Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Menjelang Natal

Menjelang Natal

Rm Agung Wahyudianto O.Carm

Lukas 1:67–79

Dalam hari-hari menjelang Natal, kita sering dikepung oleh gemerlap: lampu, belanja, musik. Tapi kidung Zakharia membawa kita ke arah yang lebih dalam. Ia tidak menyanyikan kegembiraan yang hingar, tapi mengenali terang yang terbit justru di tengah kegelapan. Dan inilah makna Natal yang sejati: bukan Tuhan yang datang dari kejauhan, tapi Tuhan yang menyinari dari dalam luka-luka dunia.

Zakharia bernubuat setelah sekian lama membisu. Dan dari keheningan itulah lahir pujian. Ia tidak berseru dari puncak kemenangan, tapi dari pengalaman ditarik masuk ke dalam sunyi. Kadang, kita pun perlu hening lebih dulu untuk bisa melihat terang yang sebenarnya. Karena cahaya sejati bukan hanya yang datang dari luar, tapi yang membangkitkan dari dalam hati yang nyaris padam.

Natal bukan tentang datangnya sesuatu yang belum pernah ada. Natal adalah terbukanya mata batin kita untuk mengenali bahwa Terang itu sudah mendekat, bahkan tinggal di tengah kita. Tuhan tidak datang untuk menggantikan hidup kita, tapi untuk menyatu dengan kehidupan itu sendiri—dengan seluruh terang dan gelapnya.

Fajar dari tempat tinggi itu tidak menghapus malam secara instan. Ia menyusup perlahan, menyinari langkah demi langkah, membimbing kita dari rasa takut menuju damai, dari beku menuju pengharapan. Zakharia menyebutnya sebagai “jalan damai” — bukan pelarian dari kenyataan, tapi jalan tenang di tengah kenyataan.

Hari ini, ketika Natal semakin dekat, mari kita bertanya:

Apakah aku sungguh siap menyambut Dia yang datang bukan untuk menyelamatkanku dari kegelapan,

tetapi menyertai aku melewatinya, dan menyinari jalan di dalamnya?

Mempercayakan diri kepada Allah

Mempercayakan diri kepada Allah

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas, 1:57-66

Selasa, 23-12-2025

Kita berada di masa adven bagian kedua atau dikenal dengan “adven natalis”, di mana kita diajak mengadakan persiapan kedatangan Yesus yang pertama di Betlehem. Kedatangan pertama Yesus di dunia mengajarkan kepada kita tentang Allah yang hadir di tengah bangsa manusia untuk menyelamatkan karena kasih-Nya.

Keselamatan Allah tampak jelas dalam keluarga Zakharia dan Elizabeth. Mereka adalah keluarga yang tidak memiliki anak sampai usia tua. Elisabeth adalah perempuan mandul, terkena aib. Akan tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dari rahim yang secara manusiawi tidak subur lagi, bahkan madul, Allah dapat menumbuhkan benih yang luar biasa. Elisabet yang disebut mandul itu, telah mengndung dan melahirkan seorang anak. Dengan demikian, penantian mereka akan masa sukacita telah berakhir. Kelahiran anak tersebut bukan hanya menggembirakan Zakharia dan Elisabeth, melainkan juga membuat banyak orang bersukacita. Di tengah sukacita mereka terdapat hal yang sungguh luar biasa. Keluarga besar ingin memberi nama anak tersebut, Zakharia menurut nama bapanya. Dan itulah adat kebiasaan Israel saat itu. Akan tetapi baik Elisabet maupun Zakharia ingi memberi nama anak mereka “Yohanes”. Keluarga besar terkejut dan protes, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Akan tetapi baik Elisabet maupun Zakharia tetap pada keputusan mereka. Yohanes [Ibr: Yohanan] artinya “Allah telah bermurah hati” atau “Allah yang berbelas kasih”. Allah mengasihi Zakharia dan Elisabeth.

Zakharia dan Elisabeth lebih memercayakan diri mereka kepada Allah daripada kepada adat kebiasaan. Sebab memang Allah yang berkuasa menyelamatkan, sebagaimana mereka ungkapkan tentang Yohanes, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. Beranikah kita keluar dari adat kebiasaan untuk memercayakan diri kita hanya kepada Allah?

Senin Pekan Khusus Adven

Senin Pekan Khusus Adven

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
22 Desember 2025
1Sam 1: 24-28 + Mzm + Luk 1: 46-56

