Browsed by
Month: March 2014

makna doa didalam kehidupan

makna doa didalam kehidupan

Yesaya 55:10-11
Matius 6:7-15
praySaudara-saudariku terkasih,
Dua ayat dari kitab Nabi Yesaya hari ini sungguh-sungguh sangat indah, yang dapat menghantar kita untuk lebih mendalami tentang apa dan makna doa didalam kehidupan kita setiap hari. Berbicara tentang doa, Yesaya mengatakan bahwa, …”seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi…demikianlah firmanKu yang keluar dari mulutKu: ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki,” Nabi Yesaya berbicara untuk mengingatkan kaum Yehuda untuk percaya kepada Allah. Kita perlu percaya kepadaNya dan memanggil namaNya, Ia akan menjawab dan seperti yang dikatakanNya bahwa firmanNya yang keluar dari mulutNya tak pernah akan kembali kepadaNya hampa.
Selanjutnya di dalam injil Matius hari ini, Yesus sendiri mengajarkan para muridNya bagaimana seharusnya mereka berdoa. Yesus berkata: “…jika engkau berdoa, …janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata, doanya akan dikabulkan”. Statement ini menjadi salah satu dari pernyataan Yesus juga hari ini untuk kita renungkan. Dengan banyaknya kata-kata memberi kesan memanipulasi Allah untuk segera mengabulkan apa yang kita inginkan. Persembahan-persembahan yang dilengkapi dengan kata-kata magis yang diucapkan menurut peraturannya tidak merupakan suatu cara untuk memuja allah-allah mereka. Tetapi persembahan-persembahan dan banyaknya kata-kata itu dipakai untuk memaksa allah-allahnya mengabulkan apa yang mereka minta. Tetapi cara berdoa yang demikian bukanlah menjadi cara berdoa orang Jahudi pada masa nabi Yesaya ataupun untuk para murid Yesus atau juga tidak menjadi cara berdoa orang Kristen sekarang ini.
Kadangkala kita berpikir bahwa maksud dan tujuan doa adalah untuk bisa memberi kesan kepada Allah, atau untuk memenuhi suatu tuntutan karena wajib ataupun untuk meyakinkan Allah bahwa kita mencintaiNya. Tetapi yang sebenarnya ialah kita tidak perlu terlalu banyak berbicara, tetapi dengan lebih banyak memberi waktu kepada Tuhan berbicara kepada kita, dengan kata lain mendengarkan Tuhan, karena Tuhan mengetahui apa yang kita perlukan dan kita percaya bahwa Tuhan sangat mencintai kita. Pada dasarnya apa yang Tuhan kehendaki dari kita bukanlah kata-kata yang banyak itu atau persembahan-persembahan seperti orang yang tidak mengenal Allah, tetapi sikap hati yang bersih dan setia/patuh. Para nabi dalam Perjanjian Lama, demikian pula para pemazmur dan Yesus sendiri telah menyampaikan kepada kita bahwa Allah lebih mengutamakan kesetiaan dan kepatuhan kita kepada kehendakNya dari pada kata-kata yang muluk/fancy.
Bagian pertama dari doa “Bapa kami” yang kita ucapkan sudah dapat mengungkapkan semuanya. Dalam doa itu kita semua memanggil Allah “Bapa” kita. Suatu pernyataan yang menunjukkan kerendahan hati dan kedekatan kita dengan Tuhan dalam dan karena kasih. Doa itupun dilanjutkan ketika kita mengucapkan sikap kesetiaan dan kepatuhan kita kepada Tuhan dengan mengatakan: “…jadilah kehendakMu diatas bumi seperti di dalam surga.” Kitapun memohon ampun, dan itupun terjadi kalau kitapun bisa mengampuni orang lain. Kita juga berdoa mohon pembebasan dari yang jahat. Saudara-saudari disini kerendahan hati adalah suatu sikap yang kita temukan dalam doa “Bapa kami”, dan sikap doa itulah yang dikehendaki Allah. Oleh karena itu marilah kita berdoa dalam dan dengan sikap yang penuh kerendahan hati. Amin.
Minggu I Masa Puasa

