Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Ambil bagian dalam karya Tuhan

Ambil bagian dalam karya Tuhan

RP Hugo Susdiytanto O.Carm

Markus 6:1-6

Rabu, 4 Februari 2026

Kita sering mendengar  peribahasa, “Jangan menilai buku dari sampulnya”, artinya jangan menilai kualitas, karakter, atau nilai sesuatu atau seseorang hanya dari penampilan luarnya saja, karena apa yang terlihat di luar belum tentu mencerminkan isi atau kebenaran sesungguhnya.

Orang-orang Nazaret, tempat Yesus dibesarkan terjebak pada bungkus, asal-usul kemanusiaan Yesus. Mereka merasa sungguh-sungguh mengenal Yesus. Padahal sebenarnya, mereka hanya mengenal sebagaian kecil tentang Yesus. Mereka hanya mengenal orang tuanya, saudara-saudari atau kerabatnya. Perasaan yang berlebihan itu membuat mereka kecewa dan menolak Dia. Dengan penolakan tersebut mereka kehialangan banyak hal, misalnya Yesus tidak membuat mukjizat di tengah mereka. Bahkan Yesus heran dengan ketidakpercayaan mereka. Dalam Bahasa Jawa keadaan kehilangan tersebut diungkapkan dengan, “Mburu uceng kelangan deleg”,mengejar sesuatu yang kecil/sepele, namun justru kehilangan sesuatu yang besar dan berharga.

Misi Yesus di tengah orang -orang sekampung-Nya menghadapi tantangan. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita bahwa mewartakan kabar keselamatan, warta Kerajaan Allah tidak mudah. Hal penting yang harus ada sebagai murid adalah kesetiaan dan ketekunan dalam menghadapi berbagai masalah. Selain masalah dari luar ada pula masalah dari dalam, misalnya di era digital, panggilan menjadi murid merupakan tantangan tersendiri. Mengapa? Karena orang -orang generasi sekarang sering kali menghindari tantangan dan menolak dengan susah payah. Sebaliknya, kemudahan dan kesenangan dipakai sebagai syarat dalam mencapai tujuan hidupnya. Padahal segala sesuatu yang bernilai biasanya menuntut kerja keras, daya juang, serta daya tahan untuk meraihnya.

Oleh karena itu, kita mesti mengarahkan diri kita kepada dasar iman kita, yakni misteri paskah [sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus]. Yesus adalah teladan dalam menderita. Jalan salib  membuktikan kesetiaan kepada Bapa-Nya dan kecintaan-Nya kepada kita, manusia. Karenanya, mari kita tanggapi kasih-Nya yang besar itu dengan cara semakin memahami yang diajarkan-Nya supaya dapat mengamalkan dalam hidup dan kehidupan yang nyata.

RENUNGAN: 3 FEBRUARI 2026

RENUNGAN: 3 FEBRUARI 2026

Rm Ignasius Joko Purnomo

Markus 5:21-43

Beberapa tahun lalu, ada seorang ibu sederhana di sebuah paroki kecil di pedalaman.
Ia aktif di lingkungan, setia berdoa rosario, dan selalu hadir dalam misa, tetapi hidupnya tidak mudah.  Suaminya sakit keras selama bertahun-tahun, dan anak sulungnya kehilangan pekerjaan. Hidup mereka serba kekurangan. Suatu hari, dalam pertemuan doa lingkungan, ibu itu berkata dengan tenang: “Saya tidak tahu bagaimana masa depan keluarga saya, tetapi saya tahu Yesus tidak akan meninggalkan kami.” Ia tidak banyak bicara soal mujizat, tetapi setiap kali berdoa, air matanya jatuh dengan damai. Ia terus berdoa, terus melayani orang lain yang bahkan lebih susah darinya. Ketika suaminya akhirnya meninggal, ia berkata kepada rekan-rekan sepelayanannya: “Saya sedih, tetapi saya percaya Tuhan tetap baik. Ia sudah memberi kekuatan lebih dari yang saya sangka.” Ibu itu tidak punya banyak hal di dunia ini, tetapi ia punya iman yang hidup. Iman yang membuatnya tetap berdiri, tetap melayani, dan tetap memuji Tuhan – bahkan di tengah penderitaan.

