Menyimak model kehidupan komunitas gereja purba
Bacaan I : Kisah Para Rasul 4:32-37
Bacaan Injil : Yohanes 3:7b-15
Saudara-i sekalian,
Hari ini kita dihadapkan dengan gaya hidup berkomunitas dari anggota umat Allah yang pertama, dari gereja purba. Setiap anggota umat dari gereja purba itu secara sukarela menyerahkan segala harta benda mereka untuk hidup bersama sebagai satu keluarga besar, dibawah kepemimpinan para rasul. Pada awal pembentukan cara hidup bersama ini dikatakan bahwa tidak ada seorangpun yang berkekurangan diantara mereka; “karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” Disini kita bisa melihat betapa besar kesediaan anggota umat Allah yang pertama seperti Barnabas yang menjual segala yang ia miliki dan mengikuti Kristus, segala harta bendanya dia serahkan kepada pemimpin gereja untuk bisa membantu umat lain. Hal ini mengingatkan saya akan para misionaris dari Belanda dan Jerman yang dulu bekerja di Flores, terutama para misionaris yang saya kenal, mereka sungguh-sungguh menyerahkan semua yang mereka peroleh dari negaranya, atau dari keluarganya untuk membantu umat di pedalaman Flores. Saya tahu bahwa P. Frans Cornelisen menyerahkan seluruh wasiat dari orangtuanya untuk membangun sebuah gereja yang cukup megah di paroki darimana saya berasal. Saya yakin bahwa sesama saudara-i juga pernah mengalami dan melihat pengorbanan para misionaris yang pernah kita kenal dan yang bekerja di daerah kita masing-masing.
Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa semua janji dan berkat Tuhan baik yang tidak pernah kita dengar sebelumnya maupun yang telah kita dengar dan kita lakukan, kita lalu menjadi sadar bahwa dalam kehidupan ini kita tak pernah akan bisa sendirian. Kita semua hidup bersama sebagai anggota keluarga anak-anak Allah. Suatu komunitas gereja yang berada dibawah kepemimpinan para rasul, yang telah disatukan dibawah kepemimpinan Petrus dan Petrus sendiri telah dipimpin oleh Kristus.
Saudara-i sekalian,
Untuk percaya penuh kepada Kristus and kepemimpinan gereja bukanlah suatu kepercayaan yang buta…tetapi suatu penyerahan yang total dan dengan kesadaran yang penuh. Kristus berbicara tentang Roh Kudus, napas kehidupan gereja, yang tidak bisa dilihat dengan mata. Tetapi, meskipun kita tidak dapat melihatnya secara langsung, seperti angin, Roh Kudus itu sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan kita. Satu contoh kecil saja: apabila kita mempunyai dorongan perasaan untuk membantu seseorang yang membutuhkan bantuan, itulah tanda kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan kita. Dorongan perasaan itu tidak dapat kita lihat, tetapi semangat/roh kasih dan perhatian itu ada dalam diri kita. Itulah dorongan semangat Roh Kudus.
Sebagai orang Katolik pada zaman modern ini, kita semua dipanggil untuk kembali melihat semangat kehidupan gereja purba. Kita semua dipanggil untuk hidup seperti mereka agar kita masih mempunyai kepekaan kepada kehidupan sesama yang ada disekitar kita yang benar-benar masih harus dibantu. Kita semua dipanggil untuk tidak terlalu melekatkan diri kepada barang-barang duniawi/materi, tetapi selalu memperhatikan sesama disekitar kita. Keikutsertaan kita, atau keterlibatan kita dalam segala kegiatan sosial karitatip, memberi makan kepada orang yang lapar, memberi pakaian kepada yang membutuhkan, bekerjasama dengan segala institusi/lembaga sosial yang ada di wilayah dan lingkungan kita. Semuanya itu adalah model kehidupan gereja purba, gereja pertama pada masa para rasul. Semoga Tuhan akan senantiasa menyertai dan membimbing kita meneruskan misi/karya penyelamatan PuteraNya Yesus Kristus, Amin.