Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Menanggapi Panggilan Allah

Menanggapi Panggilan Allah

RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm

Mark 1:14-20

13 Januari 2025

Yohanes Pembaptis berkata, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” [Mark 1:7]. Apa yang dikatakan Yohanes menjadi kenyataan. Sesudah Yohanes ditangkap dan dipenjara, Yesus ke Galilea dan melakukan dua hal.

Pertama, Ia memberitakan Injil Allah, sebagaimana difirmankan,  “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” [Mark 1:15]. “Saat” kiranya menunjuk waktu Allah, bukan waktu manusia. Tampaknya orang Yahudi jaman dulu membayangkan bahwa sejak awal Yahwe sudah menentukan kurun waktu sebelum datang zaman baru yang ditandai dengan kehadiran-Nya di dalam kehidupan para utusan-Nya. “Saat” yang telah ditentukan itu kini dinyatakan telah genap, telah terpenuhi, masa menunggu sudah selesai. Zaman baru, yang diungkapkan dengan gagasan “Kerajaan Allah” sudah ada di tengah-tengah manusia, yakni di dalam diri Yesus, Putra-Nya. Di dalam Dia “Allah meraja, Allah berkarya” [bdk.Yoh 1:3].

Kedua, Ia memilih para murid-Nya, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” [Mark 1:17]. Simon Petrus dan Andreas dipanggil ketika mereka tengah menangani pekerjaan mereka menjala ikan. Mereka meninggalkan jala mereka dan mengikuti Yesus. Selanjutnya Yakobus dan Yohanes juga meninggalkan perahu serta ayah mereka dan mengikuti Yesus. Dengan mengikuti Yesus berarti mereka berpindah gaya hidup. Perpindahan gaya hidup mereka dalam bahasa rohani “bertobat”. Perubahan gaya hidup atau pertobatan mereka pasti juga mengalir dari kenyataan “percaya kepada Injil, percaya akan kabar keselamatan”. Kenyataan tersebut menegaskan kepada kita bahwa “Kerajaan Allah” mulai hidup dalam diri orang-orang di sekitar Yesus.

Simon Petrus dan Andreas, serta Yakobus dan Yohanes antusias menanggapi sabda kenabian Yesus. Tanpa pikir panjang, tanpa menunggu lama, mereka meanggapi panggilan Allah. Apakah di jaman modern ini suara panggilan Allah masih terdengar jelas? Apakah orang modern, termasuk kita mau mendengarkan panggilan Allah, menanggapinya dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata? Semoga!

Jumat sesudah Penampakan

Jumat sesudah Penampakan

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm


10 Januari 2025
1Yoh 5: 5-13 + Mzm 147 + Luk 5: 12-16

Lectio
Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

Meditatio
‘Aku mau, jadilah engkau tahir’. Jawaban Yesus kepada seseorang yang minta disembuhkan. Dia meminta, dan seketika itu juga di mendapatkan kesembuhan. Selama permohonan baik adanya, Tuhan akan selalu mengabulkan aneka doa permohonan, walau tak dapat disangkal, Dia ama lamban menjawabnya, sehingga kita menjadi kecewa. Namun mengapa orang kusta itu segera mendapatkan jawaban? Kembali kita hanya bisa mengatakan, bahwa semua itu adalah seturut kehendak sang Empunya kehidupan. Iman kepada Tuhan Allah mengandaikan kepasrahan pada sabda dan kehendakNya.
Tak dapat disangkal, orang yang disembuhkan tadi sepertinya hendak menceritakan kepada banyak orang tentang anugerah indah yang dikerjakan Yesus kepada dirinya. Walaupun Yesus sempat melarangnya, orang yang disembuhkan itu berkeras hati berbagi kepada banyak orang. Maka kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Apakah orang yang disembuhkan itu melawan kehendak Allah? Apakah dia pendosa baru?
Kalau berani kita sampaikan, bahwasannya Yesus mewartakan keberadaan diriNya dalam dan melalui kelemahan umatNya. Dalam kelemahan, setiap orang malah diminta untuk menyadari kehadiran sang Ilahi di tengah-tengah umatNya. Dalam kelemahan, setiap orang diajak untuk berani berkata-kata seperti Paulus, bahwa aku kuat (2Kor 12, 10); yang semuanya itu bisa terjadi, bila kita selalu bermegah dalam Yesus Kristus, sang Empunya kehidupan.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau menyatkan kemuliaan dan keperkasaanMu dalam dalam aneka peristiwa yang menggelegar, melainkan dalam diri umatMu yang lemah, Engkau pun memberi kesempatan mereka untuk memuliakan namaMu. Syukur kepadaMu, ya Yesus. Amin.

