Hari Raya Corpus Christi (Tubuh dan Darah Yesus Kristus) merayakan Ekaristi, secara khusus kehadiran Yesus Kristus yang nyata dalam Misa Kudus. Karena itu Hari Raya Corpus Christi secara intrinsik terkait dengan Kamis Putih, dimana Yesus melembagakan Ekaristi pada Perjamuan Terakhir. Jika Corpus Christi pada dasarnya terkait dengan Kamis Putih, maka Corpus Christi juga terkait dengan seluruh Triduum Paskah. Kehadiran Yesus yang nyata tidak hanya dikaitkan dengan Perjamuan Terakhir tetapi juga tidak bisa lepas dengan Salib dan Kebangkitan-Nya. Namun, bagaimana Corpus Christi terkait dengan Salib dan Kebangkitan?

Tubuh dan Darah Yesus, pada dasarnya, adalah kurban Salib (Yoh 1:29; Ef 5:2). Dalam Perjanjian Lama, mempersembahkan kurban adalah cara penyembahan yang diperintahkan Allah. Kitab Imamat menjelaskan berbagai jenis pengorbanan, seperti korban bakaran (holocaust), korban penghapus dosa, dan korban perdamaian (atau korban persekutuan) (Im 1-5). Yesus dengan sempurna menggenapi semua pengorbanan Perjanjian Lama ini. Dia menyerahkan diri-Nya sepenuhnya di kayu salib sebagai korban bakaran yang sempurna (Ibr 10:5-10). Dia wafat untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sama seperti korban penghapus dosa (2 Kor 5:21). Selain itu, Tubuh dan Darah-Nya diterima oleh umat-Nya, sama seperti kurban persekutuan – jenis persembahan yang sebagian diberikan kepada Tuhan, sebagian dimakan oleh imam, dan sebagian lagi dibagikan kepada para penyembah, yang melambangkan persekutuan antara Tuhan dan umat-Nya (Ef 2:14-16).

Namun, Tubuh Kristus juga terhubung dengan Kebangkitan-Nya. Tubuh dan Darah Kristus yang kita terima dalam Ekaristi bukanlah sekadar daging biasa, melainkan Tubuh Kristus yang dimuliakan dan dibangkitkan. Tubuh manusia biasa adalah lemah, terbatas, dan hancur setelah kematian. Namun, tubuh Yesus yang telah dibangkitkan penuh dengan rahmat dan kuasa yang memberi kehidupan – tubuh yang tidak akan mati lagi, mampu melampaui ruang dan waktu, bergerak di antara langit dan bumi, dan dapat mengubah wujudnya menjadi roti dan anggur. Inilah sebabnya, dalam Yohanes 6:54-55, Yesus dengan penuh keyakinan mengajarkan: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada hari terakhir, sebab daging-Ku adalah makanan yang sejati dan darah-Ku adalah minuman yang sejati.”

Perayaan Corpus Christi mengungkapkan bahwa Yesus, Putra Allah yang hidup, menyerahkan segalanya – hidup-Nya, keilahian-Nya, dan kemanusiaan-Nya – bagi kita sebagai tanda utama dari kasih-Nya yang radikal. Namun, Corpus Christi tidak berakhir dengan Ekaristi. Ketika kita membawa Yesus dalam hidup kita, kita juga dipanggil untuk berbagi tubuh kita satu sama lain dalam kasih. Faktanya, sebagai manusia, ungkapan kasih yang terbesar adalah melalui tubuh kita. Pasangan yang sudah menikah memberikan diri mereka satu sama lain sampai maut memisahkan mereka. Orang tua mengorbankan tubuh mereka untuk anak-anak mereka agar mereka dapat hidup dan bertumbuh. Para pria dan wanita religius mempersembahkan tubuh mereka untuk Gereja dan umat Allah. Sama seperti Yesus berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu,” kita juga melakukan hal yang sama, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan dalam kasih!”

Ekaristi sungguh-sungguh menjadi pusat kehidupan kita – bukan hanya karena Ekaristi memberikan penyembahan yang sempurna dan berkenan kepada Bapa, tetapi juga karena Ekaristi memberikan kita rahmat untuk berbagi tubuh kita dengan orang lain. Hanya dengan berbagi kemanusiaan kita dalam kasih, kita dapat menemukan kebahagiaan sejati, dan hal ini dimungkinkan melalui rahmat yang kita terima dalam Ekaristi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apa pemahaman kita tentang Ekaristi? Seberapa sering kita berpartisipasi dalam Ekaristi dan menerima Tubuh dan Darah Kristus? Bagaimana kita mengekspresikan rasa hormat dan kasih kita ketika kita menerima Ekaristi? Bagaimana kita menggunakan tubuh kita untuk mengasihi?

Translate »