Lectio
Mendengar sukacita Elisabet, berserulah Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Meditatio
Maria mengucap syukur kepada Tuhan atas berkat dan kasih yang dinikmatinya. Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Segala yang baik dan indah yang dinikmatinya dirasakan sungguh bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan Allah. Maria merasakan telah mendapatkan perhatian isitmewa dari Tuhan Allah sang Penyelamat
Maria juga mengamini kata-kata Elisabet, bahwa sungguh berbahagialah orang yang percaya apa yang dikatakan Tuhan itu akan terlaksana. Sebab Dia sungguh mahamulia dan luhur. Maria yakin segala yang dirasakannya juga akan dinikmati oleh semua orang yang percaya kepadaNya. Maria yakin bahwa rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Dia sungguh-sungh penuh belaskasih
Ucapan syukur Maria mengingatkan, bahwa seseorang yang mudah mengucapkan syukur adalah orang-orang yang merasakan kehadiran Kristrus Yesus dalam hidupnya. Dia merasakan segala yang baik dan indah, yang berasal daripadaNya. Peristiwa Natal akan mengingatkan kita semua nanti, sejauhmana kita merasakan kehadiran dan berkatNya dalam hidup kita. Kalau kita merasakan bahwa Natal adalah Imanuel, maka kita akan selalu bersyukur kepadaNya. Sebaliknya juga, kalau kita selalu terdorong mengucapkan syukur kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan berarti Tuhan Allah dan kehendakNya ada dan lahir dalam diri kita. Inilah Natal yang sesungguhnya.

Oratio
Yesus Kristus, bangkitkanlah selalu dalam diri kami, bahwa kami semakin hari semakin mengamini Engkau dalam setiap langkah kami. Itu tanda iman kepercayaan kami, bahwa Engkau Imanuel. Semoga kami pun selalu bersyukur kepadaMu yang menyelamatkan. Amin.

Contemplatio
Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya

Minggu Adven IV A

Minggu Adven IV A


(Yes. 7:10-14; Rm. 1:1-7; Mat. 1:18-24)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan tema Gaudete, bersukacitalah. Sukacita itu harus terus hadir dalam hidup kita, sebab sukacita kita berada dalam Tuhan. Minggu ini kita merenungkan kisah tentang awal karya keselamatan yang hadir melalui Bunda Maria dan Yusuf suaminya. Kisah ini mengantar kita untuk memasuki pesta kelahiran Tuhan Yesus yang akan kita rayakan pada minggu depan. Fokus kita pada Emmanuel, Allah beserta kita.
Natal sudah dekat. Pastinya kita mulai disibukkan dengan berbagai hal untuk mempersiapkan perayaan itu dengan sebaik mungkin. Sudah sejak tiga minggu lalu kita merenungkan bagaimana menyiapkan hati kita untuk menjadi palungan Tuhan Yesus lahir. Ketika Tuhan Yesus lahir di dalam palung hati kita, kita pasti bersukacita dan ingin membagi sukacita itu kepada orang-orang yang kita kasihi, keluarga, sahabat dan kenalan kita. Kita mulai mengatur kapan waktu untuk makan bersama. Yang di kota mulai membeli baju baru, pesan kue natal, pesan tempat makan di restoran, dll. Yang di kampung halaman mulai menangkap dan mengurung ayam, babi, sapi, dll., untuk dipotong pada perayaan Natal nanti. Anak-anak muda mulai memikirkan kejutan hadiah untuk teman-teman atau kekasihnya. Komunitas para Suster dan Bruder mulai sibuk mengirim kartu ucapan-ucapan selamat Natal, bahan triduum, dll. Kelompok paduan suara mulai gladi bersih dalam satu dua hari ini untuk mempersembahkan suara terbaik pada perayaan Natal nanti. Panitia-panitia natal juga sibuk membuat tenda, kandang Natal, lampu kelap-kelip, dan masih banyak lagi dipersiapkan dalam minggu ini. Singkatnya, Natal sudah dekat dan kita akan rayakan dengan sukacita.
Saudara-saudariku terkasih, dalam bacaan Injil Minggu ini, malaikat berpesan kepada Yusuf untuk menamai anak yang akan lahir itu sebagai Emmanuel, Allah
beserta kita. Sesuai dengan namaNya, Tuhan Yesus dalam perutusanNya di dunia ini telah menunjukkan bahwa Allah itu ada, dekat, menyertai kita. Dalam diri Yesus kita menemukan sosok Allah yang penuh kasih, yang peduli, yang selalu menghendaki agar umatNya bahagia, sejahtera, selamat. Seperti pesanNya kepada para murid, “lihatlah, aku-bersama-kamu sampai akhir zaman”, mau menggambarkan betapa Allah itu sangat dekat dengan kita para muridNya, orang-orang yang Dia kasihi.
Kehadiran Yesus di antara manusia dimulai di Betlehem dan tidak akan pernah berakhir hingga sekarang bahkan sampai akhir zaman. Dari kata Emmanuel ini, mau menunjukkan bahwa Tuhan tidak tinggal di surga yang begitu jauh di sana, yang hanya melihat dan siap penghukum, melainkan Dia datang di antara kita, untuk kita, Dia bahkan menjadi salah satu dari kita dalam diri Yesus itu. Dia memeluk dan merasakan apa yang kita rasakan di dunia ini, kecuali dalam hal dosa.
Saudara-saudariku terkasih, Natal sudah dekat. Kita yang sudah membersihkan diri melalui Sakramen Tobat, sudah selayaknya bersukacita menyambut kedatangan Tuhan Yesus di hati kita, di dalam rumah kita, komunitas kita, yang terpancar dalam kata dan senyuman yang menyejukkan. Itulah arti sesungguhnya dari Emmanuel, Allah beserta kita. Sekarang, tidak ada lagi alasan untuk bersedih karena merasa disalahpahami, ditinggalkan, sendirian, dll. Mari kita menyerukan di dalam hidup kita, Emmanuel, Tuhan beserta kita. Dan, di kedalaman hati kita, “Tuhanku besertaku”. Dengan harapan, ketika kita menyerukan, “Tuhan berserta kita”, hati, pikiran, perkataan, perbuatan, sikap dan senyuman dalam diri kita akan terpancar jelas sehingga Tuhan Yesus yang hidup di dalam diri kita, akan dikenal oleh orang-orang di luar sana. Inilah saksi Kristus, dimana kita mampu memancarkan Krstus yang penuh kasih dan kelembutan itu kepada semua orang. Selamat memasuki persiapan-persiapan perayaan Natal. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