Contemplatio
Datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.

PENGIKUT KRISTUS YANG MENGASIHI DAN MELAYANI

PENGIKUT KRISTUS YANG MENGASIHI DAN MELAYANI


Kamis 9 Januari 2025
Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan
Bacaan: I Yohanes 4:19-5:4; Lukas 4:14-22a

Rm Ignatius Adam Suncoko O.Carm

Pada hari ini, kita diberi kesempatan untuk merenungkan dua bacaan yang sangat mendalam yang mengajak kita untuk menyelami inti dari panggilan hidup Kristen kita, yakni kasih dan pelayanan. Bacaan pertama, dari surat pertama Yohanes, mengingatkan kita tentang panggilan kita untuk mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Kasih yang Mengubah Dunia. Kita mendengar bahwa “kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19). Ini adalah ungkapan yang sangat menggugah kita, karena kasih yang sejati berasal dari Allah sendiri. Tanpa kasih-Nya, kita tidak akan mampu untuk mengasihi. Kasih Allah yang mengalir kepada kita melalui Yesus Kristus adalah dasar bagi segala kasih yang kita tunjukkan kepada sesama. Ketika kita mengasihi sesama, kita tidak hanya mencerminkan kasih Allah, tetapi kita juga menjadi saksi hidup akan kasih yang tak terbatas itu.

Kasih yang dimaksudkan bukanlah kasih yang bersifat egois atau terbatas, melainkan kasih yang memberi tanpa mengharapkan imbalan. Yohanes mengingatkan kita bahwa “jika seseorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ tetapi membenci saudaranya, ia adalah seorang pendusta” (1Yoh 4:20). Kata-kata ini mengajak kita untuk merefleksikan apakah kasih yang kita miliki benar-benar terwujud dalam tindakan kita kepada sesama.

Lebih lanjut, Yohanes juga menjelaskan bahwa iman kepada Yesus adalah jalan untuk mengatasi dunia ini (1Yoh 5:4). Menerima kasih Allah dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari adalah kemenangan yang mengalahkan dunia. Kemenangan ini bukan hanya soal mencapai sukses duniawi, tetapi tentang hidup sesuai dengan ajaran kasih yang diberikan oleh Kristus.

Bacaan Injil dari Lukas mengisahkan tentang misi Yesus yang dimulai di Nazaret, kota kelahirannya, yang memulai pewartaan-Nya dengan penuh kuasa dan otoritas. Setelah dibimbing oleh Roh Kudus, Yesus datang ke Nazaret dan memulai pewartaan-Nya di rumah ibadat. Dia mengutip nubuat dari Kitab Yesaya yang mengisahkan tentang Mesias yang diurapi oleh Tuhan untuk membawa pembebasan dan keselamatan bagi umat-Nya. Yesus menyatakan bahwa nubuat tersebut telah digenapi dalam diri-Nya. Dia adalah Mesias yang dijanjikan itu.

Perkataan Yesus ini sungguh mengejutkan banyak orang, sebab mereka mengenal-Nya sebagai anak tukang kayu dari Nazaret. Namun, Yesus dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa Ia datang bukan hanya untuk orang-orang tertentu, tetapi untuk semua orang yang tertindas, miskin, dan terpinggirkan. Yesus membawa kabar gembira yang membebaskan. Itulah misi-Nya: untuk mewartakan keselamatan dan memberikan kebebasan bagi mereka yang terikat oleh berbagai bentuk ketidakadilan dan penderitaan.

