Melihat Allah
Kis 13:44-52; Yoh 14:7-14

karya Nyoman Darsane
Di Indonesia sekarang sedang panas-panasnya menjelang Pemilu untuk memilih presiden RI berikutnya. Saya tidak bermaksud untuk kampanye menjagokan satu calon atau yang lain, tapi hanya ingin mengambil contoh untuk membuat lebih jelas bacaan Alkitab hari ini. Contoh itu adalah fenomena Jokowi. Kita masih ingat sewaktu dia masih calon gubernur DKI, banyak orang menyangsikan kemampuannya. Beberapa komentar yang sering terdengar adalah “tampang ndeso” atau “cuma pengusaha furniture”. Tapi kemudian setelah menjadi gubernur banyak orang yang berubah pikiran. Malahan sekarang dia diusung untuk menjadi presiden.
Hari ini Yesus berkata pada muridnya bahwa mereka yang melihat dan mengenal dia berarti telah mengenal Allah Bapa sendiri karena dia dan Bapa adalah satu. Para pengikutnya sulit mengerti ini. Bagaimana mungkin seorang anak tukang kayu bisa menyebut dirinya Putra Allah? Bagaimana mungkin seorang dari desa Galilea, bukan dari Yerusalem yang kota suci dan terpandang, bisa berkata demikian? Lukisan-lukisan Yesus yang kita kenal, termasuk aktor-aktor yang memainkan Yesus di film-film, selalu menampilkan wajah yang tampan, tubuh yang tinggi tegap, pribadi yang berwibawa. Tapi bukan tidak mungkin kalau kebanyakan orang jaman itu yang melihatnya secara langsung pertama-tama mempunyai kesan bahwa Yesus itu cuma orang “ndeso” dari kampung Galilea.
Orang Yahudi di jaman Paulus pun masih sulit percaya bahwa Yesus adalah mesias yang dijanjikan Allah. Mesias adalah raja, yang akan menjungkirbalikkan kekuasaan penjajah Romawi dan membawa Israel ke masa kejayaan. Hidup Yesus jauh dari gambaran mereka tentang seorang raja. Rumah saja dia tidak punya, apalagi harta atau tentara.
Tapi Yesuslah Allah yang menjadi manusia, bukan manusia yang berkuasa seperti raja di bumi, tetapi manusia biasa. Berabad-abad bangsa Israel menyembah Allah yang tidak kelihatan, yang saking mulianya Musa harus menutup matanya ketika Allah lewat di depannya. Tapi sekarang Allah ada di tengah kita. Dia makan dan minum, tertawa dan menangis bersama kita. Dia memandang mata kita dan memanggil kita untuk mengikuti dia. Dia menyentuh tubuh kita untuk menyembuhkan. Inilah misteri iman yang kita sebut Inkarnasi, Allah menjadi daging, menjadi manusia. Dan jika kita bisa melihat dan percaya, maka kita pun akan meneladani apa yang dia lakukan sebagai manusia.
Apakah kita selalu berusaha melakukan apa yang dikerjakan Yesus di dunia? Atau apakah kita ingin meniru gambaran “tuhan” kita dengan mencari kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan?
“Kristus tidak punya tubuh di dunia melainkan kita,
tidak punya tangan melainkan tangan kita.
Mata kita adalah mata darimana kerahiman Kristus di dunia bisa dilihat.
Kaki kita adalah kaki yang Kristus pakai untuk berjalan melakukan kebaikan.
Tangan kita adalah tangan yang dipakai Kristus untuk memberkati dunia.”
(St. Teresa dari Avila)