Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Pesta Salib Suci

Pesta Salib Suci


(Bil. 21:4-9; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu ini Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Ketika kita
melihat salib, kita tidak hanya melihat sepotong kayu, melainkan tanda kehidupan
baru, lambang cinta Allah yang tak terbatas, dan sumber pengharapan bagi kita. Salib
adalah simbol pengorbanan Kristus yang membawa keselamatan, tanda kasih Allah
yang rela turun ke dunia untuk menyelamatkan umat-Nya.
Dalam pengalaman saya saat bertugas di paroki, saya sering melihat bagaimana umat
begitu menghormati tanda salib. Ada orang tua yang dengan sabar mengajari
anaknya membuat tanda salib, ada yang memandang salib dengan penuh harapan di
tengah pergumulan hidup, dan ada pula yang menjadikan salib sebagai sahabat
dalam doa. Semua ini menunjukkan bahwa salib begitu dekat dengan kehidupan kita.
Namun, pertanyaan pentingnya: sudahkah kita sungguh memahami makna terdalam
dari salib itu?
Bacaan pertama dari Kitab Bilangan (Bil 21:4-9) mengisahkan bangsa Israel yang
memberontak dan bersungut-sungut, hingga akhirnya mereka dihukum dengan ular
tedung. Namun Allah yang penuh belas kasih memberikan jalan penyembuhan
melalui ular tembaga. Siapa yang memandang ular itu akan sembuh. Kisah ini
menggambarkan bahwa meski kita jatuh dalam dosa, Allah tidak pernah
meninggalkan kita. Salib Yesus adalah “ular tembaga” baru, tanda keselamatan yang
menyembuhkan kita dari racun dosa dan kepahitan hidup. Ketika kita merasa
tertikam oleh penderitaan, dikecewakan, atau dilukai, salib mengingatkan bahwa
dalam Tuhan selalu ada harapan dan jalan pemulihan.
Bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi (Flp 2:6-11) menegaskan
bahwa Yesus, walaupun adalah Allah, rela merendahkan diri-Nya, taat sampai wafat
di kayu salib. Inilah teladan kerendahan hati dan ketaatan yang sejati. Hidup kita
sering diwarnai kesulitan: masalah keluarga, pekerjaan yang melelahkan, relasi yang
tidak selalu harmonis. Dalam semua itu, salib mengajarkan kita untuk tidak lari dari
penderitaan, melainkan memaknainya dalam terang iman. Penderitaan yang dijalani
bersama Kristus tidak pernah sia-sia, karena di dalamnya ada benih kemuliaan.
Injil Yohanes (Yoh 3:13-17) menegaskan bahwa Yesus harus ditinggikan di kayu salib,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup kekal. Salib bukan
tanda kekalahan, tetapi tanda kemenangan kasih Allah. Kita mungkin sering melihat
salib di rumah, di gereja, atau sebagai perhiasan. Namun, salib bukan sekadar simbol
luar, melainkan panggilan untuk menghidupi iman, harapan, dan kasih dalam
keseharian. Salib adalah undangan untuk menanggung hidup ini dengan setia, sambil
percaya bahwa Allah selalu bersama kita.
Dalam realitas hidup kita, penderitaan sering kali tidak bisa dihindari: sakit,
kehilangan, masalah ekonomi, pergumulan batin. Namun, melalui salib kita diajar
bahwa penderitaan, jika dipersembahkan kepada Tuhan, dapat menjadi jalan berkat.
Salib mengajarkan kita untuk tetap teguh meski tidak semua doa dijawab dengan cara
yang kita inginkan. Ia mengajarkan kita untuk sabar, berani mengampuni, dan tetap
mengasihi meskipun terasa sulit. Salib Kristus menunjukkan kasih tanpa pamrih, kasih
yang tetap bertahan meski dikhianati dan disakiti.
Karena itu, tanda salib yang kita buat setiap kali berdoa bukan hanya gerakan
simbolis, melainkan pengingat identitas kita sebagai murid Kristus. Apakah dalam
hidup kita, kita sudah menjadi “salib yang hidup” bagi sesama? Apakah kehadiran kita
membawa harapan, penghiburan, dan kasih bagi orang lain? Inilah panggilan kita:
menjadi tanda kasih Allah bagi dunia.
Akhirnya, Pesta Salib Suci ini meneguhkan kita bahwa tidak ada hidup tanpa salib,
tetapi juga tidak ada salib tanpa kebangkitan. Setiap salib yang kita pikul selalu
mengarah pada kehidupan baru bersama Kristus. Maka, mari kita memandang salib
bukan sebagai beban yang menakutkan, tetapi sebagai sumber kekuatan yang
menghidupkan. Dengan salib, kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita;
Ia berjalan bersama, memikul salib kita, dan menuntun kita pada kemenangan.
Semoga salib Kristus selalu menjadi tanda kasih yang meneguhkan hati kita, sumber
harapan di tengah penderitaan, dan jalan menuju kehidupan yang penuh damai.
Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Dompet Bisa Penuh, Hati Jangan Kosong!