RENUNGAN: 16 DESEMBER 2025

RENUNGAN: 16 DESEMBER 2025

Rm Ignasius Joko Purnomo

Matius: 21:28-32

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

“Tak ada guna bunga kalau tak berbuah.”Peribahasa sederhana ini mau mengungkapkan bahwa kata-kata indah tanpa perbuatan baik tidak menghasilkan apa-apa.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengisahkan perumpamaan tentang seorang ayah dan dua anaknya. Ayah itu berkata kepada anak pertama: “Anakku, pergilah bekerja di ke bun anggur hari ini.” Anak itu menjawab, “Baik, Bapa,” tetapi ia tidak pergi, tidak melakukan apa pun.Jawabannya baik dan benar, tetapi hidupnya tidak sesuai. Inilah gambaran iman yang hanya berhenti di bibir: berdoa, bernyanyi, bahkan  mungkin aktif dalam kegiatan rohani, tetapi tanpa buah dalam kehidupan nyata.Lalu ayah itu berkata kepada anak yang kedua hal yang sama. Anak ini menjawab, “Aku tidak mau,” tetapi ia menyesal dan pergi melakukan apa yang diperintahkan ayahnya. Yesus lalu bertanya kepada orang-orang: “Siapakah di antara keduanya yang melakukan kehendak ayahnya?”Mereka menjawab: “Yang kedua.”

Saudara-saudari, perumpamaan ini sangat sederhana, tetapi maknanya sangat mendalam. Kedua anak ini menggambarkan dua sikap manusia di hadapan Allah: Anak pertama berkata “ya” tetapi tidak melakukannya – lambang dari orang yang kelihatannya taat, namun tidak menghidupi imannya. Anak kedua menolak, namun akhirnya menyesal dan berubah – lambang dari orang berdosa yang hatinya terbuka pada rahmat Allah. Lewat perumpamaan ini Yesus menegur para pemuka agama dan orang Farisi yang berkata “ya” kepada Allah lewat doa dan hukum, tetapi dalam tindakan, mereka tidak melaksanakan kehendak Allah. Mereka berbicara tentang kebenaran, tetapi tidak mau berubah. Allah tidak tertarik pada kata-kata indah atau penampilan luar, melainkan pada hati yang mau taat dan bertobat. Tidak cukup berkata “ya” atau membuat janji rohani yang indah. Kisah ini juga mau menegaskan bahwa Iman sejati harus terwujud dalam tindakan. Iman sejati tidak berhenti pada ucapan “ya, Tuhan,” tetapi diwujudkan dalam tindakan kasih, kejujuran, dan ketaatan. Tuhan mengingatkan kita agar tidak terjebak pada kesalehan lahiriah tanpa perubahan batin. Lalu, Yesus berkata bahwa pemungut cukai dan pelacur akan masuk ke dalam Kerajaan Allah lebih dahulu daripada para pemimpin agama.Mengapa? Karena mereka bertobat ketika mendengar pewartaan Yohanes Pembaptis. Mereka yang dulu jauh dari Allah, justru membuka hati untuk diubah oleh-Nya. Sedangkan orang-orang yang merasa diri “baik” merasa diri suci, justru  justru menutup hati karena menganggap diri tidak perlu bertobat. Mereka tidak  merasa perlu diubah. Oleh karena itu, marilah kita bertanya dalam hati:Apakah aku seperti anak pertama – yang  berkata “ya” tapi tidak berbuat – atau seperti anak kedua – yang sempat berkata “tidak,” tapi akhirnya datang juga?

Saudara-saudari terkasih,

Allah tidak melihat masa lalu kita – seberapa sering kita menolak-Nya, seberapa banyak kita gagal – tetapi Ia melihat hati yang mau kembali. Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi orang yang bersedia diperbarui setiap hari. Selama kita bersedia berkata, “Tuhan, aku menyesal dan mau datang kepada-Mu,” pintu rahmat selalu terbuka.  Mari kita mohon rahmat Tuhan agar setiap “ya” yang kita ucapkan kepada Tuhan menjadi nyata dalam tindakan kasih dan pelayanan. Sebab hanya dengan demikan kita sungguh siap menyambut kedatangan Kristus Sang Penebus.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Translate »