Kasih tanpa batas (Senin, 14 Juni 2021)
2 Kor 6:1-10; Mat 5:38-42
Salah satu tantangan berbuat kasih di jaman sekarang adalah melakukan perbuatan baik kepada siapapun, terutama mereka yang berbuat kesalahan kepada kita. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, ungkapan “mata ganti mata; gigi ganti gigi” (Kel 21:24) menjadi ukuran suatu keadilan sehingga orang berpikir ulang untuk tidak berbuat jahat terhadap orang lain. Itulah ukuran yang diterapkan oleh para hakim dalam mengatur hidup bersama. Sampai sekarang pun sistem memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan jahat masih dpraktekkan, misalnya memberikan hukuman kurungan penjara bahkan hukuman mati. Namun tak jarang pula kita seolah menjadi hakim atas perbuatan jahat dan seolah-olah kita menjadi seseorang yang paling benar di hadapan Allah. Dalam Perjanjian Lama, kita juga menemukan bahwa perlunya menegaskan larangan untuk membalas dendam kepada orang yeng berbuat jahat seperti yang dikatakan dalam Im 19:18, “Jangan engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu” Bagaimana Yesus menanggapi sistem hukum ‘mata ganti mata’ tersebut dan juga larangan untuk tidak melakukan balas dendam?
Yesus memberi kebaruan dalam hidup bersama dengan mengedepankan kasih. Hukum ‘mata ganti mata’ tidak berlaku dalam ajaran Yesus mengenai kasih. Demikian juga tindakan tidak balas dendam belumlah cukup bagi seorang murid Kristus. tetapi Yesus mengajarkan untuk berbuat kebaikan bagi mereka berbuat kejahatan terhadap kita: “..bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu. …dsb” Itulah sikap radikal dari ajaran Yesus tentang kasih tanpa batas. Kita sebagai orang kristiani belajar dan berjuang untuk mencintai seperti Kristus telah mencintai. Kita bukan hanya menghindari tindakan balas dendam tetapi berpikir dan bertindak lebih dari itu, yaitu mengasihi dan mengampuni serta bertindak secara radikal: “…menahan dengan penuh kesabaran segala penderitaan, …sebagai orang nyaris mati, namun tetap hidup; sebagai orang yang dihajar namun tidak mati; sebagai orang yang berduka cita namun senantiasa bersukacita, sebagai orang miskin namun memperkaya banyak orang..” (2 Kor 6:10)
“Allah yang penuh belas kasih, ajarilah kami untuk mengampuni, mengasihi dan berdoa bagi mereka yang bersalah kepada kami”