Renungan Oktober 18
Lukas 10:1-9
Perayaan Santo Lukas pengarang Injil
Injil lukas disebut sebagai buku yang paling indah oleh salah satu komentator Kitab Suci. Mengapa? Karena Lukas mengisahkan perumpamaan dan kisah Yesus dengan sangat hidup, penuh warna, dan indah. Tak salah jika orang berkata Injil ini adalah cerita kisah Kristus yang paling mengagumkan.
Lukas adalah seorang dokter. Ia sebenarnya menulis Injil atas permintaan salah satu sahabatnya, Theophilus. Sebenarnya kita tidak tahu persis siapa nama temannya ini. Hanya saja dia bernama Theophilus, artinya orang yang mengasihi Tuhan. Setelah Lukas menyelidiki dengan seksama, mendengarkan kisah, dan menyeleksi cerita yang beredar tentang Yesus, ia mulai menulis Injil. Dan Ia bersaksi bahwa apa yang dia tulis ini sungguh benar!
Jelas terlihat bahwa Lukas bukan orang Yahudi karena dia selalu menyebut Yesus dengan nama “Master”, bukan “rabi” (istilah Yahudi). Lukas juga menelusur silsilah Yesus tidak hanya mulai dari Abraham, tapi lebih jauh, Yesus adalah keturunan dari Adam, asal muasal manusia.
Salah satu kekhasan tulisan Lukas adalah gambaran Yesus sebagai seorang pendoa. Yesus dikisahkan suka berdoa di tempat sepi, sebelum memilih murid, Yesus berdoa semalaman. Dia juga mengisahkan Maria, ibu Yesus, yang suka berdoa dan memuji Allah lewat Magnificat.
Sekarang, kalau kita diminta menulis kisah tentang Yesus. Kisah seperti apa yang akan kita tulis? Hal apa yang paling mengesan buat kita dari perumpamaan-perumpamaan tentang Yesus?
Renungan Oktober 17
Peringatan St Ignatius dari Antiokia
Lukas 11:47-54
Hari ini gereja memperingati Santo Ignatius dari Antiokia. Santo Ignatius dihormati tidak hanya dalam Gereja Katolik, tapi juga Gereja Ortodok, Gereja ritus Timur, Gereja Syria, dan Gereja Anglikan.
Menurut tradisi Bapa Gereja, Ignatius adalah salah satu murid dari Santo Yohanes Rasul, saat Yohanes berada di Efesus. Theoderet dari Cyrrhus melaporkan bahwa Ignatius dipilih oleh Santo Petrus Rasul menjadi uskup di Antiokia, sekarang kota ini ada di Turki, 19 km dari perbatasan Turki – Syria.
Dari tulisan-tulisannya, kita mengetahui bagaimana para martir awal Gereja dihukum dan dibunuh dengan kejam menjadi makanan binatang buas di coliseum. Dalam surat Ignatius kepada umat Roma bab 5, ia menulis,” Bahkan dari Syria menuju Roma, aku bergulat dengan binatang buas, di laut dan di darat, siang dan malam, berada di tengah 10 singa, bahkan dikawal prajurit yang menjadi semakin kejam..”
Dalam perjalanannya menuju kematian di Roma, Ignatius menulis suratnya yang indah dan menyentuh hati, ketegaran jiwa seorang uskup yang akan dibunuh oleh Kaisar Trajan di Roma. Ia melukiskan kekuatan imannya dalam refleksi yang dalam:
“Aku adalah biji gandum Allah, dan harus jatuh ke tanah dimakan binatang l iar. Aku menulis untuk seluruh Gereja agar tahu bahwa aku bahagia mati untuk Allah jika kalian tetap berada di jalanku….Biarkan aku menjadi makanan binatang buas, karena mereka adalah jalanku menuju Allah. Aku adalah biji gandum Allah dan harus jatuh ke tanah sehingga oleh gigi mereka, aku menjadi roti yang putih.”
Kisah-kisah ketegaran dan kesetiaan pada iman Kristen membuat Gereja tetap hidup dan subur sampai sekarang. Gereja akan tetap hidup dan berkembang saat umat yang percaya pada Allah memiliki komitmen dan kesetiaan pada iman, walau banyak kesulitan dan hambatan. Sebaliknya, Gereja menjadi lemah dan kehilangan makna kehadirannya, saat umat yang percaya pada Allah tak punya komitmen untuk berkurban dan mempertahankan imannya.