Saudara-saudari terkasih,

Injil hari ini menampilkan dua kisah iman yang luar biasa: iman seorang ayah bernama Yairus, dan iman seorang perempuan yang dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan. Dua kisah yang berbeda, tetapi berjumpa dalam satu kebenaran: kuasa Yesus bekerja dalam hati yang percaya. Mereka berdua sama-sama datang kepada Yesus bukan karena kuat, tetapi karena percaya. Mereka percaya bahwa di tengah ketidakpastian, Tuhan tetap berkuasa untuk memulihkan, menghidupkan, dan menyelamatkan.

Ketika anaknya sedang sekarat, Yairus datang bersujud di kaki Yesus (Mrk 5:22). Tindakan ini sangat berani, karena sebagian besar pemimpin Yahudi waktu itu menentang Yesus. Namun Yairus tidak peduli pada gengsi atau tekanan sosial – kasihnya kepada anak dan imannya kepada kuasa Yesus lebih besar dari rasa takutnya. Tindakan itu menunjukkan bahwa Yairus: pribadi rendah hati – meski terhormat ia mau bersujud di kaki Yesus, pribadi percaya penuh: ia yakin Yesus mampu menyembuhkan anaknya; ia pribadi yang tekun dalam iman: bahkan ketika orang lain berkata “Anakmu sudah mati,” ia tetap setia mendengarkan sabda Yesus: “Jangan takut, percaya saja.”

Serupa dengan Yairus, adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.” (Mrk 5:25) Artinya, perempuan ini mengalami pendarahan terus-menerus selama 12 tahun – kemungkinan besar sejenis pendarahan rahim kronis. Secara medis, ia lemah; secara sosial dan religius, ia dianggap najis menurut hukum Taurat (bdk. Im 15:25–27). Karena dianggap najis: ia tidak boleh menyentuh orang lain, sebab akan membuat mereka najis juga; ia tidak boleh ikut beribadah di sinagoga; ia terisolasi, dijauhi oleh masyarakat; ia habis-habisan secara ekonomi, karena sudah menghabiskan uang untuk berobat tetapi “tidak menjadi lebih baik, malah bertambah parah”   Jadi, perempuan ini bukan hanya sakit jasmani, tetapi juga terluka batinnya – terpinggirkan dan tersingkir dari komunitas. Namun perempuan ini tidak menyerah. Ia berkata dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”

Sauadara-saudari terkasih.

Dalam hidup ini, kita sering menghadapi situasi yang tampak mustahil – sakit yang tidak kunjung sembuh, masalah keluarga, ekonomi, atau relasi. Dalam situasi seperti itu, kita diajak untuk berani datang kepada Yesus dengan keyakinan iman sederhana: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”  Dalam situasi seperti itu pula, kita diajak berani terus membuka hati untuk mendengarkan Yesus yang berkata: “Jangan takut, percaya saja.” Mari kita mohon rahmat Tuhan agar kita dapat berkembang dalam iman dan hidup penuh harapan; sebab kuasa Tuhan selalu bekerja dalam hati yang percaya.

Terang yang Dipersembahkan

Terang yang Dipersembahkan

(Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Lukas 2:22-40)

Salam Damai dalam Kristus Tuhan.

Para Saudara yang terkasih,

Seringkali ada orang menyiapkan sesuatu dengan sangat matang, tetapi lupa pada tujuan akhirnya. Hadiah sudah dibungkus indah, biaya sudah besar, namun maknanya hilang karena tujuannya hanya ingin dilihat orang. Hal serupa bisa terjadi dalam hidup rohani, ketika perhatian kita lebih tertuju pada tampilan luar daripada penyerahan diri yang sejati. Injil hari ini mengajak kita kembali pada makna mempersembahkan diri kepada Allah.

Dalam Lukas 2:22–40, Maria dan Yosef membawa Yesus ke Bait Allah untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Mereka melakukannya dengan sederhana, sesuai hukum Taurat, tanpa kemegahan apa pun. Namun justru dalam kesederhanaan itu, Allah menyatakan karya-Nya yang besar. Simeon dan Hana melihat bahwa Anak ini adalah terang bagi bangsa-bangsa dan kemuliaan bagi umat Allah.

Yesus yang dipersembahkan bukan hanya memenuhi hukum, tetapi menyatakan ketaatan total kepada kehendak Bapa. Sejak awal hidup-Nya, Yesus menunjukkan bahwa hidup sejati adalah hidup yang diserahkan. Pedang nubuat Simeon menyingkapkan bahwa penyerahan ini tidak lepas dari penderitaan. Namun melalui penyerahan itulah keselamatan digenapi.