Dompet Bisa Penuh, Hati Jangan Kosong!

Rm Yusuf Dimas Caesario

Injil: Lukas 6:20-26

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Injil hari ini berisi Sabda Bahagia, tapi juga “Sabda Celaka”. Rasanya seperti paket lengkap: ada promo dan ada peringatan. Yesus berkata, “Berbahagialah kamu yang miskin… celakalah kamu yang kaya!” Kalau kita dengar sekilas, bisa muncul komentar nakal: “Tuhan ini maunya apa? Kalau miskin dibilang bahagia, kalau kaya malah dibilang celaka. Jadi kita harus pilih ATM kosong supaya bisa masuk surga?”

Tentu maksud Yesus bukan begitu. Yesus bukan sedang kampanye anti-kaya, apalagi mendukung kita malas kerja. Yang Yesus tekankan adalah sikap hati. Orang miskin sering sadar bahwa mereka butuh Tuhan. Sedangkan orang kaya, kalau tidak hati-hati, bisa jatuh pada sikap merasa cukup tanpa Tuhan.

Mari kita jujur: kalau dompet kita tipis, doa bisa panjang sekali. Tapi kalau gajian baru turun, doa makan saja bisa super kilat: “Ya Tuhan, Amin!”. Padahal isi dompet boleh penuh, tapi hati kita jangan sampai kosong dari Tuhan.

Yesus juga berkata, “Celakalah kamu yang kenyang sekarang, sebab kamu akan lapar.” Ini pun bukan berarti kita harus diet seumur hidup. Yang dimaksud adalah jangan sampai kita hanya mengejar kenyang jasmani, tetapi lupa roti surgawi. Karena ada banyak orang kenyang makan, tapi lapar kasih sayang. Ada yang rumahnya megah, tapi hatinya sepi. Ada yang followers-nya ribuan, tapi tidak punya satu pun sahabat sejati.

Yesus ingin kita menata prioritas. Bahagia sejati bukan ketika kita punya segalanya, melainkan ketika kita punya Tuhan di atas segalanya.

 Pertanyaan Reflektif

  1. Saat ini, saya lebih sering merasa cukup karena punya harta atau karena punya Tuhan?
  • Apa yang membuat saya cepat bersyukur: saldo bertambah atau iman bertumbuh?
  • Jika Yesus duduk di sebelah saya hari ini, bagian “berbahagialah” atau “celakalah” mana yang akan Ia tujukan pada saya?

Doa Singkat

Tuhan Yesus yang penuh kasih, Engkau mengajarkan kami bahwa kebahagiaan sejati bukan pada harta dunia, tetapi pada hati yang bersandar pada-Mu. Tolonglah kami agar tidak terikat pada kenyamanan semu, tetapi semakin mencari dan mencintai Engkau. Buatlah hati kami kaya akan kasih dan murah hati pada sesama. Amin.

RIP Fr Samuel Nasada OFM

RIP Fr Samuel Nasada OFM

We are deeply saddened by the passing of Fr. Samuel Nasada. His life of faith, service, and compassion touched many, and his memory will remain a blessing. May God grant him eternal rest and comfort all who mourn his loss

RENUNGAN LUBUK HATI   4 SEPTEMBER 2025

RENUNGAN LUBUK HATI   4 SEPTEMBER 2025

LUKAS 5:1-11 

“Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Itulah kalimat perintah Yesus kepada Simon Petrus. Perintah Yesus disampaikan kepada Simon Petrus, setelah Ia selesai mengajar dari atas perahu milik Simon Petrus. Sangat menarik sebuah perintah disampaikan pada orang yang baru saja mendarat. Bertolak ke tempat yang dalam, menjauh dari tepian pantai, meninggalkan daratan tempat yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi Simon dan kawan-kawannya.  

Simon Petrus telah semalaman bekerja menjala ikan, namun tak satupun mereka mendapatkannya. Kini ada perintah dari Yesus untuk membawa perahu ke tengah danau. Terasa tidak masuk akal. Di Tengah situasi demikian, Simon tetap mengikuti perintah Yesus. Mungkin ada gejolak dalam dirinya melaksanakan perintah Yesus. Berangkat ke tengah danau di waktu siang dalam keadaan tak menentu, ada ikan atau tidak ada ikan. Seorang nelayan yang berpengalaman, kini berhadapan dengan kenyataan harus menuju tempat yang dalam. Ada kecemasan dan kegelisahan, ada khawatir dan takut tidak mendapatkan ikan. Berada di atas tempat yang dalam untuk menebarkan jala. Ini perintah Yesus. Tidak mudah dipahami, namun Simon tetap melakukannya. Alhasil ada banyak ikan yang masuk di jalanya. Ikan yang banyak, apabila dijual akan menghasilkan uang yang lumayan untuk hidup mereka.

