Malam Gelap
Rabu, 14 Desember 2016
Hari Raya Peringatan Santo Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja

Yesaya 45:6C-8, 18, 21C-25
Mazmur 85
Lukas 7:18B-23
“Suatu malam yang gelap,
terbakar oleh kerinduan cinta yang mendesak.
Oh rahmat yang tak terkatakan,
aku keluar tak terlihat,
dari rumahku yang hening.”
Dengan stanza pertama di atas, Santo Yohanes dari Salib, seorang Karmelit dari Spanyol yang hidup di abad XVI, memulai puisinya yang terkenal, “Malam Gelap”. Dalam kegelapan itu, hanya satu yang menerangi jalan menuju Yesus sang kekasih abadi, yaitu kerinduan cinta yang begitu mendalam.
Dalam hidupnya, Yohanes dari Salib pun pernah mengalami “malam gelap” seperti ini. Di saat itu, ia termasuk dalam kelompok Santa Teresa dari Avila yang mencoba untuk memperbarui hidup para Karmelit. Beberapa orang pimpinan dalam komunitasnya tidak setuju akan usaha reformasi Yohanes. Dia dikunci dalam suatu sel di biaranya, dihukum cambuk di depan saudara-saudara Karmelit-nya, dan hanya diberi air dan roti. Ini semua dilakukan oleh orang-orang yang sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri, persaudaraan tempat dia mengabdi dalam ordo Karmel. Di dalam masa gelap itu ia tak kehilangan semangat dan dikuatkan oleh tekadnya untuk mengasihi Yesus lebih dalam lagi.
Dalam Injil hari ini kita berjumpa dengan seorang Yohanes yang juga mendekam di dalam penjara. Yohanes Pembaptis, yang sudah berkoar-koar selama hidupnya akan kedatangan Sang Mesias, sekarang merasa ragu apakah Yesus benar-benar dia yang dijanjikan Allah. Dia mengirimkan muridnya untuk memastikan kepada Yesus. Yesus tidak menjawab secara langsung bahwa dia adalah mesias, tapi menyuruh mereka untuk melihat segala keajaiban yang terjadi karena kuasa Allah.
Kita pun dapat melalui “malam gelap” dalam hidup iman kita, di mana kita seperti dalam sel penjara yang gelap di mana tidak ada harapan atau kebaikan yang terlihat di depan mata. Mungkin saat itu adalah saat kita baru kehilangan seseorang yang sangat kita cintai, atau ketika ditimpa suatu musibah besar, atau saat kita kehilangan pekerjaan atau mengalami kerugian finansial yang luar biasa. Di saat-saat seperti itu dunia serasa dipenuhi kegelapan. Satu-satunya sumber terang yang tidak pernah padam adalah terang Tuhan yang menerangi hati kita untuk terus mengasihi. Kita diingatkan kembali bahwa Tuhan senantiasa berkarya untuk menyelamatkan manusia, dan terkadang kita harus keluar dari rasa egois kita untuk bisa melihat kebaikan-kebaikan yang terjadi pada orang lain. Dengan cara itulah kita bisa selamat berjalan melalui kegelapan menuju Sang Terang.