Minggu I Masa Puasa

Mateus 25:31-46

matthew

“…sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mt. 25:40)
Saudara-i sekalian! Dalam dan selama masa Puasa ini kita diberi kesempatan untuk menemui, merasakan kehadiran Tuhan dan membaharui hati kita dari sikap ingat diri ke sikap hati yang dermawan (generosity). Pada kesempatan yang sangat istimewa ini sikap kasih/cinta kita kepada sesama akan dapat dimurnikan apabila kita bersedia melalui renungan-renungan, meditasi, refleksi dan latihan-latihan rohani lainnya ketika  dipertentangkan dengan sikap-sikap kita yang materialist dan ingat diri. Dari semua latihan rohani untuk pembaharuan hidup seperti halnya juga physical exercises dengan  pelbagai macam ragam dan bentuknya, kita juga diingatkan akan tiga bentuk utama latihan rohani yakni doa, puasa dan amal. Dari bacaan injil hari ini kembali kita diingatkan akan salah satu dari tiga bentuk latihan rohani diatas yakni “perbuatan baik”.
Dalam “penghakiman terakhir”, Yesus mengidentifikasikan diriNya dengan orang miskin, orang-orang yang terbuang dan orang-orang yang menderita, yang sakit. Yesus mengangkat tindakan penghakiman itu dalam sebuah perumpamaan. “Apabila anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di ats takhta kemuliaanNya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya. Dan raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh bapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan”.
Yesus mengganjari mereka berdasarkan perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan, karena ketika Aku lapar kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian dan seterusnya. Lalu ketika mereka bertanya kepada Yesus “kapan hal itu terjadi?” Yesus menjawab, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kau telah melakukannya untuk Aku”.
Tetapi untuk mereka yang disebelah kiriNya yang samasekali tidak memberikan perhatian kepada orang-orang kecil dan menderita Yesus mengatakan: “Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”. Inilah tempat bagi mereka yang tidak pernah memberi perhatian kepada mereka yang miskin, yang sakit ataupun mereka yang di dalam penjara.
Singkatnya, saudara-saudariku terkasih. Disebelah manakah kita akan menempatkan diri kita. Apakah saya selama ini dan tidak hanya dalam masa puasa pernah memberikan perhatian kepada yang lapar, yang haus dan yang tidak beruntung? Akankah Yesus mengganjari saya dengan siksaan yang kekal atau dengan kehidupan kekal? Oleh karena itu selama masa puasa ini kita semua diberi kesempatan untuk fokus dalam latihan-latihan rohani melalui tindakan-tindakan konkrit/nyata yang ditawarkan.
Sempurna

Sempurna

coffee1

Bacaan I : Ulangan 26: 16-19
Bacaan Injil : Mateus 5:43-48

Pagi ini saya diajak menikmati Kopi di Bean Drinking, Crows Nest, Sydney. Penasaran juga ingin mencoba kopi di café yang mendapat nilai 8.7 dari 157 Beanhunter website reviewers. Persiapan yang baik sebelum 7 jam turut melipat kertas undangan Pemilu di Konsulat Jendral, pikir saya. Ge teman saya sudah pernah kemari dan dia pesan Expresso. Wow… serius benar. Itu kopi tubruk yah kalau di Indonesia? Iya , katanya. “Saya suka kopi yang pekat”, ujarnya. Saya biasanya pesan latte sambil mengingat sahabat saya Kim Youn Su yang saya tiru saat pertama kali kami bersama ke café di Melbourne, 9 tahun lalu. Kali ini saya tiru Ge. Dua expresso terhidang, dan benar… sambil menutup mata saya cecapi… hmmm… rasanya sedap.

Ardi, apa yang membuat kopi ini enak, tanya Ge. Aku jawab: biji kopinya, suasana cafenya, cara membuatnya…Sambil mengaduk cangkir kecilnya, Ge menyahut: baristanya! Setiap barista akan membuat kopi yang berbeda rasa dengan barista lainnya, meski bahannya sama. Betul juga, kataku. Aku tidak berpikir sejauh itu. Ingatanku melayang pada pengalaman lain. Pernah saya menikmati kopi pagi hari di café lain dekat rumah, dan senang sekali waktu tahu salah satu baristanya orang Indonesia. Anak muda itu baru saja lulus S2 IT dari UNSW. Tetapi dengan mata berbinar-binar dia cerita bercita-cita membuka café karena dia mencintai kopi lebih dari ilmu komputernya!

Pernah seorang sahabat saya dalam bermusik dulu bertanya dengan nada yang sama: mana yang lebin penting, penyanyi atau lagu? Dia jawab sendiri: penyanyi. Kenapa? Karena penyanyi yang hebat akan membuat lagu yang paling sederhana terdengar indah merdu menawan hati. Benar juga. Seorang juru masak yang hebat juga akan membuat makanan lezat dari bahan-bahan sederhana. Dan seseorang dengan kerohanian yang mendalam seperti St Theresa dari Kanak-kanak Yesus, atau Pater Anthony de Mello, akan membuat hal-hal sederhana menjadi begitu indah direnungkan.

Bagaimana itu terjadi? Mungkin salah satu resep rahasia yang sama adalah ini: mereka mengerjakan hal-hal yang mereka cintai, dan mereka lakukan dengan sepenuh hati karena cinta. Sahabat saya dr Wayan bilang dulu: saya suka datang ke paduan suara karena saya suka bernyanyi. Saya suka bernyanyi karena…. Saya mencintai bernyanyi. That’s it. Dan para pecinta itu tidak peduli apakah pembeli kopi, pendengar musik, penikmat masakan, itu orang miskin atau kaya, pandai atau bodoh, baik atau jahat dst. “Kesempurnaan” karya cipta mereka meluap dari hati penuh cinta, bebas dari rekayasa, bebas dari prasangka, bebas dari guna-guna. Murni, jernih, bersih.

Penasaran, saya pesan kopi lagi. Kembali ke selera asal, karena lidah saya belum cukup cerdas, saya pesan latte. Datanglah secangkir kopi dengan busa bermotif daun, seni yang saya sudah coba berkali dari tutorial di youtube, tapi belum berhasil. Saya cecapi perlahan sambil meresapi Sabda yang tiba-tiba terlintas di budi dan hati: Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. Ah, Bapa… benamkan aku dalam cintaMu, biar seperti Sang Putra, aku pun mampu menuliskan kisah hidup penuh kasih yang menyentuh setiap mahluk, tak peduli dia berlaku baik atau buruk padaku. Hanya rahmat dan kasihMu, cukuplah itu.

Translate »