Dua Saudara: Yang Manakah Anda?

Dua Saudara: Yang Manakah Anda?

Selasa, 13 Desember 2016

Hari Raya Peringatan Santa Lusia, Perawan dan Martir

Zefanya 3:1-2, 9-13
Mazmur 34
Matius 21:28-32

Kelihatannya Yesus suka memakai cerita tentang dua orang kakak beradik untuk menyampaikan pesan-pesannya. Sama seperti cerita anak yang durhaka, pergi menghabiskan harta ayahnya, tapi kemudian kembali lagi dan dicemburui oleh kakaknya yang merasa selalu lebih suci, dalam Injil hari ini Yesus menceritakan dua orang saudara. Yang satu mengesankan bahwa ia selalu menurut dan mematuhi ayahnya, tapi kemudian tidak pernah benar-benar menjalankan perintahnya. Yang penting kesan pertama atau penampilannya. Di depan ayahnya dan orang lain ia seperti benar-benar anak teladan yang selalu siap berbakti pada orang tua. Anak yang lain, jika dilihat dari luar akan kelihatan seperti pemberontak. Ia tidak pernah secara terang-terangan mengatakan bahwa ia akan menjalankan perintah orang tua. Tapi diam-diam, dalam kehidupannya sehari-hari, ia justru lebih banyak berbuat kebaikan daripada saudaranya yang mengatakan, “Ya!”

Ketika Yesus menceritakan kisah ini, ia menujukannya pada para ahli Taurat dan tokoh-tokoh agama Yahudi. Ia melancarkan kritik bahwa mereka tidak mengindahkan pesan pertobatan Yohanes Pembaptis, tetapi para pelacur dan pemungut cukai justru bertobat. Ini pesan tajam untuk kita yang hidup di jaman ini. Seperti saudara yang pertama dalam cerita Yesus, kita mengatakan, “Ya!” saat dibaptis dan “Ya!” setiap kita pergi ke gereja hari minggu. Tapi sama seperti para ahli Taurat dan pemuka agama itu, kita sering sudah merasa terlalu enak dan nyaman karena kita sudah jadi Katolik dan menyisihkan satu jam tiap hari Minggu untuk misa. Tapi apakah kita sudah benar menjalankan ajaran Yesus di 167 jam lainnya tiap minggu?

Ironisnya, terkadang justru di dalam lingkungan gereja sendiri kita malahan sering bertengkar dan menaruh rasa curiga. Komitmen kita untuk menjadi murid Yesus dan menyebarkan kasih tinggal menjadi janji kosong saja. Hidup menggereja tidak lagi menjadi contoh komunitas yang saling mengasihi dan saling memaafkan, tapi memberi kesan ketidak-rukunan dan perselisihan. Sulit rasanya menjadi pewarta kabar baik jika komunitas kita semacam ini.

Semoga pesan Injil hari ini membuka mata kita untuk keluar dari kenyamanan kita, untuk membuka diri untuk ditantang memperbaiki diri terus menerus. Semoga kita bisa mengenali Yohanes-Yohanes Pembaptis dalam hidup kita, mereka yang mengajak kita untuk bisa melihat segala kekurangan untuk diperbaiki supaya kita bisa menjadi murid Yesus yang lebih baik.

Comments are closed.
Translate ยป