Melihat tanda-tanda zaman dengan mata iman
Mt 12:38-42: 38
Di dalam Injil hari ini, Matius menampilkan kisah tentang orang-orang Yahudi yang meminta tanda dari Yesus.
Yesus menolak memberi tanda dan hanya memperingatkan mereka akan tanda Yunus, nabi dan utusan Allah bagi orang-orang Niniveh. Orang-orang ini, kendati dianggap jauh dari Allah, namun mereka mendengarkan kotbah Yunus, bertobat dan diselamatkan.
Demikian juga dengan Ratu dari Selatan, yang rela meninggalkan segala kesibukan dan kerajaannya demi mendengarkan kebijaksanaan Allah yang datang melalui nabinya, Salomon, simbol perdamaian yang diberikan Allah kepada bangsanya.
Yesus berkata bahwa yang ada di sini dan bersama mereka bahkan “lebih besar dari Salomo.”
Dalam terang Injil hari ini, kita barangkali bertanya: Tanda-tanda apakah yang sedang terjadi di dalam dunia kita saat ini?
Kita berhadapan dengan kejadian-kejadian tidak biasa. Banyak orang mati karena pandemic virus yang menjangkau seluruh dunia. Banyak orang begitu menderita karena penyakit, karena kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, anak-anak tidak bisa bersekolah, dll.
Tanda-tanda apakah ini yang Tuhan berikan?
Kiranya kita selalu sadar bahwa sebagai orang beriman kita tidak pernah sendirian. Tuhan selalu hadir bersama dengan kita.
Tuhan memberikan kita firman-Nya untuk kita baca dan renungkan, sebagai inspirasi yang menyegarkan dan menguatkan jiwa, kebijaksanaan dan kasih akan Tuhan dan sesama.
Kita juga diberikan sakramen-sakramen, di dalam pembaptisan, pertobatan dan Ekaristi. Kendati saat ini perayaan-perayaan sakramen dibatasi, namun kita harus bersyukur karena masih ada celah dan ruang yang Tuhan berikan kepada kita untuk merayakannya bersama keluarga dengan pelbagai pembatasan dan kehati-kehatian.
Tuhan berjanji akan terus dan selalu menyertai kita, Gereja-Nya, terutama di saat-saat di mana kita tidak berdaya, krisis dan sangat membutuhkan kehadiran dan pertolongan-Nya.
Tanda yang terbesar adalah kebangkitan-Nya sendiri. Seluruh kehadiran-Nya di dalam sejarah. Semua ajaran dan mukjizat dan Roh-Nya. Ia adalah Tuhan yang menderita agar kita hidup. Seperti Nabi Yunus yang tinggal di dalam perut ikan, Tuhan tinggal di dalam perut bumi, menjadi tanda yang menyelamatkan semua yang menderita, namun percaya dan berharap akan kasih dan pengampunan Bapa.
Mari merendahkan dan membuka hati kita bagi kehadiran-Nya, agar bisa mendengarkan firman-Nya, menangkap pesan dan makna-Nya dan menghayatinya dalam hidup dan karya kita.