Kita sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk meneladani Yesus dalam kasih dan pelayanan. Pertama-tama, kita harus mengasihi sesama kita, terutama mereka yang miskin, tertindas, dan membutuhkan perhatian kita. Kasih ini bukanlah kasih yang bersifat sementara atau hanya untuk orang-orang yang dekat dengan kita, melainkan kasih yang mencakup semua orang tanpa terkecuali.

Kedua, kita diundang untuk menghidupi panggilan pelayanan yang sejati, seperti yang dilakukan Yesus. Kita dipanggil untuk membawa kabar gembira, untuk memberikan penghiburan kepada yang berduka, untuk memperjuangkan keadilan, dan untuk memberikan harapan kepada mereka yang kehilangan arah. Marilah kita menjadi pribadi yang penuh kasih, seperti Yesus yang penuh kuasa dan otoritas, yang mengabarkan keselamatan bagi semua orang. Semoga kita selalu menjadi saksi kasih Kristus dalam segala tindakan dan kata-kata kita. Tuhan Memberkati.

“Tenanglah dan Percayalah!”

“Tenanglah dan Percayalah!”

Rabu, 08 Januari 2025

Bacaan Injil Markus 6:45-52

      Kepercayaan pada Allah tidaklah secara otomatis memberikan rasa tenang pada setiap orang. Situasi panik dan terancam terkadang membuat seseorang tidak mampu berpikir jernih dan logis dalam melihat suatu peristiwa atau persoalan. Mengapa demikian? Harus kita sadari dan akui dengan jujur bahwa ketika kondisi panik yang diselimuti rasa takut, bingung, cemas dan sejenisnya, maka perasaan inilah yang dominan menentukan setiap pilihan atau pun keputusan yang diambil. Manusia bukan hanya pribadi yang digerakkan oleh akal budi dengan segala argumentasi logisnya, tetapi sebagai pribadi yang juga memiliki rasa dan hati yang tidak mudah pula untuk dimengerti dan dipahami.

      Pengalaman para murid dalam Kisah Injil Markus hari ini memberikan penegasan penting bagaimana manusia bergumul dengan ketakutan dan kepanikan hidup. Peristiwa di tengah danau dalam kondisi badai tidak begitu saja membuat para murid percaya dengan penyertaan Allah. Apa yang sudah dialami para murid bersama Yesus dalam peristiwa mukjizat lima roti dan dua ikan (Mrk 6:30-44) belumlah menjadi jaminan untuk sepenuhnya percaya bahwa kuasa Allah itu sungguh nyata. Ketakutan, kepanikan, kecemasan dan segala macam aneka perasaan yang menghampiri sisi manusiawi para murid membawa mereka semakin sulit untuk merasakan kehadiran Allah di hadapan mereka, semakin ragu untuk menyatakan bahwa apa yang mereka lihat adalah Yesus sendiri, semakin jauh meninggalkan keyakinan akan kuasa Allah yang menyelamatkan. Pengenalan dan kepercayaan para murid pada Yesus justru terus dimurnikan, ditumbuhkan, bahkan diuji dengan pengalaman-pengalaman yang para murid alami bersama Yesus.

      Kisah para murid bersama Yesus yang kita renungkan hari ini menjadi jawaban kecil atas pergumulan peziarahan pengharapan manusiawi saya dan Anda semua. Pengenalan dan kepercayaan pada Tuhan serta ketenangan merasa bahwa Tuhan selalu menyertai membutuhkan proses, peristiwa, dan pemurnian yang berulang. Kalaulah pengalaman mukjizat penggandaan roti belumlah cukup membuat para murid percaya sehingga pengalaman Yesus berjalan di atas air menjadi momen berulang untuk meyakinkan para murid bahwa Dia selalu menyertai, maka kita pun disadarkan kembali melalui permenungan hari ini. Tuhan selalu memberikan pengalaman dan peristiwa berulang untuk membuat manusia yakin pada Dia, yakin pada Kuasa-Nya, yakin pada penyertaan-Nya, yakin bahwa sebagai pendosa berat pun kita tetap dikasihi dengan total oleh-Nya. Pengalaman gembira dan sedih, perjumpaan dengan pribadi yang menyenangkan dan menjengkelkan, peristiwa kesuksesan dan kegagalan tidaklah mungkin dapat kita pilih salah satu atau hindari. Kita diyakinkan bahwa semuanya itu terjadi untuk semakin memurnikan dan mendewasakan hidup kita. Hingga akhirnya kita sungguh-sungguh bisa tenang, percaya dan bijaksana. (RD Daniel Aji Kurniawan)