Seberapa besar kita berani bertahan dalam iman akan Kristus? Apa yang sudah saya pertahankan demi iman kita? Apa yang kita harapkan dari kesetiaan ini? Semoga surat Ignatius menginspirasi kita untuk tetap setia dalam iman akan Kristus dalam Gereja Katolik!
Renungan Oktober 16
Roma 2:1-11
Dalam kehidupan sosial, sekolah, gereja, masyarakat, selalu ada atasan dan bawahan, pemimpin-pengikut, guru-murid, superior-subordinat. Kalau kita amati lebih teliti, ada relasi-relasi tertentu yang membuat sang pemimpin lebih suka orang tertentu, memilih teman tertentu, mempercayakan sesuatu pada orang yang ia sukai.
Relasi seseorang juga demikian, kita memilih teman dan sahabat yang kita suka, cocok, dan bisa kita ajak bicara. Dalam situasi demikian, semua orang memiliki preferensi, bias, dan cenderung memilih kelompok tertentu. Kita berkata, ini alamiah karena kita manusia.
Bacaan I hari ini dibagian akhir berkata, Tuhan mengasihi semua, ia tidak punya preferensial pada orang tertentu. Hal ini berarti, Dia mengasihi semua tanpa memandang apakah orang tersebut miskin atau kaya, berpengaruh atau berstatus tinggi. Ia tak membedakan karena ia memberi hujan pada semua orang tanpa pandang bulu.
Allah yang mengasihi semua ini mengajak kita untuk bisa bersikap fair dan bijak saat berhadapan dengan mereka yang tidak kita suka, tidak kita anggap teman, tidak kita sebut saudara.
Bacaan dari Kitab Roma mengatakan bahwa Allah akan mengasihi dan menghukum semua, orang Yahudi dan orang Yunani, tanpa memandang sebelah mata.
Semoga hari ini, kita juga bisa berdoa bagi orang yang jarang kita doakan, tak pernah kita sapa, dan bahkan mendoakan saudara yang kita benci! Ingat Allah memberi hujan dan matahari pada semua, tanpa kecuali.
Renungan Oktober 15
Lukas 11:37-41
The Lord said to him, “Oh you Pharisees!
Although you cleanse the outside of the cup and the dish,
inside you are filled with plunder and evil.
You fools!
Renungan ini dimulai dari kutipan wawancara Paus Fransiscus dengan pemimpin Koran La Repubblica, di Itali. Pendirinya bernama Eugenio Scalfari. Berikut kutipannya dalam bahasa Inggris
Eugenio Scalfari: However, as we said, Jesus told us that love for one’s neighbor is equal to what we have for ourselves. So what many call narcissism is recognized as valid, positive, to the same extent as the other. We’ve talked a lot about this aspect.
Pope Francis: “I don’t like the word narcissism”, the Pope said, “it indicates an excessive love for oneself and this is not good, it can produce serious damage not only to the soul of those affected but also in relationship with others, with the society in which one lives. The real trouble is that those most affected by this – which is actually a kind of mental disorder – are people who have a lot of power. Often bosses are narcissists”.
Eugenio Scalfari: Many church leaders have been.
Pope Francis: “You know what I think about this? Heads of the Church have often been narcissists, flattered and thrilled by their courtiers. The court is the leprosy of the papacy.”
Kata-kata Paus sangat tajam soal kekuasaan yang korup akan membuat orang narsis (mencintai diri terlalu sangat), dan juga menjadi penyakit yang sulit disembuhkan.
Kekuasaan itu bisa berbagai bentuk, tidak hanya dalam soal politik atau status social, tapi orang bisa merasa berkuasa karena merasa lebih banyak memilik pengetahuan, lebih berpengalaman, lebih bisa menafsirkan alkitab, mampu menterjemahkan tanda-tanda zaman.
Kekuasaan dalam bidang agama dan teologi juga menjadi berbahaya karena orang mengatasnamakan Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Oleh karenanya, Yesus mengkritik ahli Taurat yang sungguh terpelajar dalam soal kitab suci. Namun mereka menafsirkan itu hanya untuk mencari keuntungan diri, membebani orang lain dengan nasehat dan aturan saleh, tapi dia sendiri tak mau menjalankannya.
Mari kita lihat dalam diri kita, kekuasaan dan kekuatan apa yang kita miliki? Apakah kita memakainya untuk mencari nama dan meninggikan diri? Ataukan kita memakainya untuk melayani sesame dan Tuhan lebih baik lagi? Kalau kita memakai kekuasaan dan otoritas hanya untuk kebutuhan diri, kita tak beda dengan ahli Taurat yang dikritik Yesus hari ini.