Peristiwa hidup yang kita alami kadangkala juga seperti Simon. Banyak pekerjaan, mitra bisnis, atau lainnya terasa sudah mentok tanpa harapan lagi. Tiba-tiba segalanya terasa lancar dan mudah. Mungkinkah itu sebuah kebetulan?

Simon tidak silau dengan hasil ikan yang didapat dari jalanya. Simon justru merasa kecil dihadapan Yesus. Ia mengakui kelemahan dan kerapuhannya. Ia pribadi yang keras dan tegas, pekerja keras kini terasa tak berdaya di depan Yesus. Seakan-akan segala yang dibanggakan lewat pekerjaannya selama ini terasa kecil dan tak berarti di depan Yesus.  “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Di muka Yesus tak ada sesuatupun yang dapat dibanggakan. Jangan menjadi besar kepala atas segala prestasi yang kita capai.

Simon belajar menjadi rendah hati. Segala keterampilan dan kemampuannya tidak berarti. Semua yang dimiliki berasal dari Tuhan, dan suatu saat akan kembali pada Tuhan. Yesus sedang mengubah jalan pikiran Simon bersama Yohanes dan Yakobus. Yesus melihat kedalaman hati mereka . Yesus melihat kesungguhan ketiga pribadi yaitu Simon, Yohanes dan Yakobus. Mereka tidak bicara tentang jumlah ikan dan hasil penjualannya. Secara manusiawi, mereka ingin menikmati hasil penangkapan ikan, tetapi itu tidak mereka lakukan. Mereka justru mengikuti ajakan Yesus, “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Inilah titik balik kehidupan tiga anak mausia.

Setiap orang memiliki perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus. Setiap orang memiliki titik balik dalam kehidupan pribadinya. Hal ini dapat terjadi di manapun, dalam keadaan apapun, Tuhan menunjukkan pencarahan-Nya pada kita. Tuhan ingin agar kita bekerja bersama-Nya. Bekerja untuk meluaskan Kerajaan Allah. Berkarya dan melayani bagi-Nya dan jemaat-Nya. Apakah yang akan kita katakana pada Tuhan, bila Tuhan menjamah kita untuk bekerja bagi-Nya? (rm. Medyanto, o.carm)

Menyembuhkan dan Hadir di Tengah Suara yang Tersakiti

Menyembuhkan dan Hadir di Tengah Suara yang Tersakiti

Rm. Agung Wahyudianto O.Carm

Lukas 4:38–44

Beberapa hari terakhir, kita menyaksikan demonstrasi yang meluas di berbagai kota di Indonesia—dari mahasiswa, buruh, hingga masyarakat kecil—yang bersuara tentang keadilan, ekonomi, dan masa depan yang mereka rasakan semakin berat. Suara-suara ini bukan sekadar keluhan, tetapi tanda bahwa ada luka yang belum dipulihkan, ada beban yang tak lagi bisa ditanggung diam-diam.

Injil hari ini memperlihatkan Yesus yang datang ke rumah Petrus, dan di sana Ia menyembuhkan ibu mertua Petrus yang terbaring demam. Lalu, orang-orang berdatangan membawa berbagai sakit penyakit. Yesus tidak menjauh. Ia menyentuh, hadir, dan menyembuhkan satu per satu. Ia tidak hanya berkhotbah dari kejauhan, tapi masuk ke tengah kehidupan orang-orang yang terluka.

Hal yang sama dibutuhkan hari ini. Dalam dunia yang penuh kebisingan dan kepentingan, kita butuh lebih banyak kehadiran yang seperti Yesus: tidak defensif, tidak cepat menghakimi, tidak mencari pembenaran, tapi benar-benar hadir untuk mendengarkan dan menyembuhkan. Demonstrasi adalah ekspresi dari “demam sosial” yang dirasakan banyak orang. Dan seperti ibu mertua Petrus, mereka pun membutuhkan kehadiran yang menyentuh dan memulihkan, bukan sikap yang mengabaikan.

Yesus akhirnya berkata, “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah juga di kota-kota lain, sebab untuk itulah Aku diutus.” Artinya, kehadiran-Nya bukan hanya untuk satu kelompok, tetapi untuk semua—yang sakit tubuhnya, yang gelisah batinnya, yang ditindas haknya. Ia tidak menetap di satu tempat nyaman. Ia bergerak, hadir, dan membawa terang ke mana pun Ia pergi.

Hari ini, kita diundang untuk bertanya: Apakah kita hanya mengamati, ataukah kita juga menjadi kehadiran yang menyembuhkan? Mungkin kita tidak bisa turun langsung ke jalan, tapi kita bisa membuka hati, mendengarkan lebih dalam, dan tidak cepat menutup telinga terhadap jeritan orang lain. Seperti Yesus, kita pun bisa menjadi tangan yang menyentuh, kata yang menenangkan, dan langkah yang membawa damai.

“Lalu Ia berdiri di atas mereka, mengusir demam itu, dan perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.” (Luk 4:39)

Translate »