“Kasih yang Tak Pernah Kehabisan Stok”

“Kasih yang Tak Pernah Kehabisan Stok”

Rm. Yusuf Dimas Caesario

Ketika Yesus melihat orang banyak yang mengikuti-Nya, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Ia tahu mereka lapar, tidak hanya secara jasmani tetapi juga secara rohani. Dan di situlah mukjizat memberi makan lima ribu orang terjadi. Namun, mari kita renungkan lebih dalam: apa makna dari mukjizat ini untuk hidup kita hari ini?

Kopi Sachet dan Sebuah Keajaiban

Suatu ketika, seorang bapak paruh baya bernama Pak Untung sedang minum kopi sachet di warung kecil. Saat dia menuangkan air panas ke gelasnya, seorang anak kecil yang lusuh menghampiri sambil berkata, “Pak, minta sedikit ya, haus sekali.”

Pak Untung hanya punya satu sachet kopi, tapi ia memutuskan menuangkan separuh kopinya ke gelas lain untuk si anak. Namun anehnya, saat ia menyesap kopinya, rasanya tetap penuh, tidak berkurang. Bahkan dia merasa kopinya lebih manis. Di saat sederhana itu, Pak Untung sadar: kasih itu seperti kopi sachet—ketika dibagikan, ia tidak habis, malah makin terasa nikmat.

Makanan dan Mukjizat Hati

Yesus tidak hanya memberi mereka makan; Dia mengajarkan bahwa kasih tidak pernah terbatas oleh logika manusia. Dari lima roti dan dua ikan, Ia menunjukkan bahwa keajaiban dimulai dari hati yang rela berbagi. Tidak peduli seberapa kecil yang kita miliki, ketika diserahkan kepada Tuhan, itu cukup bahkan melimpah.

Apa pelajaran untuk kita? Kadang kita merasa tidak punya apa-apa untuk dibagikan—tidak cukup uang, tidak cukup waktu, bahkan energi kita terasa habis. Tapi, Tuhan tidak meminta kita untuk memberi dari kelimpahan; Ia meminta kita memberi dengan iman.

Refleksi

Bayangkan jika murid-murid Yesus hidup di zaman sekarang. Saat Yesus berkata, “Kamu harus memberi mereka makan,” mungkin salah satu dari mereka menjawab, “Tuhan, apa ini prank? Kita aja belum makan.” Tapi, mukjizat itu terjadi bukan karena mereka punya banyak, melainkan karena mereka berani menyerahkan yang sedikit kepada Tuhan.

Kita sering kali seperti murid-murid itu: fokus pada apa yang tidak kita miliki, lupa bahwa Tuhan bisa bekerja dengan apa yang ada di tangan kita. Apakah kita bersedia menyerahkan “lima roti dan dua ikan” dalam hidup kita? Mungkin itu adalah waktu kita, tenaga kita, atau bahkan senyum kita yang bisa menjadi berkat bagi orang lain.

Doa

Tuhan Yesus yang penuh kasih, ajarilah kami untuk memiliki hati yang rela berbagi, walau kami merasa hanya memiliki sedikit. Ubahkan kekurangan kami menjadi keajaiban bagi sesama. Berkatilah apa yang kami miliki, agar dapat menjadi saluran kasih-Mu bagi dunia. Amin.

Translate »