Dalam Yesus kita bersaudara
Mat 12:46-50
Renungan ini saya beri judul: “Dalam Yesus kita bersaudara.” Kita tentu ingat bahwa lagu ini sangat populer terutama untuk kalangan anak-anak di sekolah minggu. Syairnya sama dan diulang-ulang: “Dalam Yesus kita bersaudara…. sekarang dan selamanya.”
Lagu di atas mengingatkan kita akan bacaan Injil yang kita renungkan hari ini yang pada intinya berbicara tentang persaudaraan sejati: “Siapa pun yang melakukan Kehendak Bapa-Ku di Sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah Ibu-Ku.”
Makna persaudaraan ini melampaui ikatan-ikatan kekeluargaan, ras, budaya dan agama. Kendati demikian, ia sama sekali tidak menghilangkan atau menyangkal setiap keunikan yang melekat pada masing-masing pribadi melainkan diberinya arti baru oleh rahmat Ilahi melalui kesetiaan iman dan kasih yang benar akan Allah.
Kehendak Bapa adalah misteri Ilahi dan abadi yang menjadi makna tertinggi dan pusat pencarian jiwa-jiwa akan kebenaran. Inilah rahasia keselamatan Allah di mana kuasa dan kebijaksanaan-Nya menarik kita untuk masuk ke dalamnya agar sampai kepada kemuliaan dan kesempurnaan Ilahi.
Santu Paulus memanggil Allah sebagai Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang melalui sengsara, salib dan kebangkitan-Nya membuka secara terang-benderang makna keselamatan kita (Kol 1:3). Dan Santu Yohanes menulis: “Tak seorang pun datang kepada Bapa kecuali melalui Aku (14:6). Yesus sendiri berdoa dan berbicara kepada Bapa sebagai wahyu dan kebenaran untuk kita: “Siapa yang melihat Aku melihat Bapa” (Yoh 14:9).
Menjadi sahabat-sahabat Yesus adalah suatu anugerah sekaligus suatu panggilan untuk hidup secara baik dan benar di hadapan Allah. Semakin dekat dan mencintai Yesus bukan berarti bebas dari segala tantangan. Tapi dengan Yesus, tantangan itu pasti bisa dilalui. Semoga panggilan ini sebagai saudara Yesus selalu dijaga dan dirawat agar dapat menghasilkan buah-buah rohani yang baik bagi kerajaan-Nya. Dan semoga persaudaraan itu abadi selamanya. Amen.