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah mengingatkan kita bahwa hidup beriman adalah panggilan untuk mempersembahkan diri. Kita dipanggil menjadi terang, bukan dengan kehebatan diri, melainkan dengan kesetiaan dan ketaatan. Dalam keseharian yang sederhana, Tuhan tetap berkarya secara besar. Persembahan diri yang tulus selalu berkenan bagi Tuhan.

Poin Refleksi

  • Apakah saya sungguh mempersembahkan hidup saya kepada Tuhan, atau hanya menjalankan kewajiban lahiriah?
  • Bagian hidup apa yang masih sulit saya serahkan kepada kehendak Allah?
  • Bagaimana saya dapat menjadi terang Kristus dalam keseharian saya?

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau dipersembahkan kepada Bapa sebagai terang keselamatan. Ajarlah kami menyerahkan hidup kami dengan tulus dan setia. Jadikan kami terang-Mu di tengah dunia. Amin.

Rm Dimas Caesario

Malang, 2 Februari 2026

Minggu Biasa IVA

Minggu Biasa IVA



(Zef 2:3;3:12-13; 1 Kor 1:26-31; Mat 5:1-12a)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan undangan Yesus: “Ikutilah Aku.” Undangan itu bukan sekadar ajakan untuk berjalan di belakang-Nya, melainkan panggilan untuk menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam tuntunan kasih-Nya. Siapa yang berjalan bersama Yesus tidak dijanjikan jalan yang selalu mudah, tetapi dijanjikan kekuatan. Dan kekuatan itulah yang menuntun kita, setapak demi setapak, menuju tanah air surgawi.
Minggu ini, Sabda Tuhan menyingkapkan kepada kita jalan masuk ke Kerajaan Surga itu. Jalan yang mungkin tidak megah, tidak ramai dipuji, bahkan sering tampak sepi dan sederhana. Namun justru di sanalah Tuhan berkenan hadir.
Izinkan saya mengawali dengan sebuah kisah sederhana. Dalam sebuah rapat evaluasi kegiatan paroki, seorang bapak yang sederhana mengusulkan agar para petugas liturgi, khususnya lektor, berpakaian lebih sopan dan pantas saat bertugas dalam Misa Mingguan. Ia menyampaikannya dengan tulus. Namun banyak peserta rapat tertawa. Usulannya dianggap sepele, bahkan “kampungan”, karena yang berbicara adalah orang biasa, bukan tokoh penting, bukan orang terpandang, bukan pula berpendidikan tinggi.
Beberapa bulan kemudian, dalam rapat lain, seorang peserta yang dikenal kaya, berpendidikan, dan berpengaruh menyampaikan usul yang persis sama. Anehnya, usulan itu langsung diterima dengan aklamasi dan segera ditetapkan sebagai aturan resmi paroki.
Saudara-saudariku terkasih, kisah kecil ini mencerminkan wajah kita sebagai manusia. Sering kali kita lebih mendengarkan siapa yang berbicara daripada kebenaran yang disampaikan. Yang kuat, yang kaya, yang terpandang lebih mudah dipercaya, sementara suara yang lahir dari kesederhanaan kerap diabaikan. Namun, justru sikap inilah yang diluruskan oleh Sabda Tuhan hari ini.
Dalam bacaan pertama, Nabi Zefanya mewartakan harapan Allah, “Aku akan meninggalkan di tengah-tengahmu suatu umat yang rendah hati dan lemah lembut.” Bukan yang congkak, bukan yang sombong, melainkan mereka yang berserah kepada Tuhan, yang hatinya lembut dan terbuka. Mereka inilah yang berkenan di hadapan Allah dan menerima keselamatan-Nya.

