Selasa, Minggu ke 31 Masa Biasa
4 November 2014
Filipi 2:5-11
Luke 14:15-24
Saudara-saudariku terkasih,
Yesus dalam Injil hari ini mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukanlah Kerajaan penuh dengan kesedihan. Melainkan suatu kerajaan yang bahagia; suatu kerajaan dimana orang selalu merasakan suasana pesta…orang merasa bahagia, tenang dan tentram. Merasa aman dalam perlindungan Allah demikian Mazmur 27 mengatakan: “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” Kita merasa aman karena kita berada dalam perlindungan Tuhan. Mengapa kita merasa berbahagia? Karena Tuhan mengundang kita keperjamuanNya seperti yang kita baca dalam Injil hari ini. Lebih lagi karena Tuhan tidak mengundang orang-orang berada, tetapi orang-orang sederhana ke perjamuanNya: “Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah kemari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh”.
Kutipan Injil diatas sungguh menggembirakan! Lebih lagi, ketika para hamba itu kembali dan menyampaikan bahwa perintah tuan telah dilaksanakan tetapi masih banyak tempat kosong. Berita diatas menginatkan kita akan kata-kata Yesus kepada para muridNya pada Perjamuan Malam terakhir, “Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal.” (Yohanes 14:2). Apakah kita masih perlu mendengar kata-kata penghiburan seperti yang sudah Yesus sampaikan kepada para muridNya? Saudara, Yesus tahu apa yang kita perlukan.
Saudara-saudariku terkasih, saat ini sempat timbul pertanyaan dalam pikiran saya, “Apakah saya sendiri sudah siap menerima undangan Yesus keperjamuan di kerajaanNya?” Perumpamaan Yesus itu memberikan saya suatu kesan “apakah yang akan terjadi kalau saya sendiri tidak/belum siap?” Kalau saya masih terlalu sibuk dengan pekerjaanku sendiri, atau tenggelam dengan kesibukan saya sendiri, masih sibuk mempersiapkan honeymoon karena baru saja menikah. Ternyata tidak mudah juga untuk menjawab undangan Tuhan itu.
Tetapi di dalam bacaan pertama hari ini, dari surat santu Paulus kepada umat di Filipi kita mendapat jawabannya. …“Yesus sendiri telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa serang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”(Filipi 2:7-8) Yesus telah menghampakan diriNya dan menjadi sama dengan kita dalam segala hal kecuali dalam hal dosa. Yesus mengungkapkan kasih Allah kepada kita, meneruskan, menyampaikan undangan ke kerajaan Allah. Dengan ayat-ayat ini kita diberi kemampuan, kekuatan untuk menjawab undanganĀ itu. Santu Paulus mendesak agar kita mau menekukkan lutut kita, dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.
Ssaudara-saudariku sekalian, siapa saja boleh menjawab undangan Yesus ini, tidak peduli akan ras, suku, status maupun umur. Response itu dapat dijawab oleh siapa saja. Tuntutan satu-satunya ialah “kerendahan hati”: kesediaan/kerelaan untuk menekukkan lutut kepada Yesus, mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Kalau hari ini anda ada kesempatan mengikuti perayaan Ekaristi, mungkin anda juga diminta Yesus untuk menjadi forerunner dari perjamuan surgawi, maka dengan rendah hati kitapun akan menjawab undangan Yesus dengan mengatakan “Ya” saya datang. Amin.