Kegigihan dan keberanian St. Athanasius menginspirasi kehidupan iman kita
Bacaan I : Kisah Para Rasul 5:34-42
Bacaan Injil : Yohanes 6:1-15
Saudara-i sekalian,
“…jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini”.
Inilah teguran peringatan yang diberikan oleh Gamaliel kepada sidang Mahkamah Agama (Sanhedrin) dari bacaan pertama hari ini (Kis.Ras 5:38, 39). Pada saat itu Gereja masih dalam tahap pertumbuhannya. Sangat mungkin baru beberapa minggu setelah peristiwa Pentekosta, mungkin juga baru beberapa bulan, tetapi sudah sangat pasti tidak lebih lama dari itu. Tetapi pengalaman ini merupakan suatu pengalaman yang sangat berarti ketika gereja diinjak-injak, tetapi gereja tak pernah akan dapat dibasmi kalau gereja itu tidak datang dari Allah, kecuali datangnya dari buatan tangan manusia.
Kita percaya bahwa gereja berasal dari Allah karena gereja dibangun dengan dan dari Tubuh Kristus yang sudah dipenuhi dan dibimbing oleh Roh Kudus.
Selama tiga abad, Gereja secara terang-terangan dianiaya oleh para pemimpin dunia ini, namun gereja masih terus bertahan, bertumbuh dan hidup. Ketika penganiayaan itu akhirnya berhenti, dengan adanya pakta Milan pada tahun 313, gereja kelihatannya mendapat kekuatannya kembali. Sementara orang berpendapat bahwa gereja akan bubar dan hancur, kalau gereja menjadi terlalu dekat dan sangat terikat dengan para penguasa. Dan hal itu terjadi pada beberapa uskup dimana mereka bahkan akhirnya memisahkan diri. Tetapi hal itu tidak terjadi pada salah seorang yang akan kita bicarakan hari ini. Ia adalah seseorang yang tetap tegak berdiri demi umat yang dipercayakan kepadanya, ia tidak pernah terpengaruh untuk memisahkan diri, dan bahkan memperjuangkan iman katolik terhadap pelbagai macam tantangan.
Athanasius contra mundum adalah seorang yang dipanggil Athanasius, ia adalah seseorang yang dipenuhi dengan rahmat Allah diberikan kekuatan untuk menghadapi dunia ini. Santu Athanasius, uskup dari Alexandria sejak tahun 328 sampai 373, pernah sampai lima kali dibuang/diasingkan. Pertama kali ia diasingkan oleh Constantinus, seorang kaisar yang mengesahkan kekristenan dan memanggil Sidang Ekumene pertama, dia juga yang menegaskan/menguatkan ajaran tentang Tri Tunggal. Constantinus mempertahankan iman ketika secara politis mengambil jalan yang bijaksana, tetapi ketika situasi politik berubah, ia kembali mempertahankan kekolotan pandangan tentang trinitas dan Athanasius diasingkan/dibuang.
Puteranya, Constantius, juga mengasingkan Athanasius paling kurang dua kali pada dua kesempatan yang berbeda, seperti yang dilakukan para kaisar berikutnya. Tetapi iman Athanasius tak pernah goncang ataupun goyah. Bagaimana hal itu terjadi? Begitu sekali dia menikmati Roti dari surga, ia secara bebas dari hari ke hari memilih untuk memenuhi kelaparannya akan kebutuhan rohani lebih dari pada kebutuhan duniawi.
Oleh karena itu teguran kenabian Gamaliel kepada Dewan Mahkamah Agama, kepada kaum Farisi dan juga kepada para kaisar berikutnya: “kalau itu datangnya dari Allah, kamu tidak akan dapat membinasakannya”.
Athanasius sebagai gembala umat kembali kepada umat yang telah dipercayakan kepadanya, dan ia yang telah ditolak karena imannya sekarang kembali lagi hidup.
Saudara-i sekalian, Yesus Kristus, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar…sehakikat dengan Bapa…Ia yang turun dari surga, roti yang hidup untuk kehidupan dunia dan untuk kita manusia, dengan pengakuan iman itu maka kebutuhan kita untuk kehidupan kekal dipenuhi. Amin.