Nada yang sama kita dengar dalam bacaan kedua. Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, dan juga kita semua bahwa Allah tidak memilih yang kuat menurut ukuran dunia, tetapi justru yang lemah. Bukan supaya manusia merasa rendah diri, melainkan supaya tidak seorang pun memegahkan dirinya di hadapan Allah. Sebab, seperti dikatakan Paulus, kemuliaan kita bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada Allah yang mengasihi kita.
Puncaknya kita temukan dalam Injil minggu ini, dalam Kotbah di Bukit. Yesus berdiri di hadapan orang banyak, bukan untuk memuji keberhasilan dunia, melainkan untuk menyingkapkan logika Kerajaan Allah: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah… berbahagialah yang lemah lembut… berbahagialah yang berdukacita…”
Sabda ini, saudara-saudariku, tidak mudah diterima. Sebab dunia berkata sebaliknya. Dunia berkata: berbahagialah yang kaya, yang kuat, yang berkuasa, yang selalu tertawa dan menikmati hidup. Yesus berkata: berbahagialah yang miskin, yang lembut hati, yang menangis, yang lapar dan haus akan kebenaran.
Mana yang benar? Dunia atau Kristus? Iman kita dengan jujur mengakui: Kristuslah kebenaran itu. Namun sekaligus kita juga sadar, betapa sulitnya memahami, apalagi menghidupi Sabda Bahagia ini. Karena itu, Sabda Bahagia bukanlah slogan manis, melainkan undangan untuk bertobat. Yesus mengajak kita mengubah cara pandang, meninggalkan logika lama yang mengukur kebahagiaan dari memiliki dan menguasai, lalu masuk ke dalam cara pandang Allah yang mengukur kebahagiaan dari kasih, kerendahan hati, dan kepercayaan kepada-Nya.
Ketika Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,” Ia tidak sedang memuja kemiskinan, apalagi meromantisasikannya. Yesus tidak anti harta, dan Ia sangat peka terhadap penderitaan kaum miskin. Kemiskinan tetaplah suatu luka kemanusiaan yang menyedihkan hati Allah. Justru karena itulah Yesus memilih berdiri bersama orang miskin, bersolider dengan mereka, agar menjadi Kabar Gembira yang nyata.
“Miskin di hadapan Allah” berarti tidak menggantungkan hidup pada apa yang kita miliki, melainkan pada Allah sendiri. Secara naluriah kita ingin terus memiliki, karena kita mengira di sanalah letak kebahagiaan. Namun pengalaman hidup sering berkata lain. Semakin kita terikat pada apa yang kita miliki, semakin kita gelisah. Ambisi, persaingan, iri hati, dan ketamakan justru menjauhkan kita dari damai sejati. Yesus bahkan memakai kata kerja masa kini, “Berbahagialah… karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” Bukan nanti, bukan kelak, tetapi sekarang. Kerajaan Allah sudah hadir bagi mereka yang hatinya bebas dari egoisme, yang membuka diri pada cinta dan pelayanan.

Saudara-saudariku terkasih, semangat miskin menurut Injil bukan berarti tidak memiliki apa-apa, melainkan tidak dimiliki oleh apa pun. Menerima hidup apa adanya, dengan rasa syukur, menyadari bahwa segala sesuatu adalah anugerah. Harta, kemampuan, jabatan, dan talenta bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dibagikan.
Jika hidup kita dipenuhi rasa syukur, kekaguman akan ciptaan Allah, dan kesediaan melayani sesama, di sanalah Sabda Bahagia menjadi nyata. Di sanalah kita sungguh berjalan di jalan yang ditunjukkan Yesus: jalan yang sederhana, namun pasti menuntun kita ke Kerajaan Surga. Semoga Sabda minggu ini meneguhkan langkah kita, membebaskan hati kita, dan membuat hidup kita sungguh berbahagia di hadapan Allah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa III

Sabtu Pekan Biasa III

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
31 Januari 2026
2Sam 12: 1-7 + Mzm 51 + Mrk 4: 35-41

Lectio
Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Meditatio
Ketika badai menggoncang perahu dan hampir menenggelamkan, berserulah mereka kepada Yesus yang sedang tertidur: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’. Kekuatiran memang wajar muncul dalam setiap orang. Kita dapat membayangkan kegelisahan para murid pada waktu itu. Namun memang sengajakah Yesus menidurkan diri dalam peristiwa ini? Kalau pun Yesus tertidur, mungkinkah mereka tenggelam bersama Yesus?
‘Diam! Tenanglah!’, tegur Yesus. Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Yesus berkuasa atas seluruh alam semesta. ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?’, komentar para murid. Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’. Pikiran kita memang berbeda dengan pikiran Tuhan. Dalam situasi segawat itu, para murid diminta tidak takut, harus tetap percaya.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau benar-benar Penguasa atas hidup dan seluruh alam semsta ini. Apa pun yang Engkau serukan diamini oleh semua kepunyaanMu. Ajarilah kami juga selalu berani mengamini Engkau dalam segala keadaan diri kami. Amin.

Contemplatio
‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’.

Translate »